MENUJU WARISAN DUNIA: Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu saat paparan dalam ”Kick Off Penyusunan Studi Penetapan dan Pra Desain Kawasan Prioritas Kota Lama Semarang”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
MENUJU WARISAN DUNIA: Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu saat paparan dalam ”Kick Off Penyusunan Studi Penetapan dan Pra Desain Kawasan Prioritas Kota Lama Semarang”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Kota Lama Semarang akan mengusung tema Pusat Perdagangan Gula Dunia untuk mengejar target menjadi World Heritage Site UNESCO. Tema tersebut dirasa cocok sebab Kota Semarang pernah menjadi pusat bisnis gula dunia yang dijalankan Oei Tiong Ham.

”Temanya tema gula, karena untuk menjadi world heritage harus ada temanya. Namun nantinya tidak hanya memprioritaskan bangunan milik Oei Tiong Ham,” ujar Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu saat paparan dalam “Kick Off Penyusunan Studi Penetapan dan Pra Desain Kawasan Prioritas Kota Lama Semarang” di Novotel, Kamis (6/4).

Dalam acara yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) tersebut, Hevearita berujar, Kota Lama harus dijadikan living heritage sebelum menjadi world heritage. Selain bangunan-bangunan milik Raja Gula Asia, tema tersebut dapat dikaitkan dengan keberadaan menara pandang syahbandar dan jalur pelayaran yang dikelola Samudera Indonesia.

Kementerian PU-PR akan mengucurkan dana Rp 40 miliar guna pengembangan Kota Lama. Sedangkan Pemprov Jateng hanya membantu Rp 5 miliar.

Ita-sapaan akrab Hevearita menyambut baik langkah Kementerian PU-PR yang membuka diri. Hal tersebut merupakan tindak lanjut audiensi ke Kementerian yang konsen dengan perkembangan Kota Lama. ”Bahkan Kementerian tak hanya ingin mengembangkan Kota Lama. Tapi sampai ke kampung Arab di Kauman, hingga Pecinan,” kata Wakil Wali Kota Semarang tersebut.

Saat ini, Kota Lama Semarang tetap masuk dalam daftar sementara warisan budaya dunia UNESCO. Sementara dua tentative list lainnya, yaitu Sawahlunto dan Kota Tua telah dicoret. Dia optimistis Kota Lama akan tembus menjadi World Heritage Site. Optimisme tersebut muncul setelah dirinya bertemu dengan perwakilan UNESCO di Paris, Perancis, beberapa waktu lalu. ”Bahkan kami ditunjuk jadi salah satu narasumber pencegahan bencana di kawasan heritage yang digelar di Penang, Malaysia. Dua narasumber lainnya dari Malaka dan Fiji,” tandasnya.

Sementara Nur Miladan dari Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Sebelas Maret (UNS) mengatakan, untuk menjadi kawasan kota pusaka yang resilien, sejumlah infrastruktur dibutuhkan. Di antaranya prasarana drainase dan polder seperti kanal, kolam retensi, dan sistem pompa. Selain itu, jalan, trotoar, dan jembatan, ruang terbuka hijau yang adaptif banjir. Prasarana persampahan dan air limbah terpadu mengikuti struktur jalan dan air bersih terpadu juga tak kalah penting untuk dibangun. (ric/ce1)