Foto Edi Riyanto (Zain zainudin/radar kedu)
Foto Edi Riyanto (Zain zainudin/radar kedu)

WONOSOBO – Kondisi perekonomian masyarakat yang lesu, juga membuat pertumbuhan koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah (KSPPS) di Wonosobo melambat. Kondisi itu berbeda dengan 3 tahun sebelumnya, dimana pertumbuhan KSPPS rerata mencapai 40-50 persen.

“Sangat berpengaruh. Kalau dulu pertumbuhannya mencapai 40-50 persen bahkan ada yang mencapai 60 persen, kini tinggal 15 persen,” jelas Kepala Penelitian dan Pengembangan KSPPS Tamziz, Edi Riyanto di kantornya, Kamis (13/4).

Ia menjelaskan, Kabupaten Wonosobo terbilang wilayah yang subur akan KSPPS. Bisa dibayangkan, kota sekecil Wonosobo terdapat 13 KSPPS. Antara lain BMT Marhamah, Alhuda, Jami’, Tamziz dan nama besar BMT lainnya. Kesemuanya terbilang sukses dan terus berkembamg.

Bahkan, kata dia, ada 2 BMT yang terlahir asli di Wonosobo kemudian berhasil membuat banyak cabang di daerah lain. Sebut saja, BMT Marhamah, yang berhasil membuat cabang di kota-kota di Jateng, juga Tamziz yang telah berhasil membuka cabangnya di 4 provinsi di Indonesia.

“Berbicara keterterimaan sekaligus perkembangan koperasi syariah, secara umum sudah cukup baik. Cuma karena kondisi perekonomian masih seperti ini, membuat koperasi syariah juga ikut terdampak,” katanya.

Kendati untuk Kabupaten Wonosobo keterterimaan koperasi syariah terbilang baik, namun di daerah lain belum demikian. Di daerah tertentu, persepsi masyarakat terhadap produk jasa keuangan syariah atau koperasi syariah masih dianggap sama dengan jasa keuangan konvensional.

Penyebabnya literasi tentang jasa keuangan syariah minim. Ditambah lagi dengan belum adanya persepsi sama antara akademisi, pelaku dan fukoha (ahli fikih) dalam hal pelaksanaan jasa keuangan syariah.

“Kalau ketiganya bisa satu persepsi, ada ikhtiar menyosialisasikan tentang jasa keuangan syariah yang sebenarnya, saya pikir BMT atau jasa keuangan syariah akan berkembang lebih cepat lagi,” pungkasnya. (cr2/lis)