Gelar Misa Jumat Agung di Bantaran Kali Senowo

814
TRADISIONAL : Umat Katolik Desa Sumber Kecamatan Dukun menggelar prosesi misa Jumat Agung di pinggir Kali Senowo, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
TRADISIONAL : Umat Katolik Desa Sumber Kecamatan Dukun menggelar prosesi misa Jumat Agung di pinggir Kali Senowo, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Umat Katolik di lereng Gunung Merapi Gereja Santo Petrus Canisius Lor Senowo, Paroki Santo Maria Lourdes Sumber Kecamatan Dukun menggelar misa Jumat Agung di pinggir Sungai Senowo. Ritual yang menggambarkan kebangkitan Yesus ini diikuti oleh ratusan jemaat dengan hikmat.

Dengan membawa salib, remaja yang tergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK) memulai prosesi dari gereja dengan berjalan sejauh 2 kilometer. Rute yang menyusuri persawahan sampai di alur Sungai Senowo dengan berhenti di 14 titik pemberhentian yang kemudian berakhir di pinggir Kali Senowo dekat sabodam.

Baik peserta maupun jemaat yang hadir semuanya mengenakan pakaian masyarakat adat Jawa. Lengkap dengan caping menggendong dan aksesori lainnya.

Romo Antonius Abas Kurnia Andrianto, yang memimpin prosesi ini menggambarkan kebangkitan Yesus. Namun, ada perjalanan yang harus dilalui sebelum peristiwa kebangkitan.

Menurutnya, Yesus harus dihukum, dicambuk, dan diludahi. Bahkan, dia harus memanggul salib sebagai lambang beratnya dosa manusia yang harus ditanggung ke Golgota dengan penuh cemooh dari masyarakat yang kecewa.

“Dengan kegiatan yang dikuti OMK ini, agar sejak dini mereka mengetahui kasih Yesus yang sudah sengsara demi umatnya,” katanya.

Dengan mengenangkan peristiwa kebangkitan Paskah, dia mengharapkan umat mampu menyelami dan memasuki tiga peristiwa tersebut: sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Melalui sengsara, umat diajak merasakan penderitaan yang dialami Yesus. Dia didera, dipukuli, dan disalib.

Lewat wafat, manusia diingatkan bahwa hidup ada batasnya sehingga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Menurutnya, prosesi kesan yang ingin sampaikan manusia harus bisa lebih melihat dan merasakan kasih sayang Tuhan pada umatnya hingga sekarang. “Dan mejadi umat Katolik yang taat,” tegasnya.

Alam yang dianugerahkan kepada umat, katanya, hendaknya selalu disyukuri. Untuk itu, prosesi dilaksanakan di pinggir Sungai Senowo. Supaya masyarakat yang setiap hari hidup menggantungkan dari alam mampu mensyukuri dan menjaga alam dari kerusakan. (vie/lis)