DIMINTAI KONFIRMASI : Kepala Ispektorat Kabupaten Batang, Lani Dwi Rejeki saat dimintai keterangan di kantornya, terkait anak buahnya yang terlibat korupsi. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
DIMINTAI KONFIRMASI : Kepala Ispektorat Kabupaten Batang, Lani Dwi Rejeki saat dimintai keterangan di kantornya, terkait anak buahnya yang terlibat korupsi. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Salah satu tersangka pelaku korupsi di Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan (PD BPR BKK) yang ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pekalongan, Diaz Hanoko Sambodo, terancam dipecat dari jabatannya. Pasalnya, status Diaz adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang.

Plt Bupati Batang, Nasikhin membenarkan kabar tersebut. Bahwa yang bersangkutan, Diaz merupakan pegawai di Inspektorat Kabupaten Batang, sebagai salah satu staff di bagian auditor.

“Saya kebetulan baru mengetahui kabar tersebut hari ini. Jika memang benar, Diaz pegawai kami,” ucap Nasikhin, saat ditemui di kantornya, Senin (17/4) kemarin.

Dijelaskan lebih lanjut, terduga pelaku masuk menjadi PNS di Pemkab Batang tahun 2014 melalui proses ujian pada umumnya, tanpa intervensi dari Pemkab.

“Diaz jadi PNS melalui ujian resmi. Saat itu, sudah dengan sistem CAT (Computer Asissted Test), yang transparan. Dari proses penjaringan dan semua kelengkapan sesuai standar,” jelasnya.

Sehingga jika yang bersangkutan menjadi tersangka kasus korupsi, bukan ramah mereka. Karena kejadiannya, saat masih di lembaga lain. Selain itu, saat penjaringan PNS juga melampirkan SKCK dari kepolisian.

Atas kejadian tersebut, pihaknya akan segera klarifikasi ke Kejari Kota Pekalongan. Juga meminta surat pemahaman resmi yang bersangkutan. Terkait untuk pengurusan surat, pemberhentian sementara sebagai PNS di Kabupaten Batang.

“Terkait nasibnya nanti, masih menunggu hasil dari pengadilan. Jika memang terbukti dan jelas perkaranya, akan dipertimbangkan hukumnya. Dengan ancaman dipecat, baik secara hormat maupun tidak hormat,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Ispektorat Kabupaten Batang Lani Dwi Wijaya membenarkan keterangan tersebut. Pihaknya akan segera melakukan klarifikasi kepada Kejari Kota Pekalongan.

“Kami segera ke Kejari Kota Pekalongan, minta penjelasan secara detail terkait kasus ini. Yang kebetulan juga anak buah kami, sehingga akan ada keputusan terkait nasibnya sementara,” ujarnya di Kantor Ispektorat Kabupaten Batang, Senin (17/4).

Sebelumnya, Kasi Intel Kejari Kota Pekalongan, Suherman mengungkapkan bahwa tersangka atas nama Diaz Hanoko, sewaktu menjabat Kepala Sub Bagian Kredit di PD BPR BKK Pekalongan Barat belum menjadi PNS, namun saat dilakukan penuntutan yang bersangkutan sudah berstatus PNS.

Diaz Hanoko Sambada dan Agus Doso Mulyono selaku Direktur PD BPR BKK Pekalongan Barat, kata Suherman, saat ini dititipkan di Lapas Kedungpane Semarang. “Yang bersangkutan sekarang menunggu proses peradilan tipikor di Semarang, sebab berkas perkara sudah P 16A dan tim Jaksa Penuntut Umum sudah menyiapkan administrasi pelimpahan berkas perkara ke pengadilan,” papar Suherman.

Kedua pelaku tindak pidana korupsi tersebut, kata Suherman, akan dijerat dengan Pasal 2 ayat 1, Junto Pasal 18 undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Yang mana ancaman hukumanya di atas 4 tahun penjara,” ucap Suherman.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua pejabat PD BPR BKK Pekalongan Timur Diaz Hanoko Sambada selaku kepala sub bagian kredit dan Agus Doso Mulyono sebagai direktur telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh Kejari Kota Pekalongan.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah terbukti bersekongkol melakukan korupsi dengan modus pengajuan kredit nasabah secara kolektif dengan dokumen fiktif. Akibat dari perbuatan kedua tersangka, Pemkot Pekalongan sebagai pemilik kekayaan aset dari PD BPR BKK Pekalongan Barat dirugikan sebesar Rp 355.999.900. (han/ida)