FAVORIT LIVE: Para punggawa PSIS saat merayakan gol ke gawang Persibat saat laga persahabatan Minggu (9/4) di Stadion Jatidiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FAVORIT LIVE: Para punggawa PSIS saat merayakan gol ke gawang Persibat saat laga persahabatan Minggu (9/4) di Stadion Jatidiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi kemarin merilis jadwal Liga 2 yang akan mulai kickoff 19 April 2017 mendatang. Namun jadwal kemungkinan berubah, sebab banyak tim peserta mengajukan protes, termasuk PSIS.

Di Grup 4, PSIS dijadwalkan melakoni tujuh laga kandang dan tujuh laga tandang pada babak penyisihan grup. Laga rata-rata dimainkan di hari Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu. Namun mayoritas laga digelar pada hari Kamis. Jadwal tersebut sangat tidak menguntungkan PSIS secara finansial. Sebab pertandingan pada hari kerja, sulit untuk mendatangkan banyak penonton. Sementara PSIS sangat mengandalkan pada hasil penjualan tiket untuk operasional tim.

Hari pertandingan paling ideal bagi PSIS untuk mendatangkan penonton adalah Sabtu atau Minggu. Tapi dari tujuh laga kandang PSIS di babak penyisihan grup baik putaran pertama maupun kedua, PSIS hanya kebagian satu laga yang digelar pada hari Sabtu. Lainnya digelar Selasa, Rabu dan paling banyak Kamis. “Tentu ini cukup dirugikan karena animo penonton akan menurun jika pertandingan digelar pada hari kerja,” kata General Manajer (GM) PSIS, Wahyu ‘Liluk’ Winarto.

Persoalan lain adalah siaran langsung televisi. Di Liga 2 total terdapat 78 siaran langsung televisi dari enam grup pertandingan. Grup 4 ada 19 pertandingan siaran langsung. Dari 61 tim peserta Liga 2, delapan tim yang mendapatkan jatah siaran langsung paling banyak.

PSIS juga dianggap sebagai tim favorit untuk disiarkan langsung televisi saat bertanding kandang. Hal tersebut dikhawatirkan menurunkan animo penonton untuk menyaksikan langsung pertandingan di stadion.

PSS Sleman mendapatkan jatah siaran langsung paling banyak yaitu 12 pertandingan baik home maupun away. Disusul PSCS Cilacap dan Persebaya dengan 10 pertandingan dan PSIS  ditempat keempat terbanyak dengan 9 pertandingan, di mana 6 pertandingan kandang PSIS mendapatkan jatah siaran langsung televisi.

Tiap siaran langsung, tim memang mendapat uang hak siar. Namun selama ini belum jelas berapa nominal hak siar tiap tim. “Kami meminta pembagian hak siar harus jelas karena dengan jadwal pertandingan di tengah pekan dan ada siaran langsung televisi sudah pasti animo penonton akan menurun. Kami tidak bisa memaksimalkan pemasukan di penjualan tiket pertandingan,” sambungnya.

Saat ini manajemen PSIS telah mengajukan protes secara tertulis kepada PT LIB dan PSSI terkait kebijakan masalah jadwal pertandingan tersebut. ”Mudah-mudahan ada respon baik. Karena tim-tim lain di Liga 2 juga menyatakan keberatan yang sama,” pungkas Liluk. (bas/smu)