Festival Dolanan Anak Cegah ‘Kepunahan’

1996
DOLANAN ANAK: Salah satu kelompok peserta saat memainkan permainan tradisional anak dalam festival di Museum Ambarawa, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DOLANAN ANAK: Salah satu kelompok peserta saat memainkan permainan tradisional anak dalam festival di Museum Ambarawa, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Majunya era teknologi saat ini menjadi salah satu penyebab punahnya permainan anak tradisional. Hal itu dikatakan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih usai membuka Festival Dolanan Anak di Museum Palagan Ambarawa, Kamis (13/4).

“Apalagi, di era modern seperti saat ini banyak anak-anak yang lebih suka bermain gadget ketimbang berkumpul dengan teman sebayanya. Hal itu bisa membuat anak menjadi kurang bersosialisasi,” ujar Dewi.

Festival Dolanan Anak tersebut diikuti 19 kelompok dari perwakilan Sekolah Dasar (SD) se Kabupaten Semarang. Pada festival tersebut, masing-masing kelompok menunjukkan kreativitasnya di depan para juri. “Kami ingin melestarikan warisan budaya, itu salah satu tujuan diadakannya Festival Dolanan Anak, ini,” katanya. Salah satu permainan anak tradisional yang dimainkan dalam festival tersebut antaralain cublak-cublak suweng.

Permainan anak tradisional, menurutnya, memiliki banyak nilai karakter dan moral yang positif. Seperti halnya toleransi, kedisiplinan, hingga tenggangrasa ada di dalam permainan anak tradisional. “Dan itu sangatlah dibutuhkan untuk perkembangan anak,” terangnya.

Tidak hanya menyelenggarakan Festival Dolanan Anak, kemarin juga digelar napak tilas kesejarahan dengan melibatkan siswa dan pemateri yang paham sejarah. “Tahun ini, napak tilasnya Letkol Isdiman. Bagaimana beliau mempertahankan kemerdekaan kita kupas, sehingga anak-anak tahu sejarah,” terangnya.

Kasi Kesenian Disdikbudpora Kabupaten Semarang, Sri Dati menambahkan pada festival tersebut dewan juri fokus pada item penampilan. Selain itu juga menilai kekompakan dan kreativitas peserta yang mayoritas duduk di kelas II dan III SD tersebut. Hasilnya, juara I, II, dan III diraih perwakilan UPTD Pendidikan Kecamatan Ambarawa, Bergas, dan UPTD Pendidikan Kecamatan Tengaran.“Sedangkan juara favorit direbut perwakilan UPTD Kecamatan Tuntang,” katanya.

Ia berharap, permainan anak tradisional tidak punah dimakan zaman. “Jangan sampai punah atau terlupakan meskipun banyak permainan yang canggih,” katanya. (ewb/zal)