Musim Paceklik, Ribuan Nelayan Dapat Bantuan

1985
BERSYUKUR : Senyum suka cita salah satu perwakilan nelayan yang menerima bantuan pangan berupa beras dari Wali Kota Pekalongan, Achmad Alf Arslan Djunaid. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
BERSYUKUR : Senyum suka cita salah satu perwakilan nelayan yang menerima bantuan pangan berupa beras dari Wali Kota Pekalongan, Achmad Alf Arslan Djunaid. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

PEKALONGAN-Sebanyak 2.125 KK di 14 Rukun Kelompok Nelayan di Kota Pekalongan mendapatkan bantuan rawan pangan berupa beras dari Wali Kota Pekalongan, H Achmad Alf Arslan Djunaid. Jumlah tersebut terbagi dalam 3 kelurahan yaitu Kelurahan Panjang Wetan 666 orang, Kelurahan Panjang Baru 479 Orang dan Kelurahan Krapyak 980.

“Bantuan kami berikan untuk tiap kepala keluarga, berupa 10 kg beras. Dengan adanya bantuan sosial tersebut, semoga dapat membantu pemenuhan kebutuhan pangan sehingga tidak berdampak pada risiko sosial, pendidikan, dan kesehatan,“ tutur kata Alex-sapaan akrab wali kota yang didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Agus Jati Waluyo dan Kepala HSNI Kota Pekalongan, Imamenu Harun secara simbolis menyerahkan bantuan kepada nelayan.

Menurutnya, bantuan tersebut sebagai upaya pemerintah dalam membantu para nelayan yang mengalami paceklik melaut karena cuaca yang tidak mendukung. “Nelayan tidak sepanjang waktu melaut. Oleh karena itu, kami memberikan bantuan untuk meringankan beban nelayan,” katanya.

Menanggapi bantuan tersebut, Imamenu mengatakan bahwa pihaknya mewakili nelayan berterima kasih atas kepedulian Pemkot Pekalongan. Dengan adanya bantuan rawan pangan yang diberikan melalui Dinas Pertanian dan Pangan, para nelayan dapat memenuhi kebutuhan, khususnya pangan.

“Sebelumnya kami sudah mengajukan permohonan bantuan untuk musim paceklik sejak lama. Tapi baru hari ini, usualan tersebut terpenuhi,” katanya, di Kantor DPC HSNI Kota Pekalongan saat penyerahan bantuan dilakukan, Senin (10/4) kemarin.

Sejak awal tahun, katanya, kondisi lautan sedang ombak besar, angin besar dan hujan lebat. Otomatis selama 3 bulan Januari-Maret 2017, nelayan tidak berani melaut. Sejak saat itu, mengalami paceklik pangan. “Saat ini, mulai berani melaut, namun cuaca masih kurang baik,” terangnya.

Hal tersebut diperkuat dari himbauan BMKG yang masih memperingatkan nelayan, terkait potensi badai. Karena awan hitam tebal masih banyak terlihat, sehingga harus waspada. (han/ida)