Kacab PT RAW Tilap Dana Umrah

Dijerat 2 Pasal

389

SEMARANG – Kepala Cabang PT Rihlah Alatas Wisata (RAW) Semarang, yang berkantor di Jalan Woltermangonsidi Ruko nomor 18-19 Pedurungan Semarang, Eko Agung Raharjo dijerat dua pasal sekaligus, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang, atas perkara dugaan penipuan dana haji dan umrah.

”Terdakwa melanggar Pasal 378 jo Pasal 64 KUHP. Subsider melanggar Pasal 372 jo Pasal 64 KUHP,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Kota Semarang Rudi Hartoko, saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (14/4).

Sementara itu, dalam dakwaannya JPU Kejari Kota Semarang, Ahyar Sugeng W menyebutkan, terdakwa Eko sejak 5 Juli 2015 menjadi mitra biro haji dan umrah PT Arminareka Perdana.

Sedangkan untuk operasionalnya ia mengajak sejumlah jamaah dengan harga yang ditetapkan paket umrah dan haji Rp 29 juta-Rp 32 juta. Namun terdakwa menurunkan harga menjadi Rp 13,8 juta-Rp 20 juta.

”Karena murah, banyak jamaah terpikat dan daftar. Sekitar 900 jamaah periode Februari sampai Juni 2016 diberangkatkan. Namun karena murah terjadi kekurangan biaya dan jamaah sempat tertahan 2 minggu di Jakarta,” imbuh JPU Ahyar.

Mengatasi itu, terdakwa meminta agen-agennya mempromosikan harga murah untuk dijanjikan umrah dan haji Desember kemudian. Syaratnya jamaah harus membayar segera. Atas hal itu, jamaah yang di Jakarta akhirnya jadi umrah.

Kemudian Mei 2016, PT Arminareka Perdana memutus hubungan kerjanya dengan terdakwa. Terdakwa lalu bekerja sama dengan PT RAW. Bahkan kepada jamaah yang telah membayar ia menyatakan meski pindah biro, tetap berjanji memberangkatkan.

Meski dilarang menjual paket harga di bawah pasar, terdakwa tetap mempromosikan harga murah. Sejumlah jamaah yang tertarik mendaftar dan dijanjikan berangkat Februari 2017. Pada November 2016, terdakwa sempat memberangkatkan 292 jamaah umrah.

”Karena sistem yang digunakan terdakwa adalah sistem tambel atau nomboki jamaah yang sudah berangkat lebih dulu sampai pada akhirnya terdapat kurang lebih sekitar 450 sampai 500 jamaah yang tidak bisa umrah dan sekitar lima jamaah haji plus,” ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjut JPU Ahyar, selain nomboki, terdakwa menggunakan uang jamaah untuk membeli rumah pribadi Rp 350 juta, DP mobil dan angsurannya Rp 60-an juta, renovasi rumah Rp 100 juta, kontrak kantor Rp 220 juta, beli alat kantor Rp 500 juta, cetak Alquran Rp 150 juta, baju koko Rp 100 juta, tas koper Rp 150 juta, beli beras sedekoh Rp 32 juta dan biaya lain.

”Sampai akhirnya terdakwa melarikan diri dari Kota Semarang dan ditangkap pada hari Senin tanggal 16 Januari 2017 jam 01.00 Wib di Apartemen Tamansari Jalan Soekarno Hatta Bandung,” sebutnya. (jks/zal/ce1)