Bambang Pojokkan Bupati Klaten

1478
PEMERIKSAAN SAKSI : Sidang pemeriksaan saksi kasus OTT KPK atas terdakwa Suramlan di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEMERIKSAAN SAKSI : Sidang pemeriksaan saksi kasus OTT KPK atas terdakwa Suramlan di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan Bupati Klaten non aktif, Sri Hartini mulai terkuak. Hal itu diketahui setelah agenda pemeriksaan saksi Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Bambang Teguh Setyo atas terdakwa Suramlan di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (19/4).

Dalam kesaksiannya, Bambang memojokkan Bupati Sri Hartini. Ia mengaku bupati meminta ‘uang syukuran’ untuk promosi jabatan dalam Satuan Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang digelar pada akhir tahun 2016. Ia juga mengakui bahwa dirinya dipanggil menghadap bupati di rumah dinas. Pemanggilan itu untuk memberitahu soal pengisian formasi SOTK di beberapa dinas di Klaten.

“Besarannya mulai dari Rp 30 juta untuk Kepala Seksi dan Rp 200 juta sampai Rp 250 juta untuk Kepala Bidang,” kata Bambang di hadapan ketua majelis hakim Antonius Widjantono.

Bambang juga mengungkapkan kalau dirinya langsung memanggil terdakwa Suramlan ke kantornya untuk menginformasikan hal itu. Menurutnya, Suramlan merupakan kandidat yang pas untuk mengisi posisi Kepala Bidang SMP Disdik Klaten. Kepada Suramlan, Bambang meminta uang Rp 200 juta. Dalam pejalanannya, Suramlan hanya mampu menyediakan Rp. 50 juta, sehingga, lanjut Bambang, dirinya mencarikan pinjaman dana.

“Saya minta pinjaman dari saudara Dedi rekanan yang sering ikut proyek pengadaan. Awalnya dipinjami Rp. 50 juta lalu saya minta lagi Rp. 100 juta. Soalnya bupati mibta terus kekurangannya,” sebutnya.

Saksi lain, Kepala Bidang Mutasi pada BKP Klaten, Slamet menjelaskan kalau pihaknya memang menampung uang syukuran untuk Bupati Sri Hartini. Dia menjelaskan besaran uang tersebut mulai dari Rp. 5 juta sampai Rp. 55 juta. Slamet bahkan mengatakan sepengetahuannya, uang syukuran ini telah terjadi sebelumnya. “Saya juga tidak terlalu paham, hanya mengikuti perintah dan saya baru kali ini melakukannya,” katanya..

Sedangkan saksi, ajudan pribadi Sri Hartini, Nina Puspitasari mengatakan kalau dirinya beberapa kali menerima titipan uang dari PNS Klaten. Katanya, uang itu merupakan perintah dari bupati. “Saya cuma menerima kalau bupati tidak berkenan menemui jadi dititipkan ke saya,” ujarnya.

Menanggapi kesaksian para saksi, terdakwa Suramlan membantah kesaksian Bambang. Ia mengaku kalau saat ditawari posisi Kabid SMP, sebenarnya ia sudah mengatakan kalau tidak memiliki uang. Namun saksi Bambang mengatakan nanti bisa diusahakan.

“Setelah itu ya sudah saya ngikut. Saya cuma ada Rp 50 juta saja,” katanya. (jks/zal)

Tinggalkan Komentar: