BAGIAN DARI HOBI : Djoko Trihadi menemani pemain PSIS saat berlatih di lapangan.
BAGIAN DARI HOBI : Djoko Trihadi menemani pemain PSIS saat berlatih di lapangan.

Di usianya yang tak lagi muda, Djoko mengisi waktu luangnya untuk memperbanyak beribadah dan mengikuti pengajian. Menurutnya, di kehidupannya yang telah mapan ini ia hanya perlu mencurahkan waktu luangnya untuk beribadah.

“Sekarang mau ngapain lagi, pendidikan saya sudah mentok, pangkat juga sudah mentok karena sudah pensiun, kan tinggal perbanyak ibadah dan menikmati waktu dengan santai,” ungkap dokter yang menyukai fotografi ini.

Setiap minggunya ia selalu menyempatkan diri utuk mengikuti pengajian di pondok pesantren Al-Fitrah yang berada di Meteseh, Tembalang, Semarang. Seperti saat Jawa Pos Radar Semarang menyapanya di rumah, ia baru saja pulang dari pengajian rutin di ponpes tersebut.

“Sepakbola kan hobi, disitu sebagai tempat saya refreshing, ibadah ini untuk mendekatkan diri dengan yang kuasa, bersyukurlah selama ini diberikan rahmat dalam hidup,” tuturnya.

Ia juga selalu memberikan wejangan kepada para punggawa Panser Biru, baik dalam latihan maupun pertandingan. Djoko mengatakan, kalimat yang selalu ditanamkannya kepada para pemain salah satunya jika yang bersangkutan tidak menurut alias bandel.

“Namanya anak muda kan pasti bandel, ngotot buat latihan aja. Trus saya bilang ke mereka ‘dalam kondisi kalian fit saja belum tentu masuk line up, apalagi dengan kondisi cidera, kan nggak mau kalau di bangku cadangan terus, nanti baru mereka nurut,” ungkap pria yang pernah bekerja di Puskesmas Kalimantan Selatan ini.

Baginya, tidak ada yang tidak mungkin untuk dijalani dalam hidup. Asal kita mau bersungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah menjalaninya. Hal itu ia terapkan dalam menjalani profesinya sebagai dokter spesialis penyakit dalam maupun dokter official PSIS. “Saya selalu pegang kalimat Man Jadda Wa Jadda, itu artinya barangsiapa bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya,” tandasnya. (mg26/ric)