AGROWISATA: Seorang petani Desa Tlahab Kecamatan Kledung sedang memanen tembakau. Desa ini memiliki potensi wisata alam dan pertanian tembakau, sayuran dan kopi arabica. (SOFIAN HADI/RADAR KEDU)
AGROWISATA: Seorang petani Desa Tlahab Kecamatan Kledung sedang memanen tembakau. Desa ini memiliki potensi wisata alam dan pertanian tembakau, sayuran dan kopi arabica. (SOFIAN HADI/RADAR KEDU)

Pemerintah Kabupaten Temanggung terus berusaha pengembangkan sejumlah desa. Potensi lokal menjadi bidikan.

SEPERTI di Desa Tlahab Kecamatan Kledung  yang selama ini dikenal  sebagai desa penghasil tembakau dan sayuran. Sejak beberapa tahun terakhir, Tlahab juga semakin dikenal luas karena keindahan alam di Posong. Agrowisata jadi andalan desa ini.

Tak hanya itu, belakangan ini Tlahab juga dikenal sebagai desa penghasil kopi arabica. “Tanaman kopi di desa ini dibudidayakan secara tumpang sari, baik dengan berbagai sayuran maupun tanaman tembakau,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermasdes) Kabupaten Temanggung Agus Sarwono di sela menerima kunjungan Bagian Humas dan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama sejumlah wartawan di Kedai Kopi Posong lereng Gunung Sindoro, Kamis (13/4).

Agus menjelaskan, di Desa Tlahap terdapat objek wisata alam Posong yang dikelola oleh masyarakat. Wisatawan sudah banyak berkunjung ke Posong untuk menyaksikan keindahan matahari terbit. Menurutnya, Tlahab merupakan salah satu desa di Kecamatan Kledung yang memiliki potensi untuk pengembangan agrowisata tersebut.

“Karena banyak potensi yang terdapat di wilayah Kecamatan Kledung. Maka, Kecamatan Kledung  dijadikan kawasan pengembangan agrowisata di Kabupaten Temanggung,” ucapnya.

Agus melanjutkan, dalam pengembangan perdesaan, pihaknya juga menjadikan Kecamatan Ngadirejo sebagai kawasan purbakala. Keberadaan Situs Liangan menjadi daya tarik wisata dan pendidikan. Sementara Kecamatan Pringsurat menjadi kawasan pertanian terpadu.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tlahab Tuhar mengatakan, tanaman kopi mulai dikembangkan pada 2000. Waktu itu warga hanya spekulasi, karena setahu mereka, tanaman kopi hanya tumbuh di dataran rendah. “Ternyata tanaman kopi arabica cocok dibudidayakan di ketinggian 800-1.500 meter di atas permukaan laut sehingga bisa tumbuh baik di Kledung,” katanya.

Tuhar membeber, kopi Kledung mulai booming  sejak 2014, setelah dirinya mengikuti kontes kopi nasional di Jakarta. Saat itu ia meraih juara tiga. “Sejak itu, kami selalu mendapatkan kunjungan dari sejumlah instansi dari beberapa daerah untuk belajar tentang kopi di sini,” tuturnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Sleman, Sri Winarti mengatakan rombongan dari Sleman ingin belajar tentang potensi yang ada di Kledung yang kemungkinan bisa dikembangkan di Sleman. “Minum kopi di tengah kebun kopi dengan udara yang sejuk ini sangat menarik bagi wisatawan,” ungkapnya. (san/ton)