Anggapan Konco Wingking Mulai Menghilang

1802
BANYAK BERPERAN : Perwakilan ibu-ibu dari Bhayangkari, Persit Kartika, dan Dharma Wanita saat mengikuti Pendidikan Politik Bagi Kaum Perempuan, kemarin. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
BANYAK BERPERAN : Perwakilan ibu-ibu dari Bhayangkari, Persit Kartika, dan Dharma Wanita saat mengikuti Pendidikan Politik Bagi Kaum Perempuan, kemarin. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Anggapan perempuan hanya sebagai ‘konco wingking’, kini berangsur menghilang di Kabupaten Batang. Terbukti, kaum perempuan sudah banyak yang menjadi pemimpin dan wakil rakyat.

“Kaum perempuan di Kabupaten Batang sudah banyak memiliki peran penting. Di bidang politik saja kini ada 9 perempuan dari 45 anggota dewan. Dan yang menjabat di puncak pimpinan organisasi Perangkat Daerah atau eksekutif ada 6 perempuan dan jabatan itu sangat strategis,” kata Kepala Kesbangpol Kabupaten Batang Agung Wisnu Barata, pada kegiatan Pendidikan Politik Bagi Kaum Perempuan yang berlangsung di Gedung Pramuka, Rabu (19/4).

Dengan fakta tersebut, menunjukkan kaum perempuan kini memiliki kekuatan. Namun yang menjadi ganjalan, sekarang dalam politik, budaya perempuan hanya di bagian belakang atau ‘konco wingking’ masih menjadi pedoman di beberapa daerah.

“Kami harapkan budaya perempuan sebagai konco wingking itu dapat dihilangkan. Karena terbukti perempuan sejajar memiliki hak yang sama dan tempat strategis dalam perpolitikan, maupun sehari-hari,” harapnya.

Dalam acara kemarin, turut menjadi peserta adalah perwakilan dari Bhayangkari istri anggota polisi, Persit Kartika istri TNI, Dharma Wanita, dan perwakilan organisasi perempuan.

Diungkapkan narasumber lain, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Tazaka KH Anang Rikza Masyhad. Menurutnya kaum perempuan memiliki peran dalam sejarah kemanusiaan, dari posisi di tengah sampai memiliki peran penting.

“Peran perempuan dalam sejarah meliputi peran kebaikan, peran kejahatan, peran menjadi orang besar, peran menjadi pendamping orang besar, sampai tentu saja melahirkan orang besar,” ucap Anang Riska Mashadi.

Direktur Kajian Pancasila dan Demokrasi Unnes, Arif Hidayat mengatakan, dunia politik sering mengabaikan kebutuhan dan aspirasi perempuan yang dianggap wilayah privat. “Perempuan berpolitik justru sangat bermanfaat, karena bisa membawa isu perempuan dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas bagi masyarakat,” jelasnya. (han/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here