Suluh Pelajar Satu Atap di Lereng Slamet

2522
BELAJAR DITEMANI SENTIR: Seorang bocah SD warga Trajumas yang bersekolah di Sekolah Satu Atap Bodas, Kandangserang, tengah serius belajar di rumahnya ditemani sentir sebagai alat penerang. Penerangan dengan sentir dilakukan warga karena desa terpencil di lereng Gunung Slamet itu, hingga sekarang belum terjamah aliran listrik PLN. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)
BELAJAR DITEMANI SENTIR: Seorang bocah SD warga Trajumas yang bersekolah di Sekolah Satu Atap Bodas, Kandangserang, tengah serius belajar di rumahnya ditemani sentir sebagai alat penerang. Penerangan dengan sentir dilakukan warga karena desa terpencil di lereng Gunung Slamet itu, hingga sekarang belum terjamah aliran listrik PLN. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)

Akses pendidikan yang meluas, merata, dan berkeadilan, belum sepenuhnya dirasakan oleh warga di sejumlah desa di Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Berada di wilayah terpencil di lereng Gunung Slamet, siswa-siswi SMP Satu Atap Bodas, Kandangserang, harus berjalan kaki puluhan kilometer menyusuri jalan makadam untuk menuju ke sekolah. Para pelajar itu musti melintasi jalan terjal berbatu yang kanan-kirinya hutan belantara, dengan suluh atau obor sebagai penerang jalan.

LONGSOR di Dukuh Pringamba, Desa Klesem, Kecamatan Kadangserang, pada Februari 2017 silam, tidak akan pernah dilupakan oleh Anita, 13, siswi SMP Satu Atap Bodas. Bencana yang tiba-tiba datang menderu ketika hujan deras mengguyur wilayah Klesem, menyebabkan sebagian rumahnya tertimbun longsor. Beruntung, Anita dan keluarganya selamat. Saat longsor terjadi, ia, ayah, ibu, dan adiknya, tengah bercengkerama di teras rumah sederhananya, menanti kumandang azan Ashar.

Longsor menyebabkan sedikitnya 33 rumah mengalami rusak ringan, sedang, dan berat. Dusun ini berada di pedukuhan terpencil. Lokasinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga. Kontur tanahnya labil. Akses jalan menuju dukuh sangat sulit. Beberapa ruas jalan dusun terputus, karena tanahnya bergerak.

Yang membuat miris, bencana tersebut memaksa Anita dan puluhan pelajar SMP Satu Atap Bodas lainnya, harus berjuang menembus gelapnya desa agar sampai ke sekolah tepat waktu, pukul 07.30. Anita dan teman-teman SMP-nya terpaksa memutari bukit, dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer menuju ke sekolah. “Sejak jalan putus, kami harus berangkat sekolah pukul 04.30 pagi, agar bisa sampai sekolah jam 07.30,” tutur Anita.

Kondisi jalan desa yang gelap gulita, membuat Anita dan kawan-kawannya membawa suluh atau obor sebagai penerang jalan. Mereka tidak sendiri. Tapi berkelompok. Sebagian diantar orang tua, bahkan perangkat desa. Bagi yang punya sepeda motor, bisa berangkat lebih “siang” pukul 06.00. Menurut Anita, sebelum ada jalan yang terputus sejauh tiga kilometer, waktu tempuh ke sekolah cuma satu jam. “Sekarang jadi tiga jam. Mergo kuwi (karena itu), kami berangkat harus lebih awal, agar tidak terlambat sekolah,” ucap siswi kelas 8 itu.

Kondisi lebih memprihatinkan juga dialami siswa-siswi SMP Satu Atap Bodas dari Desa Trajumas. Desa ini masih gelap-gulita. Suplai listrik PLN belum menyentuh dusun terpencil itu. Warga yang mampu, mengandalkan genset sebagai tenaga penyuplai lampu penerang. Sedangkan yang berekonomi pas-pasan, hanya mengandalkan sentir atau petromak. Jika malam hari, Trajumas mirip desa mati yang tidak pernah tersentuh pembangunan.

Agus, 14, pelajar SMP Satu Atap Bodas asal Trajumas merasakan getirnya beraktivitas di dalam rumah tanpa aliran listrik. Tiap malam, ia mengandalkan sentir untuk meneranginya saat belajar. Saking seriusnya belajar hingga berjam-jam, wajahnya kerap cemong karena sapuan asap sentir. “Biasa mawon, sampun pendak dinten cemonge (biasa saja, sudah tiap hari wajahnya kotor akibat asap sentir),” ucap siswa kelas 9 itu yang tengah mempersiapkan ujian nasional.

Kegigihan Agus juga ditunjukkan ketika berangkat sekolah. Bangun saat azan Subuh berkumandang. Setelah salat dan mandi, ia harus bergegas ke sekolah dengan berjalan kaki. Menempuh jarak 9 kilometer menuju sekolah. Kabut pekat membuat kondisi desa masih temaram. Untuk itu, Agus harus ekstra hati-hati menyusuri jalan makadam yang terjal, berkelok, dengan kanan kiri jurang menganga cukup dalam. Kali ini, Agus menggunakan senter sebagai sumber pencahayaan untuk menerangi jalan yang sangat tidak bersahabat. “Kadang nggih ngangge obor. Nanging saniki repot, mending ngangge senter, luwih praktis (kadang ya pakai obor. Tapi sekarang repot, karena itu lebih baik pakai senter, lebih praktis,” katanya.

Agus mengaku tidak ada masalah dengan sekolahnya. Yang ia inginkan hanya tiga. Pertama, desanya cepat dialiri listrik. “Kaping pingdo, nggih nyuwun dalan desa diaspal. Supados enak kangge mlampah, numpak pit motor nggih mboten bahaya (yang kedua, minta jalan desa diaspal biar enak dipakai untuk jalan kaki dan tidak bahaya jika mengendarai motor,” tuturnya. Nah, yang ketiga, Agus minta dibangun SMA atau SMK negeri di Kandangserang

Agus mengaku bingung jika nanti lulus sekolah. Sebab, di kecamatannya belum ada SMA atau SMK. Padahal, ia ingin tetap di Kandangserang, untuk melanjutkan SMA-nya. Selama ini, warga yang lulus SMP dan ingin melanjutkan ke SMA, terpaksa “turun gunung” ke Kajen, kecamatan terdekat Kandangserang. Jarak Kandangserang dengan Kajen sejauh 30 Km. Jika dihitung dari rumah Agus, maka lebih jauh lagi, sekitar 40-an Km.

“Bagi warga yang ekonominya mampu, biasanya lanjut ke SMA atau SMK di Kajen dan tinggal di rumah saudaranya atau kos di sana,” kata Achmad Hidayat, warga Kabupaten Pekalongan yang punya perhatian khusus dengan pendidikan di kawasan atas Kabupaten Pekalongan. Kawasan atas merupakan wilayah di Kabupaten Pekalongan yang berada di lereng maupun perbukitan Gunung Slamet. Selama ini memang terjadi ketimpangan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah kawasan atas Kabupaten Pekalongan dengan kawasan bawah. Salah satunya, di Kecamatan Kandangserang.

JALAN MAKADAM: Jalan makadam di Kandangserang yang terjal, berbatu, sulit dilalui kendaraan. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)
JALAN MAKADAM: Jalan makadam di Kandangserang yang terjal, berbatu, sulit dilalui kendaraan. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)

Kandangserang terdiri atas Desa Klesem, Bodas, Gembong, Sukoharjo, Garungwiyoro, Bubak, dan Bojongkoneng. Lainnya, Desa Luragung, Desa Kandangserang, Wangkelang, Lambur, Tajur, Karanggondang, dan Desa Trajumas. Khusus Trajumas hanya salah satu dari sekian desa yang belum dialiri listrik. Adapun tingkat pendidikan warga, belum tamat SD sebanyak 14.352 orang, tamat SD/sederajat (13.180), tamat SLTP/sederajat (1.400), tamat SLTA/sederajat (454), dan tamat akademi/PT (189). Kandangserang berada di pegunungan pada ketinggian antara 428 m sampai 1.075 meter dari permukaan air laut. Struktur tanahnya bertrap/perbukitan, dengan kemiringan 5-60 derajat.

REPRESENTATIF: Bangunan SMP Satu Atap Bodas, Kandangserang, berdiri di perbukitan lereng Gunung Slamet. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)
REPRESENTATIF: Bangunan SMP Satu Atap Bodas, Kandangserang, berdiri di perbukitan lereng Gunung Slamet. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)

Kepala SMA Satu Atap Bodas, Sigit Pramudya, S.Pd, mengatakan, selama ini prestasi anak didiknya cukup baik. Ketika ujian nasional (unas), tingkat kelulusan mencapai 100 persen, meski pelaksanaan unas masih menginduk di SMPN 2 Kandangserang. Padahal, jarak antara SMP Satu Atap Bodas dengan SMPN 2 cukup jauh. Selama ini saja, jarak antara rumah para pelajar dengan SMP Satu Atap Bodas, sudah cukup jauh. Nah, dengan menginduk unas, maka lebih jauh lagi. Kira-kira jarak antara SMP Satu Atap Bodas dan SMPN 2 Kandangserang 10 Km. Artinya, rata-rata dari rumah siswa ke SMP Negeri 2 Kandangserang sejauh 20-25 km.

Maka, agar tidak terlambat, siswa-siswi berangkat bareng dengan jalan kaki. Ada juga yang diantar orang tua dengan motor. Bagi yang jalan kaki, diantar orangtua, bahkan perangkat desa. Sembari membawa obor sebagai penerang jalan, mereka sudah harus keluar pada pagi buta, pukul 03.30. Perjalanan ditempuh selama 3,5 jam. Tepat pukul 07.00, mereka sampai di lokasi ujian. “Cukup berat, tapi itulah perjuangan siswa-siswi SMP Satu Atap Bodas untuk menjemput masa depan mereka,” kata Achmad Hidayat, aktivis LSM, sekaligus pemerhati pendidikan di Kabupaten Pekalongan.

TINJAU SMP SATU ATAP: Bupati Pekalongan Asif Kholbihi (depan tengah) meninjau SMP Satu Atap Bodas, Kandangserang, pascabencana longsor di Desa Klesem. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)
TINJAU SMP SATU ATAP: Bupati Pekalongan Asif Kholbihi (depan tengah) meninjau SMP Satu Atap Bodas, Kandangserang, pascabencana longsor di Desa Klesem. (TAUFIK HIDAYAT/RADARSEMARANG.COM)

Ketika mengunjungi SMP Satu Atap Bodas pascabencana Februari 2016 lalu, Bupati Asif Kholbihi menyampaikan, pendidikan merupakan salah satu ikhtiar untuk meraih sukses. Asif mengingatkan hal itu, karena di wilayah Kandangserang, jumlah pelajar putus sekolah maupun tidak meneruskan ke jenjang menengah, cukup tinggi. Diduga hal ini terjadi karena letak sekolah menengahnya sangat jauh.

Untuk itu, lanjut bupati, peningkatan akses pada layanan pendidikan akan ditempuh melalui beragam upaya. Di antaranya, melalui perbaikan dan penyediaan infrastruktur fisik ruang kelas dan gedung sekolah. Pemkab bahkan berencana meningkatkan status SMA Satu Atap Bodas menjadi SMPN 3 Kandangserang. Untuk itu, akan dibangun gedung sekolah yang refresentatif di wilayah tersebut.

Selain itu, juga tengah digagas pendirian SMA atau SMA. “Paling tidak dibangun sekolah Kejar Paket C atau sejenisnya, untuk mengatasi tingginya pelajar tidak melanjutkan ke SMA/SMK.” Sejalan dengan perbaikan infrastruktur fisik, melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), Pemkab juga berupaya meningkatkan partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Anak-anak dari keluarga miskin dan rentan miskin, telah mendapatkan bantuan pendidikan agar dapat terus belajar melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Sebanyak 19.907 KIP sudah dibagikan untuk pelajar yang berhak se-Kabupaten Pekalongan

Peningkatan kualitas layanan pendidikan di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian atas–salah satunya Kandangserang— juga dilakukan dengan menempatkan guru-guru berprestasi dari wilayah bawah ke wilayah atas. Nantinya, guru-guru terpilih terbaik akan mendapatkan insentif memadai. Upaya lain, standarisasi mutu pendidikan yang jelas, evaluasi rutin terhadap guru, serta pemberian sanksi dan penghargaan. Pemkab juga akan menganggarkan dana Rp 6 miliar pada tahun anggaran 2018 untuk perbaikan infrastruktur. Upaya ini untuk mendukung kemudahan akses pelajar dalam berkegiatan sekolah. (taufik hidayat/isk)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here