Nasib Eks Wonderia setelah Ditutup

Mangkrak, Pemkot Masih Lakukan Kajian

7352
TAK TERURUS: Kondisi Taman Rekreasi dan Hiburan Keluarga Wonderia Semarang mangkrak setelah disegel Satpol PP. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK TERURUS: Kondisi Taman Rekreasi dan Hiburan Keluarga Wonderia Semarang mangkrak setelah disegel Satpol PP. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pasca disegel Satpol PP, nasib Taman Rekreasi dan Hiburan Keluarga Wonderia Semarang hingga kini masih menggantung. Praktis, objek wisata di Jalan Sriwijaya Nomor 29 Semarang itu menjadi mangkrak.

SEPI. Tidak ada aktivitas apa pun di bagian dalam Wonderia. Minggu (9/4) pagi kemarin sempat ada kegiatan senam sehat di halaman depan. Namun setelah senam usai, tidak ada aktivitas apa pun di kompleks rekreasi keluarga tersebut. Pagar depan terkunci rapat dengan gembok. Hanya ada beberapa anak bermain layang-layang. Di loket masuk terpasang pita kuning penyegelan oleh petugas Satpol PP.

Suwarso, warga sekitar mengatakan jika bekas lahan Wonderia harusnya bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Apalagi diketahui jika lahan tempat berdirinya Wonderia merupakan aset milik pemerintah.

”Kalau mangkrak seperti ini ya eman-eman. Kalau malam terlihat gelap karena tidak ada aktivitas. Harusnya bisa dimanfaatkan agar tidak mangkrak begitu saja,” kata Suwarso, warga Tegalsari, Candisari.

Sebelum disegel, Wonderia ramai jika ada event musik dangdut dan pameran distro. Objek wisata yang dibuka pada 2007 ini memiliki berbagai permainan anak, seperti kereta listrik, bianglala, komedi putar dan wahana lainnya. Suasananya juga sejuk oleh puluhan pohon besar sehingga cocok sebagai tempat bersantai keluarga.

Namun Wonderita terpaksa ditutup karena pihak manajemen PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta (Smart) selaku pengelola tak mampu membayar utang pajak ke Pemkot Semarang senilai Rp 3,1 miliar. Pasca penutupan itu, pemkot berencana menjadikan Wonderia sebagai pusat kegiatan wisata di Kota Semarang.

”Rencananya untuk pusat kegiatan wisata dan pendukungnya. Tapi saya sedang minta rekan-rekan Bappeda untuk melakukan kajian terhadap lokasi tersebut,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (9/4).

Meski begitu, Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi—belum bersedia membeberkan rencana pengelolaan Wonderia dengan manajemen baru tersebut.

Hendi menambahkan, pihaknya akan menggunakan sistem polling untuk mendapatkan masukan dalam pemanfaatan lahan eks Wonderia. Sesuai perjanjian, kerja sama antara PT Smart dan Pemkot Semarang harusnya berakhir pada 2027 mendatang.

”Kami hormati perjanjian yang dilakukan oleh pemimpin pemimpin zaman dahulu (wali kota). Akan tetapi pada saat perjanjian tersebut tidak ditepati oleh pihak investor (PT Smart), maka sudah menjadi kewajiban kami untuk mengingatkan. Pengelola Wonderia ini sudah kami ingatkan sampai tiga kali terkait kekurangan pemasukan,” terang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. ”Tapi, karena tidak juga membayar, ya kami akhirnya putus kontraknya,” tegasnya.

Setelah pemutusan kontrak yang dilakukan awal 2017 lalu, pemkot memberi tenggat waktu enam bulan kepada PT Smart untuk mengeluarkan asetnya dari Wonderia. ”Kita kasih waktu enam bulan kepada investor untuk mengeluarkan asetnya. Hanya saja untuk ke depan kita perlu waktu (pemanfaatan Wonderia),” kata Hendi.

Disinggung mengenai Trans Studio yang sebelumnya sempat menjadi wacana, Hendi menegaskan semua harus sesuai dengan keinginan masyarakat. ”Kalau untuk Trans Studio katanya dulu tidak boleh. Kalau masih banyak yang menginginkan Trans Studio berarti saya harus melakukan komunikasi ulang (dengan pihak Trans). Tapi kita buat polling saja lah nanti pasnya buat apa,” tandas Hendi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pengelolaan Terpadu Satu Pintu Kota Semarang Ulfi Imran Basuki menegaskan, jika selama ini pengelolaan Wonderia memang tidak optimal. Kini, pihaknya masih menunggu pengelola mengeluarkan aset dari area Wonderia. ”Mereka (PT Smart) sudah menerima itu (pemutusan kontrak). Dan selama enam bulan ini mereka harus membersihkan asetnya,” kata Ulfi.

Kepala Bidang Perencanaan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, M. Farhan, mengatakan, sejauh ini pihaknya belum bisa berbuat banyak mengenai Wonderia pasca disegel.

”Dalam perencanaan kerja Bappeda belum bisa ngomong (soal Wonderia). Ketika laporan statusnya sudah beres, kemudian kami diminta, maka Bappeda bergerak dan berpendapat. Sekarang ini kan belum. Karena masih proses hukum, jadi belum ranah Bappeda,” kilahnya. (amu/zal/aro/ce1)