DEMI IJAZAH: Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Kejar Paket C yang digelar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bangkit, Ngaliyan di SMK Islamic Center, kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMI IJAZAH: Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Kejar Paket C yang digelar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bangkit, Ngaliyan di SMK Islamic Center, kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dua warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IA Kedungpane Semarang mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Kejar Paket C, Sabtu (15/4) kemarin. Ujian yang diselenggarakan bersama 20 orang lainnya ini digelar di SMK Islamic Center Semarang. Dua napi tersebut, yakni M Romadhon dan Elvad Mathew S. Keduanya mengikuti ujian di luar lapas dengan pengawalan ketat anggota polisi dan dua orang petugas lapas. Romadhon dam Elvad mengikuti UNBK Paket C bergabung dengan masyarakat umum lainnya yang digelar oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bangkit, Ngaliyan.

“Jumlah keseluruhan peserta sebenarnya ada 23 orang, tapi yang satu orang berhalangan, sehingga tinggal 22 orang yang ikut UNBK kejar paket atau kesetaraan,” ungkap panitia pelaksana ujian dari PKBM Bangkit Ngaliyan, Hadi Suprayitno, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia menjelaskan, kedua napi mengikuti ujian di tempat tersebut lantaran di dalam lapas tidak ada fasilitas server. Pun dengan PKBM Bangkit Ngaliyan juga belum memiliki fasilitas server, sehingga masih numpang di SMK Islamic Center.

Dijelaskan, syarat mengikuti UNBK kejar paket, peserta harus mengikuti semua pembelajaran di sekolah sebelumnya. Selain itu juga harus mengikuti Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK). Setelah itu mengikuti UNBK berbasis komputer. “Untuk mengikuti UNBK Kejar Paket C lulus SMP dan sederajat. Peserta ujian gratis. Kalau persyaratan pendukung, fotokopi ijazah, SKKU, KK, akta kelahiran, dan KTP. Untuk usia tidak ada batasan,” jelasnya.

Untuk materi pelajaran UNBK Paket C yang diujikan sama halnya dengan ujian formal lainnya. Yakni, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKN, Matematika, Sosiologi, Geografi dan Ekonomi. “Itu jurusan IPS. Untuk (UNBK Paket) B ada lima mapel, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKN, Matematika dan IPA. Kalau ujian sekarang, pengumumannya bulan depan (Mei). Nanti kalau sudah pengumuman, anak-anak kita kasih tahu,” terangnya.

Dikatakan, pelaksanaan UNBK Paket C ini sengaja diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu dengan alasan supaya tempat yang dipakai tidak bertabrakan dengan siswa SMK Islamic Center. Pelaksanaan UNBK Paket C akan dilanjutkan pada Sabtu dan Minggu pekan depan, yang diselenggerakan dalam dua sesi setiap harinya.

Diakuinya, jumlah peserta yang mengikuti ujian paket tersebut setiap tahunnya tidak bisa ditentukan. Kisaranya 20 sampai 30 orang. Pada 2016 lalu, terdapat 29 peserta paket C dan dari Lapas ada 2 napi. Paket B 2016 diikuti 11 orang, dan pada 2017 ini ada 9 orang. Hanya saja yang bisa mengikuti berjumlah 5 peserta, sisanya ada halangan.

“Para peserta rata-rata sudah bekerja. Untuk yang perempuan mayoritas bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Ada juga karyawati toko. Kalau yang laki-laki, ada yang pekerja pabrik dan instansi pemerintah ataupun serabutan,” terangnya.

Salah satu peserta UNBK Kejar Paket C, Muhammad Romadhon Adeputra Pamungkas, 19, mengaku, mengikuti ujian Paket C dengan alasan ingin mendapatkan kehidupan yang layak setelah nantinya keluar dari lapas. Pihaknya berkeinginan bekerja menjadi seorang mekanik. “Ingin membanggakan orangtua, ingin punya ijazah. Pengin jadi mekanik. Sebab, dulu sering main ke bengkel, jadi sedikit tahu,” katanya.

Romadhon mengatakan, sebelumnya ia pernah belajar di MA yang ada di Meteseh, Tembalang. Namun akibat kenakalannya, ia harus berurusan dengan aparat kepolisian lantaran terlibat kasus pengeroyokan. Akibat perbuatannya, pemuda lugu ini diganjar hukuman 2,5 tahun. “Pas kelas 2 jurusan IPS terlibat pengeroyokan di Sendangmulyo. Kejadiannya sebelum lebaran kurang tiga hari tahun 2016. Sekarang sudah menjalani hukuman 10 bulan,” akunya.

Kalapas Kedungpane Semarang, Taufiqurrakhman, mengakui, ada dua warga binaannya yang mengikuti pelaksanaan ujian nasional tersebut. Pada pelaksanaan ini, kedua napi mendapat pengawalan ketat oleh dua orang petugas lapas serta anggota kepolisian. Pihaknya sangat mengapresiasi warga binaannya yang tetap mengikuti UNBK meski tengah terjerat masalah hukum. “Ujian nasional tidak dapat dilakukan di lapas karena berbasis komputer,” katanya. (mha/aro)