Dinkes Tegaskan Vape Berbahaya Bagi Anak

1912

UNGARAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang, memastikan jika rokok elektrik (vape) sangat berbahaya apabila dikonsumsi anak-anak.

Kepala Dinkes Kabupaten Semarang, Gunadi, mengatakan selain membahayakan kesehatan, vape juga bakal berdampak negatif bagi perkembangan psikologis anak-anak.

“Rokok elektrik maupun rokok biasa (tembakau) sama saja, sama-sama membahayakan, tidak baik bagi tubuh,” ujar Gunadi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (7/4).

Dijelaskan Gunadi, meski belum ada penelitian resmi akan dampak kesehatan, namun ia tetap yakin vape bakal membuat buruk kesehatan organ vital. Seperti paru-paru maupun jantung. Hal itu dikarenakan asap yang dihisap dari vape merupakan hasil pembakaran secara elektrik.

“Paru-paru itu kan butuh oksigen, sedangkan asap itu kan hasil pembakaran yang mengandung karbondioksida. Jadi, jelas akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia,” katanya.

Terkait dengan beberapa orang tua di Kabupaten Semarang yang mulai resah lantaran mendapati anak-anaknya mengonsumsi vape, Gunadi akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora).

Koordinasi tersebut menyangkut langkah antisipasi pencegahan agar pemanfaatan vape tidak meluas ke kalangan anak-anak. “Kami juga akan minta puskesmas dan tenaga medis di wilayah untuk lebih menyosialisasikan bahaya vape ke para orang tua, agar bisa lebih memperhatikan anak-anaknya,” ujarnya.

Kabid Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Semarang, Ngakan Putu, menambahkan, dari sisi psikologis, vape juga akan mengikis tumbuh kembang mental anak. “Vape memang bisa menjadi salah satu cara menghindari rokok. Tapi, bagi anak-anak, vape malah bisa menjadi pintu masuk merokok,” katanya.

Ketika sudah menjadi kebiasaan dan menjadi ketagihan, anak-anak akan terus membeli bahan liquid. Padahal liquid dibanderol dengan harga mahal, termurah Rp 30 ribu. Bagi kantong seusia anak SD, harga tersebut sangat mahal. “Nanti akan bermuara pada tindakan yang tidak benar, kenakalan anak-anak hingga kriminalitas. Pertanyaannya, apakah kita ingin generasi muda kita bermental demikian ?” ujarnya.

Ngakan memandang faktor lingkungan sangat memengaruhi peredaran vape di kalangan anak di bawah umur. “Pertama ikut-ikutan, karena biar dianggap jagoan atau bisa diterima di pergaulannya,” katanya. Karenanya, pengawasan orang tua sangat dibutuhkan di lingkungan anak. (ewb/aro)