Pemeran Film Night Bus Sapa Penonton Platinum Cineplek Magelang

Perjalanan dan Teror Mencekam dalam Bus Malam

1343
KOMPAK : (Dari kiri) para pemeran film Night Bus, Tio Pakusadewo, Rahael Ketsia, Hana Prinantina, Alex Abbad, dan Teuku Rifnu Wikana menunjukkan kekompakannya saat berkunjung ke Platinum Cineplex Magelang, Kamis (6/4) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KOMPAK : (Dari kiri) para pemeran film Night Bus, Tio Pakusadewo, Rahael Ketsia, Hana Prinantina, Alex Abbad, dan Teuku Rifnu Wikana menunjukkan kekompakannya saat berkunjung ke Platinum Cineplex Magelang, Kamis (6/4) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Pemutaran film Night Bus garapan sutradara Emil Heradi di Platinum Cineplex Magelang menuai pujian. Terlebih, 5 pemeran penting dalam film tersebut hadir menyapa penggemarnya, Kamis (7/4) malam. Mereka adalah Tio Pakusadewo, Rahael Ketsia, Hana Prinantina, Alex Abbad, dan Teuku Rifnu Wikana.

NIGHT Bus menjadi debut perdana Darius Sinathrya sebagai produser film. Film ini bercerita tentang perjalanan sebuah bus malam  Babad, dari terminal keberangkatan Kota Rampak menuju daerah konflik Kota Sampar. Dalam bus tersebut, para penumpang mempunyai tujuan masing-masing.

Selama perjalanan, banyak tragedi pilu yang mampu menguras emosi, juga air mata. Kontak senjata antara pasukan Sampar Merdeka (Samerka) dengan aparat pemerintah kental terlihat. Lalu, bandit-bandit yang melucuti harta para penumpang bus. Teror mencekam terjadi sepanjang perjalanan menuju Kota Sampar.

Teuku Rifnu Wikana yang juga produser film ini mengatakan, sebelum film ini dibuat, ia menulis cerpen berjudul “Selamat” yang menceritakan perjalanannya menuju suatu daerah konflik. Lalu, ia mengumpulkan teman-temannya untuk mewujudkan itu menjadi sebuah film.

“Namun karena kendala di beberapa production house (PH) belum ketemu yang cocok, maka kita mencari jalan sendiri dan di 2014 ketemu sama Darius serta dukungan dari  rekan-rekan lain, film ini menjadi lengkap. Penggarapannya sekitar 1 tahun 9 bulanan,” kata Rifnu yang juga berperan sebagai kernet bus Babad.

Aktor senior Tio Pakusadewo menambahkan, film dengan setting terbatas ini bukan berarti kreativitasnya dibatasi oleh ruang. Justru menantang, karena dengan ruang yang tidak luas, namun bisa menghasilkan karya yang berkualitas. “Jadi terbatas itu jangan diartikan hanya di dalam bus saja loh. Karena juga di luar. Misalnya saat bus berhenti, di situlah terjadi konflik,” ujarnya.

Dikatakan Alex Abbad, film ini memang terbilang unik dan baru. Selama ini, kata dia, belum ada film Indonesia yang mewakili bentuk cerita seperti dalam film Night Bus dan karakter-karakter  yang ada. “Dari dua hal yang berbeda itu membuat film ini menjadi sesuatu yang baru untuk generasi kita,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu penonton, Faujun Dwi Setyo mengakui film Night Bus mewarnai dunia perfilman Indonesia. Usai menonton, ia  bisa membayangkan kondisi sebuah daerah yang sedang terjadi konflik. “Ternyata, kekerasan itu tidak mengenal korbannya siapa, dari mana, dan kondisinya seperti apa,” tutur pemuda 27 tahun ini. (put/ton)