AMURT Indonesia Kampanye Orang Tua Bacakan Buku Cerita Anak

Awalnya Dipaksa Anak, Sekarang Menikmati

607
MENDONGENG: Salah satu guru TK PGRI 118 Genuksari, Indria Fajar Rini, ketika membacakan dongeng di hadapan anak didiknya. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENDONGENG: Salah satu guru TK PGRI 118 Genuksari, Indria Fajar Rini, ketika membacakan dongeng di hadapan anak didiknya. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Budaya baca di kalangan anak-anak boleh dibilang sangat rendah. Mereka lebih memilih bermain gadget ketimbang membaca buku cerita. Melihat fenomena itu, Ananda Marga Universal Relief Team (AMURT) Indonesia menggalakkan program keterlibatan langsung orang tua dalam pendidikan anak melalui reading program. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

DI era modern, membaca buku seolah sudah menjadi kegiatan usang. Pemanfaatan internet banyak dipilih untuk menuntaskan dahaga informasi. Budaya membeli buku pun kalah dengan mengunduh e-book atau buku digital. Sayangnya, menelan informasi lewat gadget sering disalahartikan orang, terutama kalangan anak-anak. Melihat orang tua mereka selalu sibuk dengan gadget, entah itu sedang membaca buku digital atau chatting-an, anak yang pada dasarnya peniru ulung, langsung ikut-ikutan. Jadi, hobi mengoperasikan gadget, tapi untuk main game bukan membaca.

Karena itu, AMURT sebagai salah satu lembaga pendidikan yang fokus memperhatikan pendidikan anak usia dini, menggalakkan program keterlibatan langsung orang tua dalam pendidikan anak lewat reading program. Yakni, mendorong ayah atau ibu membacakan cerita dari buku kepada anak-anak mereka yang masih duduk di bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK).

Setiap murid PAUD dan TK yang dibina AMURT dipinjami dua buku cerita untuk diserahkan kepada orang tua mereka. Nantinya, sang anak meminta orang tua mereka membacakan dua buku tersebut. Targetnya, dalam satu minggu harus selesai dibacakan semua. Di minggu berikutnya, si anak harus bertukar buku dengan teman-temannya.

Dengan cara itu, diharapkan anak-anak bisa menanamkan budaya baca. Selain itu, mereka juga bisa lebih dekat dengan orang tua masing-masing, karena setiap hari ada interaksi sembari dibacakan buku dongeng bergambar.

Kepala Divisi Pengembangan Masyarakat AMURT Indonesia, Julian Puthut Nugrahanto menjelaskan, reading program sudah digelar sejak 2015 silam. Hingga saat ini, terhitung sudah ada 48 PAUD dan TK yang dibinanya di Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Lembaga pendidikan anak tersebut pun dinilai sudah mendapat manfaat dari reading program.

”Ribuan buku cerita dari berbagai penerbit sudah kami bagikan ke seluruh PAUD dan TK yang kami bina,” ucapnya ketika mengunjungi TK PGRI 118 Genuksari, Kecamatan Genuk Semarang, beberapa waktu lalu.

Di TK itu, guru juga membacakan buku dongeng untuk murid saat jam belajar. Tampak salah satu guru, Indria Fajar Rini membacakan fabel. Dia membukakan halaman demi halaman buku bergambar hewan sambil berinteraksi dengan anak-anak. ”Adik-adik. Ini gambar apa? Hayo siapa yang tahu?” tanyanya yang langsung dijawab serantak oleh belasan anak di hadapannya.

Bunda Rini –begitu dia akrab dipanggil— lantas membacakan cerita tentang Macan Tutul dan Harimau yang menjadi raja di sebuah hutan. Sambil membolak-balik halaman buku, dia mendongengkan secara interaktif. Anak-anak riang sekali menyimak ceritanya. Mata mereka tak berkedip dan semuanya seksama memperhatikan gambar yang ditunjukkan sang guru yang bercerita secara jenaka.

Pengakuan atas manfaat reading program disampaikan Siti Maimunah, ibunda Muhamad Atiq Nailussurur, salah satu anak TK PGRI 118. Dia dan suaminya merasa gembira melihat Atiq, anak keduanya, tampak rajin belajar dan gemar menggambar setelah mengikuti reading program.

Awalnya, Siti mengaku sulit memenuhi permintaan sang anak. Kesibukannya mengurus rumah dan mengantar jemput anak pertamanya yang sekolah di SD swasta cukup jauh dari rumahnya, membuatnya tak cukup waktu untuk mendongeng. Tapi, karena dipaksa sang anak, akhirnya luluh juga.

”Anak saya terus merengek minta dibacakan cerita. Dua buku disodorkan, katanya disuruh  bu guru harus dibacakan oleh ayah atau ibu. Awalnya, saya menuruti karena terpaksa. Eh, sekarang malah menikmatinya,” terangnya.

Dijelaskan, dari interaksi membacakan cerita itu, hubungan orang tua dengan anak menjadi semakin dekat. Anaknya jadi jauh dari televisi maupun gadget. Meski belum bisa membaca, lanjutnya, tetapi Atiq bisa mengucapkan kata-kata sesuai imajinasi setiap membuka lembaran buku cerita. ”Memang ucapannya masih belum jelas dan sulit dipahami, tapi terlihat menikmati bacaan itu seolah sudah pandai bercerita,” katanya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here