Menilik Kearifan Lokal Tari Rancak Kuntul Semarangan

Hasil Riset 8 Bulan, Terinspirasi Burung Kuntul

1338
BERI STIMULUS ANAK: Tarian berdurasi 5 menit dapat dibawakan oleh anak mulai usia 4 tahun dengan mudah dan penuh suka cita. (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI STIMULUS ANAK: Tarian berdurasi 5 menit dapat dibawakan oleh anak mulai usia 4 tahun dengan mudah dan penuh suka cita. (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sebanyak 650 pendidik anak usia dini yang tergabung dalam Forum Pos PAUD Kota Semarang dilatih khusus untuk belajar Tari Rancak Kuntul Semarangan. Seperti Apa?

AFIATI TSALITSATI

TARIAN berdurasi 5 (lima) menit ini diawali prolog berbahasa Jawa yang disusun secara khusus. Gerakan dalam tarian ini diciptakan secara khusus oleh Maria Denok Bekti Agustiningrum, MPd, salah satu dosen PG PAUD IKIP Veteran dengan konsentrasi tari Anak Usia Dini (AUD).

”Tari Rancak Kuntul Semarangan adalah sebuah tari pendidikan khusus yang diciptakan untuk Anak Usia Dini mulai usia 4 (empat) tahun,” ungkap Maria Denok.

Maria menjelaskan, tari Rancak Kuntul Semarangan disebut sebuah tari pendidikan dengan dasar hasil riset yang dilakukannya selama 8 (delapan) bulan. Dilanjutkan dengan menciptakan gerak, syair dan musik yang memperhatikan aspek stimulasi seluruh kemampuan yang ada pada Anak Usia Dini.

”Tarian ini terinspirasi dari burung kuntul yang merupakan burung cerdas dan hidup berkelompok yang tinggal di pohon di sepanjang jalan di Srondol. Namun populasinya semakin menurun baru-baru ini,” tambahnya.

Gerakan Tari yang ada pada tarian Rancak Semarang ini merupakan gerakan yang menggambarkan aktivitas dari burung kuntul seperti mengepakkan sayap, terbang, berjalan ke sana-ke mari sembari mencari makanan.

Iringan dibuat khusus sederhana dan easy listening dari beberapa suara benda-benda yang ada di lingkungan anak bernuansa etnis Cina dan Jawa (percampuran budaya yang ada di Semarang, Red). ”Selain itu, kostum dibuat khusus sebagai penggambaran burung Kuntul, dengan harapan memperkenalkan batik khas Semarang,” imbuhnya.

Dengan memperkenalkan dan mengajarkan tarian yang sarat akan makna budaya diharapkan mampu membentuk karakter anak yang kuat dan tangguh dalam menghadapi arus globalisasi. ”Harapannya, selain sebagai ekspresi seni anak usia dini, tari ini juga bertujuan memperkenalkan lingkungan dan budaya yang ada di Kota Semarang,” tandasnya.

Dimulai dengan prolog sebagai ciri khas tarian ini, berupa dongeng bahasa Jawa yang ditulis oleh Luluk Elyana MSi. Isi ceritanya tentang burung kuntul (sifat dan tingkah lakunya) sebagai sebuah penghantar agar anak memahami tari yang akan dibawakan. Tari ini berdurasi 5 menit dapat dibawakan oleh anak mulai usia 4 tahun. (*/ida/ce1)