Juara Latber, Harga Melonjak

804
KICAU MANIA: Sejumlah peserta latihan bersama di Selomerto sedang mempersiapkan burung andalannya. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
KICAU MANIA: Sejumlah peserta latihan bersama di Selomerto sedang mempersiapkan burung andalannya. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

WONOSOBO–Bagi pencinta burung atau biasa disebut kicau mania, mengikuti latihan bersama (latber) atau latihan prestasi (latpres) menjadi hal yang pastinya rutin dilakukan. Motivasi mengikuti kegiatan ini cukup beragam. Mulai dari yang benar-benar ingin tanding dengan target memboyong piala, hingga yang berpartisipasi ala kadarnya, sekadar ingin berbaur sesama pecinta burung dan berbagi ilmu.

Setiap ada even latber atau latpres digelar, ratusan kicau mania dari berbagai daerah berbondong memadati tempat dilangsungkannya acara. Seperti yang terlihat di acara latber ‘Lestari Jaya’ di Desa Mertosari, Selomerto, Jumat (7/4). Ratusan kicau mania dari berbagai daerah, terutama Kedu, berkumpul, melatih dan mengadu burung terbaiknya.

“Setiap Jumat kita adakan latihan di sini. Untuk peserta masih didominasi kabupeten sekitar, seperti Banjarnegara, Purworejo, Magelang dan Temanggung,” ucap Soleh Albejo, penggagas event latber di Selomerto tersebut.

Dari latber yang sudah dirintisnya setahun silam, konon mulai bisa dirasakan manfaatnya. Baik untuk dirinya, masyarakat maupun peserta latber itu sendiri. Contoh konkrit, melalui latber yang digagasnya itu, mampu menarik tamu tamu luar daerah untuk berkunjung, sehingga mampu memberi dampak positif bagi ekonomi warga. Dan yang pasti, burung yang mendapatkan juara dalam latber, harganya akan naik berkali-kali lipat. “Kalau nggak pernah ikut event dianggap burungnya biasa-biasa saja. Harganya standar,” katanya.

Sebagai contoh, burung love bird yang standarnya dijual Rp 300-600 ribu bisa naik seharga Rp 4-6 juta jika berhasil menggondol juara 1. Untuk jenis, murai yang tadinya hanya Rp 4-5 juta bisa naik menjadi Rp 15 juta.

Wasit yang bertugas dalam latber Lestari Jaya, Hermanto menerangkan, ada tiga hal yang dinilai. Meliputi materi burung, volume suara dan gaya tarung dalam pertandingan. “Dari aspek ketiga itu kita lakukan penilaian. Burung dengan akumulasi nilai terbaik menjadi juaranya,” jelasnya. (cr2/ton)