Warga Karangroto Sulap Lahan Kumuh Jadi Taman Toga

Dulu Banyak Sampah, Kini Punya 70 Jenis Tanaman Obat

2322
ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG TAMBAH ASRI: Warga telah menyulap lahan kumuh menjadi Taman Toga yang asri dan indah.
ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG TAMBAH ASRI: Warga telah menyulap lahan kumuh menjadi Taman Toga yang asri dan indah.

Bila kekompakan warga perkampungan mulai terbentuk, tumbuhlah kreativitas. Lahan yang dulunya kumuh akibat sampah, disulap menjadi taman produktif yang indah. Bahkan baru dua bulan telah memiliki 70 jenis tumbuhan obat-obatan. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

AKTIVITAS penduduk di perkampungan padat sebenarnya menyimpan banyak cerita yang menginspirasi. Kompleksnya persoalan yang dihadapi warga permukiman padat penduduk, terkadang memantik ide dan kreativitas. Hal paling mencolok di permukiman padat penduduk adalah persoalan kumuh dan sampah. Banyak warga kerap tidak sadar tentang kebersihan lingkungan. Membuang sampah sembarangan hingga mengakibatkan saluran air tersumbat. Tentu ini memicu terjadinya bencana banjir.

Warga Karangroto RT 4 RW 3 Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Kota Semarang ini berusaha melawan kebiasaan buruk warga yang sering buang sampah sembarangan. Mereka mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan agar hidup bersih dan sehat. Karena itulah, mereka menyulap lahan kosong yang sebelumnya kumuh penuh sampah, menjadi taman produktif berisi tumbuhan obat-obatan.

Baru mulai dua bulan lalu, mereka sudah mengoleksi 70 jenis tumbuhan obat. ”Kami secara gotong royong menggunakan dana swadaya, menyulap lahan kosong seluas 10 x 10 meter persegi menjadi taman aktif yang multifungsi,” kata Ketua RT 4 RW 3 Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Eko Budiyanto, kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Warga memberi nama Taman Toga, karena memang dikonsep berisi tumbuhan obat-obatan. ”Baru dua bulan berjalan, sudah ada 70 jenis tumbuhan obat yang bisa dimanfaatkan warga. Selain itu, di areal taman juga kami dirikan fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK), serta pos keamanan lingkungan (pos kamling) yang bersih dan nyaman,” katanya.

Sebelumnya, kata Eko, lahan tersebut merupakan lahan kosong yang terbengkalai, kumuh karena banyak sampah. Dia bersama warga kerap gelisah melihat kondisi lingkungan yang kotor dan kumuh. ”Jika tidak kita sendiri yang memulai, lantas siapa lagi? Lambat laun, kesadaran warga mulai tumbuh. Kami sepakat untuk bergerak bersama-sama. Prinsipnya lingkungan harus bersih,” katanya.

Muncullah ide kreativitas membuat taman di lahan kosong yang sangat kumuh itu. Menurutnya, ini cukup membuktikan bahwa tingkat kesadaran warga di kawasan tersebut semakin baik. ”Apalagi kampung ini memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Pembangunan taman ini menjadi contoh sederhana bahwa masyarakat di sini turut berperan untuk peduli lingkungan,” katanya.

Untuk menyulap lahan kumuh dijadikan Taman Toga, mereka bahu-membahu mengumpulkan biaya melalui kas RT. ”Namanya kas RT ya mengumpulkan iuran meski hanya Rp 1.000. Ini cukup bisa untuk modal awal. Selebihnya, kami berusaha putar otak bagaimana caranya agar bisa mendapatkan bantuan dari CSR (Corporate Social Responsibility). Alhamdulillah, akhirnya dari RSUP dr Kariadi Semarang bersedia membantu,” katanya.

Tentu, lanjutnya, kreativitas warga ini selaras dengan program kampung tematik yang dikampanyekan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. ”Sudah semestinya, warga turut menciptakan inovasi dan ide kreatif untuk menjadikan kampungnya unik dan indah,” katanya.

Lebih lanjut, kata Eko, setidaknya saat ini taman tersebut memiliki 70 lebih jenis tanaman obat yang bisa dimanfaatkan oleh warga setempat. Selain  ditanam langsung di media tanah, tanaman toga tersebut ditanam menggunakan media pot. ”Karena lahannya terbilang minim, maka kami menggunakan pot-pot kecil. Ini masih akan terus dikembangkan, tanamannya semakin banyak,” katanya.

Adanya taman tersebut, masih kata Eko, keadaan kampung menjadi lebih kondusif. Sebab, budaya berkumpul untuk berinteraksi langsung sesama warga semakin intensif. Hal itu menumbuhkan semangat gotong royong. ”Warga semakin kompak. Kampung menjadi asri. Untuk perawatan, kami melibatkan ibu-ibu PKK, kebetulan ibu-ibu ini kebanyakan memiliki hobi menanam,” katanya.

Dalam perjalanannya, taman toga ini mewakili RW 3 untuk lomba Kampung Sehat dan Bersih karena ini taman toga satu-satunya. ”Kami sangat senang karena warga berperan aktif melahirkan ide-ide kreatif. Ini masih akan terus dikembangkan,” katanya. (*/ida/ce1)