Bupati Minta Usut Tuntas Kasus Teror Gereja

1645

UNGARAN – Bupati Semarang Mundjirin meminta pihak kepolisian mengungkap tuntas aksi teror bom Molotov di Gereja Santo Yusuf Ambarawa, beberapa waktu lalu. Sementara terkait pelaku teror, muncul dugaan jika orang gila tersebut hanya sebagai perantara.

Bupati Semarang, Mundjirin juga tidak percaya apabila pelaku peledakan bom adalah orang gila tersebut. “Mosok orang gila bisa bikin bom, molotof seperti itu,” ujar Mundjirin, Senin (17/4).

Karenanya, Mundjirin berharap polisi mampu mengungkap tuntas aksi teror tersebut. Apalagi dalam waktu dekat merupakan momentum Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, yang rentan dengan aksi teror maupun gangguan kamtibmas lain.

“Sekecil apapun itu kita harus waspada. Ada Babinkamtibmas, Babinsa, RT, RT lurah harus selalu waspada. Jika ada orang tak dikenal, asing yang datang ke wilayahnya, segera dilaporkan,” ujarnya singkat.

Sementara itu, pihak kepolisian hingga kini masih mendalami adanya kemungkinan jaringan teroris yang memanfaatkan orang gila sebagai pelaku teror. Pendalaman dilakukan lantaran Gofarodin, 37, pemuda yang diindikasikan mengalami gangguan jiwa mampu membuat bom molotov guna meneror di gereja itu.

“Kami belum tahu apakah ada ke arah itu karena masih kami dalami. Yang bersangkutan sendiri (Gofarudin) masih dalam proses observasi dokter kejiwaan di Kota Semarang,” ujar Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Hartono.

Menurut Hartono, penyelidikan sementara belum mengarah adanya keterlibatan orang lain dalam aksi teror bom Gereja Jago, Kamis (13/4) lalu. Dikatakannya, hasil rekaman CCTV maupun keterangan saksi di seputar lokasi kejadian belum mengindikasikan adanya orang yang membantu Gofarodin.

“Dia terpantau sendiri dan tidak ada saksi yang menguatkan dia bersama orang lain,” katanya. Apalagi hingga kini polisi masih kesulitan dalam mengorek keterangan dari Gofarodin.

Dikarenakan yang bersangkutan masih lebih banyak diam. “Kalaupun menjawab, bilang tidak tahu dan ucapannya sering melantur,” katanya.

Dijelaskannya, kondisi kejiwaan Gofarodin belum memungkinkan polisi mendapat petunjuk dari mana dia mampu membuat molotov ataupun siapa yang mengajari.

“Kami belum tahu soal itu. Pengakuan kakaknya memang menyebutkan dua hari sebelumnya dia pergi. Masih kami telusuri pergi kemana dan dengan siapa saat itu,” ujarnya. Pihaknya juga masih melakukan koordinasi dengan Densus 88/Anti Teror.

Guna mendapat gambaran ada tidaknya kesamaan modus, memanfaatkan orang gila, di aksi teror wilayah lain. pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Tuban. “Informasi yang kami dapat, orang gila yang tertangkap itu bukan di dalamnya (kelompok teroris), dia memang gila, tidak terlibat,” ujarnya. (ewb/zal)