Balita Terjun dari Lantai 3 Rusunawa

Pagar Keropos, Diganti Bambu

621
BIKIN CELAKA: Petugas Polsek Gayamsari menunjukkan TKP korban terjatuh dari lantai 3 Rusunawa Kaligawe Blok yang pagarnya sudah hilang. (Inzet) Korban Wandafa Albiansyah saat dirawat di ruang ICU RSI Sultan Agung. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BIKIN CELAKA: Petugas Polsek Gayamsari menunjukkan TKP korban terjatuh dari lantai 3 Rusunawa Kaligawe Blok yang pagarnya sudah hilang. (Inzet) Korban Wandafa Albiansyah saat dirawat di ruang ICU RSI Sultan Agung. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Kaligawe kembali menelan korban jiwa. Kali ini, Wandafa Albiansyah, bocah berusia 3 tahun tewas terjatuh dari lantai 3 Rusunawa Kaligawe Blok C di Kelurahan Kaligawe, Gayamsari, Semarang, Jumat (7/4) pagi sekitar pukul 07.30 kemarin. Putra pasangan Iwan Darmawan, 30, dan Dhani, 29,  yang tinggal di Rusunawa Kaligawe Blok C Lantai 3 Nomor 11 B RT 6 RW 8 Kelurahan Kaligawe itu menemui ajal setelah 10 jam dirawat di Ruang ICU RSI Sultan Agung, Semarang. Balita tersebut mengalami luka patah tulang di pergelangan tangan kanan serta luka dalam di kepala bagian belakang.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang di tempat kejadian menyebutkan, nahas yang dialami Dafa –panggilan akrab korban—bermula saat ia mengikuti ayahnya Iwan membuang sampah di luar rumahnya Blok C lantai 3. Sampah itu tinggal dibuang lewat cerobong yang langsung jatuh ke tempat sampah di lantai bawah.

Menurut Alifah, 27, warga yang tinggal di Blok G lantai 5, usai membuang sampah, Dafa sempat saling bercanda dan kejar-kejaran dengan kakaknya. Saat itu, sang ayah tidak terlalu memperhatikan.

”Saat  bercanda sama kakaknya itu, Dafa sempat berlari terlalu kencang hingga tubuhnya terjungkal saat berada di pinggiran pagar lantai 3. Kebetulan pagar lantai 3 itu sudah bolong, salah satu besinya hilang,” ceritanya kepada koran ini.

Seketika, korban meluncur jatuh ke lantai bawah. Saat terjatuh kepala bagian belakang membentur paving. Demikian pula tangan kanannya. Akibatnya, korban langsung pingsan. ”Dafa tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan kepala bagian belakang mengalami luka dalam serius. Pergelangan tangan kanannya patah,” jelasnya.

Jatuhnya korban menimbulkan suara gaduh hingga mengejutkan warga rusunawa. Apalagi setelah mendengar teriakan minta tolong ayah korban. Seketika warga keluar dari rumah masing-masing. Selain itu, beberapa ibu-ibu yang sedang belanja di lantai dasar Rusunawa Kaligawe langsung berkerumun melihat kondisi bocah tak berdosa tersebut. Iwan yang panik langsung memanggil istrinya. Dibantu warga, ia pun membawa putranya ke UGD RSI Sultan Agung naik sepeda motor untuk mendapatkan perawatan intensif.

Di rumah sakit, korban langsung dimasukkan ke ruang ICU anak (PICU). Tubuh korban dipasangi peralatan medis seperti alat bantu pernapasan. Kedua orang tua korban terlihat shock. Bahkan ibu korban terus-terusan menangis.

Ketua RW 10 Kelurahan Kaligawe, Sudrayana, yang mendampingi keluarga korban selama di rumah sakit menjelaskan, kondisi Dafa kritis dan tak sadarkan diri sejak pagi. Seharian ia dan seorang warga Rusunawa Kaligawe lain mendampingi, dan mengurus segala keperluan di rumah sakit.

”Tidak ada yang menjenguk Mas, tetangga dan saudara tidak ada yang ke sini sampai sore ini. Padahal ini musibah. Sebagai manusia di mana rasa kemanusiaannya, mereka (keluarga korban, Red) memang bukan warga kami di RW 10. Tapi, tidak ada yang membantu mereka, kami berdua temani dan bantu menginformasikan ke Pak Lurah dan lain-lain tentang kondisi mereka di sini yang butuh perhatian Pemkot Semarang,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Sudrayana langsung melaporkan ke kepolisian dan Lurah Kaligawe. Berikut Lurah Kaligawe Usman Budi Raharjo menyampaikan kondisi korban Dafa Aldiansyah ke Camat Gayamsari hingga Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Kapolsek Gayamsari Kompol Dedi Mulyadi mengungkapkan, menurut saksi termasuk ayahnya disebutkan bahwa korban saat itu sedang bermain kejar kejaran bersama kakaknya di lantai 3. ”Saat itu, ayah korban hendak membuang sampah, lalu korban mengikuti dari belakang sambil bermain kejar-kejaran dengan kakaknya, tiba-tiba kepeleset dan langsung jatuh ke lantai dasar,” bebernya.

Dedi menambahkan, kasus seperti ini sudah kali kedua terjadi selama dia menjabat Kapolsek Gayamsari. Kejadian sebelumnya pada 2016, saat itu pihaknya telah mengimbau warga yang tinggal di rusunawa untuk selalu mengawasi anak-anaknya. Karena ketinggian pagar rusunawa tersebut belum ideal.

”Kami juga sudah mengimbau kepada pengelola rusunawa untuk segera menutup rapat pagar rusun yang berada di lantai dua hingga seterusnya, agar aman dan tidak bisa dijangkau anak-anak. Namun sampai kejadian kedua ini belum ada tindak lanjut,” kata Dedi menyayangkan.

Disinggung mengenai langkah yang akan diambil Polsek Gayamsari, Dedi menegaskan akan berkoordinasi dulu dengan pihak terkait dalam hal ini pemangku wilayah setempat. ”Saya akan berkoordinasi dengan Camat Gayamsari. Selain itu, pengelola rusunawa nanti akan kami panggil untuk diperiksa,” tegasnya.

Dokter piket Ruang ICU dan UGD RSI Sultan Agung Semarang, Cahyo Adiwicaksono, mengungkapkan, saat tiba di rumah sakit, kondisi korban sudah tidak sadarkan diri.  ”Kami curiga ada permasalahan di kepala, leher, dan panggul. Hasil pemeriksaan kepala pasien mengalami luka memar dan luka dalam istilah kami hematom. Kami juga melakukan pemeriksaan penunjang hasilnya belum keluar. Kondisi masih tidak sadar sampai saat ini,” katanya.

Rupanya Tuhan memang menakdirkan Dafa berumur pendek. Sekitar pukul 17.30 atau setelah 10 jam dirawat petang kemarin, ia akhirnya meninggal dunia. Kedua orang tua korban terlihat shock. Ia tak menyangka bakal kehilangan anaknya dengan cepat. ”Dafa itu sangat dekat sama saya. Ke mana-mana selalu mengikuti saya. Kebetulan saat saya mau membuang sampah, ibunya sedang memasak,” tutur Iwan sedih.

Iwan mengakui, banyak pagar pembatas di Rusunawa Kaligawe yang hilang. Termasuk di pagar yang telah membuat putranya celaka tersebut. ”Awalnya kondisi pagar tersebut keropos lalu besinya hilang. Pihak pengelola rusunawa sudah pernah ngecek, tapi entah mengapa nggak segera diperbaiki,” keluh pria yang bekerja sebagai buruh pabrik sepatu ini.

Saat koran ini mengecek TKP jatuhnya Dafa di Rusunawa Kaligawe, pagar di dekat tangga lantai 3 sudah bolong. Besi pagar hilang dan hanya diganti bambu. Namun demikian, tetap saja kondisi tersebut mengkhawatirkan yang akhirnya menimbulkan korban jiwa.

Tidak hanya di pagar tempat jatuhnya korban, banyak besi di hampir semua tangga keropos. Selain itu, banyak besi pagar yang hilang dan diganti bambu. Tentu saja, tidak sekuat menggunakan besi. Ironisnya, kondisi ini tidak segera ditangani pengelola rusunawa.

Sebelumnya, kejadian serupa dialami Adrian Laksana Suryo Prasetyo, 5. Ia terjatuh dari lantai 3 Rusunawa Kaligawe pada 29 September 2016 lalu. Beruntung Adrian selamat dari maut. Namun ia harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit beberapa hari. Saat itu, semua biaya pengobatan Adrian ditanggung Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (mg26/mg30/aro/ce1)