DIKUKUHKAN: Prof DR Imam Taufiq MAg bersama anggota senat UIN Walisongo Semarang saat pengukuhannya sebagai guru besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUH), di Aula Kampus 3, Selasa (18/4) kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKUKUHKAN: Prof DR Imam Taufiq MAg bersama anggota senat UIN Walisongo Semarang saat pengukuhannya sebagai guru besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUH), di Aula Kampus 3, Selasa (18/4) kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ketegangan yang memicu konflik atas nama agama di tengah masyarakat, lebih banyak disebabkan karena penafsiran Alquran secara tekstual dan menafikan kontekstual ayat saat diturunkan. Padahal, untuk bisa memahami Alquran secara kaffah atau sempurna, harus memahami sebab-sebab diturunkannya ayat tersebut. Hasilnya, Alquran justru mengajarkan cinta kasih, keadilan, dan kasih sayang kepada seluruh umat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Prof Dr H Imam Taufiq M.Ag dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar Fakultas Ushulidin dan Humaniora (FUH) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang ke-18, di hadapan sidang senat di Aula II Kampus 3 UIN Walisongo, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, Semarang, Selasa (18/4) kemarin. Prof Imam mengambil tema Al-Quran dan Perdamaian Profetik dalam Bingkai Kebhinekaan (Pembacaan Tafsir Maqasidi).

”Untuk menunjukkan bagaimana pentingnya membangun masyarakat di tengah potensi-potensi ketegangan konflik dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak harmonis. Maka saya mengajak melihat peran Alquran dalam merespons konflik dengan penafsiran secara Maqasidi (tujuan utama),” kata Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang ini.

Prof Imam menegaskan penelitiannya kali ini tak terkait dengan kepentingan politik. Hanya berusaha mengingatkan semua pihak untuk kembali menafsirkan ayat-ayat Alquran secara tepat. ”Coba kita bayangkan, kalau kita membaca teks Alquran dengan mengedepankan maksud dan tujuan, maka akan merasa nyaman dan tidak ada kepentingan,” kupasnya.

Dosen Ilmu Tafsir ini mengingatkan kembali, tidak tepat bila membaca dan mengartikan Alquran secara tekstual. Harus melihat konteks sosial, bagaimana tujuan ketika ayat Alquran tersebut diturunkan. ”Salah satu kegalauan saya, bila Alquran digunakan untuk kepentingan tertentu. Memahami Alquran harus melihat setting sosialnya mengapa ayat itu diturunkan. Kalau sudah melihat kenapa ayat itu turun, kita bisa mengerti makna proporsionalnya,” tegasnya.

Saat ini, kata Prof Imam Taufiq, banyak yang menafsirkan Alquran secara sepihak. Sehingga Alquran dimaknai salah kaprah dan digunakan sebagai dasar untuk menghujat antar sesama. Hal tersebut sangat menyesatkan dan dapat merusak makna, karena mereka menafsirkan tidak memakai ilmu. ”Tugas kita menjaga Alquran agar tidak dipolitisasi. Mengedepankan Alquran yang rahmatal lil alamin bukan menjadi patokan untuk menakut-nakuti pihak tertentu,” ulasnya.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo, Prof DR Muhibbin MA menambahkan bahwa hampir semua orang ingin menafsirkan sendiri Alquran. Padahal belum memadai dan belum memiliki ilmu yang dipersyaratkan. ”Fatalnya, Alquran ditafsirkan untuk kepentingan yang keliru, akibatnya meresahkan masyarakat. Konflik-konflik muncul karena pemahaman yang dangkal,” katanya.

Penggunaan Tafsir Maqasidi, kata Muhibbin, sudah tepat untuk tujuan syariat. Tafsir akan semakin bermanfaat, untuk keadilan bersama. Tafsir yang benar mendukung kehidupan lebih bermanfaat, karena tidak ada perbedaan dengan Pancasila dan Kebinekaan.

Dalam pengukuhan guru besar ini, dilakukan pembagian bibit tanaman buah dan bunga sebanyak 300-an bibit. ”Ini sebagai hadiah kepada para tamu undangan yang hadir, agar turut memakmurkan bumi dengan menanam tanaman yang bermanfaat,” tambah istri Prof Imam Taufi, Arikhah. (mg30/ida/ce1)