NGAJI INDONESIA : Kegiatan Ngaji Ngopi Hepi di Sixteen Coffee kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGAJI INDONESIA : Kegiatan Ngaji Ngopi Hepi di Sixteen Coffee kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDALKhubbul waton minal iman atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Itulah yang menjadi jargon pendiri NU KH Hasyim Asyari. Itulah yang mendasari hingga sekarang warga NU tetap bersikukuh NKRI adalah harga mati.

Demikian dikatakan Gus Muhammad Nasih Syarifuddin saat menjadi pembicara pada kegiatan Ngaji Ngopi Hepi di Sixteen Coffee, kemarin (11/4). Dikatakannya, hal ini harus dipahami bahwa cinta tanah air dan  mempertahankannya termasuk Jihad. “Hal itu juga diajarkan Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Menurutnya tidak ada alasan bagi warga Indonesia terutama yang Islam untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Sebab Indonesia sudah berdasar pada aturan Islam. Contoh, dasar negara yakni Pancasila juga sudah dibuat sesuai dengan syariat Islam.

Yakni mengacu pada Ketuhanan, bahwa Indonesia dibangun dengan pengakuan Tuhan Yang Esa. Sila kedua menggambarkan sikap toleransi. Sebab jika tidak ada toleransi, maka NKRI tidak bisa terwujud. “Nabi mengajarkan dengan piagam madinah, yakni hidup bersama orang-orang non Islam,” tutur putra dari Kyai Rosyidi asal Pandes, Cepiring, Kendal tersebut.

Sila ketiga menyatakan Persatuan dan Kesatuan Indonesia yang merupakan sebuah ikatan kuat yang harus dijalin dan dijaga di antara warga negara atau ukhuwah. “Bahwa agama itu mengajarkan manusia untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Allah SWT tidak menyukai perceraian dan pertikaian,” tandasnya.

Sedangkan sila keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menunjukkan bahwa segala sesuatu harus bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat. “Ketika sudah bermusyawarah, maka jangan ada ego yang ditonjolkan. Tapi harus bisa menyingkirkan ego untuk keutuhan negara,” tambahnya.

Terakhir, sila kelima menyatakan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jika empat hal tersebut bisa dipenuhi, maka keadilan bagi seluruh warga Indonsia ini baru bisa terwujud.

Hal senada dikatakan Pangilma Santri 0294, Basyarohman. Ia mengatakan bahwa pemahanan Khubbul Waton di kalangan orang NU ini penting. Agar mereka tidak terjebak pada gerakan-gerakan Islam yang anarkis. Yakni yang kerap mengkafirkan orang lain dalam berdakwah. “Lebih-lebih yang ingin mendirikan negara Islam. Menurutnya, hal itu justru menggambarkan Islam bukan sebagai Rahmatan Lil Alamin, tapi sebagai agama penjajah yang ingin menang sendiri,” katanya.

Kegiatan Ngaji Ngopi Hepi sendiri merupakan kajian keagamaan yang dicetuskan untuk menangani masalah degradasi moral di kalangan anak muda. “Khususnya agar mereka tidak terjebak dalam pemahaman agama yang dangkal kemudian menjadi teroris seperti yang marak sekarang ini,” tandasnya.

Pembicara lain, Gus Shofiyullah Zuhri, yang menyorot pada permasalahan kenegaraan dan kehidupan bermasyarakat di dalamnya. Menurutnya mempertahankan tanah air termasuk jihad. Hal itu telah dicontohkan rosul ketika Piagam Madinah dikhianati oleh kaum Yahudi. “Jadi kelak yang menjadi amal kebaikan di akhirat tidak hanya salat, puasa dan zakat. Tapi mempertahankan tanah air juga termasuk ibadah. Termasuk mempertahankan NKRI dari serangan orang yang ingin mendirikan negara Islam,” katanya. (bud/ida)