ILEGAL: Arena judi sabung ayam di tengah Pasar Banjardowo, Genuk. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ILEGAL: Arena judi sabung ayam di tengah Pasar Banjardowo, Genuk. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pasar Banjardowo,  Genuk, Semarang yang dikelola investor PT Pratama Sarana Mandiri, sudah hampir 11 tahun mangkrak. Dari 241 kios dan 240 los, hanya sebagian kecil yang dihuni pedagang. Rata-rata pedagang pergi meninggalkan kios dan los karena status pengelolaan pasar tidak jelas. Ironisnya, di dalam pasar yang dibangun di atas lahan bengkok Kelurahan Banjardowo itu justru dijadikan arena judi sabung ayam. Saat ini, terdapat empat arena judi sabung ayam yang diduga dibekingi oknum aparat.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di pasar tersebut, tampak kondisi bangunan kios dan los berderet dalam kondisi layak huni. Hanya saja, pasar tersebut belum ada jaringan listrik. Sedangkan musala dan kamar mandi tampak rusak. Beberapa bagian atap juga rusak. Namun secara keseluruhan bangunan masih tampak baik dan kokoh. Sedangkan di bagian tengah pasar terdapat sedikitnya empat arena sabung ayam berbentuk lingkaran terbuat dari papan kayu kurang lebih setinggi 1 meter. Kemarin, tidak ada aktivitas sabung ayam. Di sekitar lokasi tampak beberapa pedagang ayam dan warung kopi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengaku telah mengambil alih status pengelolaan Pasar Banjardowo yang mangkrak tersebut. Ia juga mengakui adanya arena sabung ayam di pasar itu. ”Selama ini tak terawat, malah digunakan sebagai arena judi sabung ayam,” kata Fajar kepada Jawa Pos Radar Semarang saat meninjau pasar tersebut, Minggu (16/4).

Dijelaskan, awalnya pengelolaan pasar ini ada hubungan kerja sama antara pihak ketiga, yakni PT Pratama Sarana Mandiri dengan Pemkot Semarang pada masa pemerintahan Wali Kota Sukawi Sutarip. Berdasarkan dokumen, perjanjian sewa-menyewa tersebut dilakukan pada 4 Oktober 2004. Pasar yang berdiri di atas tanah bengkok Kelurahan Banjardowo tersebut dibangun dan dikelola oleh PT Pratama Sarana Mandiri dengan Direktur Ananta Tri Widyawardhana. ”Yang membangun pasar ini adalah pihak ketiga,” ujarnya.

Namun dalam perkembangannya, lanjut Fajar, pihak ketiga tersebut pailit dan menunggak membayar sewa ke Pemkot Semarang hingga kurang lebih 7 tahun. Mulai 2017, seluruh aset Pasar Banjardowo ini disita Pemkot Semarang karena pihak ketiga tersebut tidak mampu membayar utang. ”Ke depan, kami akan mengelola pasar ini,” kata Fajar.

Pihaknya mengaku telah mempelajari potensi di Pasar Banjardowo tersebut. Di antaranya terdapat komunitas pencinta ayam. ”Mereka sejak awal menempati Pasar Banjardowo ini. Nah, kami bersama Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) dan kepala pasar sudah sepakat akan mengubah nama pasar ini menjadi Pasar Satwa Banjardowo,” ujarnya.

Dijelaskannya, nantinya pasar ini akan dikonsep khusus menjadi satu-satunya Pasar Satwa di Kota Semarang. Ke depan, pasar ini diharapkan menjadi pasar pusat berbagai macam satwa maupun kebutuhan satwa.  ”Selain itu juga akan ada kegiatan rutin seperti lomba maupun kompetisi burung. Pasar Satwa Banjardowo Semarang ini akan kami launching tanggal 22 April mendatang,” katanya.

Dikatakan Fajar, saat ini tercatat telah ada sebanyak 84 orang menyatakan ingin menempati pasar ini. ”Terlepas, nanti apabila ada yang pernah merasa memiliki, segera saja menghubungi ke Dinas Perdagangan Kota Semarang, nanti akan kami selesaikan. Karena sejauh ini, kios-kios mangkrak ini rata-rata ditinggalkan pemiliknya. Pemiliknya siapa saja, kami belum tahu,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Fajar, pihaknya juga akan mengusulkan agar dibuatkan akses transportasi angkutan umum agar pasar ini hidup. ”Kami targetkan 2018 pasar ini sudah kami sulap menjadi ramai. Semarang akan memiliki Pasar Satwa. PKL sepanjang jalan Banjardowo akan kami masukkan ke pasar ini tanpa dipungut biaya sewa. Tidak ada jual beli kios. Agar kondisi pinggir jalan bersih dari PKL,” katanya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan menganggarkan Rp 200 juta untuk perbaikan di anggaran perubahan 2017. ”Kira-kira Agustus mendatang, bisa dianggarkan di anggaran perubahan,” imbuhnya.

Ketua  PPJP Banjardowo, Fatkhurrohman, mengakui, pasar tersebut terbengkalai karena ditinggalkan investor. Pihaknya mengaku sudah sejak lama berusaha menghidupkan pasar tersebut. ”Tapi sejauh ini kami terkendala untuk melakukan pengelolaan secara maksimal karena tidak ada kesatuan dari Dinas Perdagangan. Sebab, sebelumnya statusnya masih dikelola oleh investor,” katanya.

Dia mengaku senang karena mulai 2017 ini statusnya ditarik oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang. ”Kami berharap nantinya bisa menjadi ramai. Sejak selesai dibangun 2006, sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Totalnya ada 241 kios dan 240 los. Kurang lebih 50 persen sudah ada pemilik. Pemilik kios, dulu beli dari investor. Tapi karena di sini sepi, dagangan tidak laku. Akhirnya mereka pergi meninggalkan kios. Nanti kalau pemilik datang akan dilakukan kroscek dan rembukan di Dinas Perdagangan,” bebernya.

Dia tak membantah, adanya arena sabung ayam ilegal di pasar tersebut. Menurut dia, arena sabung ayam tersebut baru ada sejak 1,5 bulan lalu. ”Itu memang tidak resmi. Dulu pernah izin ke Polsek Genuk. Sampai sekarang tidak pernah diberikan izin, akhirnya mereka buka sendiri. Tapi nanti kalau sudah ramai, mereka akan mundur. Hanya sementara untuk mengisi kevakuman diisi sabung ayam oleh komunitas pencinta ayam,” katanya.

Salah satu anggota PPJP Pasar Banjardowo, Muslih, mengakui selama ini terkendala pengelolaan pasar tersebut. ”Karena dulu dari pemkot belum ada dinas terkait yang mengurus. Fasilitas banyak yang rusak, musala, air, listrik, dan perlu renovasi atap. Semua sudah dikaji dan akan diperbaiki,” ujarnya. (amu/aro/ce1)