Canangkan 12 Ribu Perempuan Berkebaya

1971
SIAP BERKEBAYA : TP PKK dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pekalongan, siap menggelar acara 12 ribu perempuan berkebaya. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
SIAP BERKEBAYA : TP PKK dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pekalongan, siap menggelar acara 12 ribu perempuan berkebaya. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

KAJEN – Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pekalongan, bekerjasama dengan Pemkab Pekalongan akan menggelar acara 12 ribu perempuan berkebaya anti korupsi, yang akan diikuti ibu-ibu PKK mulai dari tingkat desa hingga tingkat kecamatan.

PNS di lingkungan Pemkab juga diwajibkan berkebaya pada 22 April mendatang, untuk mengikuti Apel Besar Hari Kartini ke-138 tahun 2017, di Alun-alun Kajen.

Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan, Hj. Munafah Asip Kholbihi mengungkapkan untuk membudayakan perempuan berkebaya di Kabupaten Pekalongan, pihaknya akan mengadakan acara 12 ribu perempuan berkebaya anti korupsi.

Menurutnya dengan dicanangkannya 12 ribu perempuan berkebaya tersebut, diharapkan akan berdampak pada peningkatan ekonomi kretif pada pengrajin batik di Kabupaten Pekalongan, karena akan meningkatkan penjualan kain kebaya. “Meski temanya Sepuluh Ribu Perempuan Berkebaya, namun pada kenyataanya nanti ada 12 ribu perempuan berkebaya,” ungkapnya.

Dia mengatakan pada acara tersebut juga akan digelar deklarasi penandatangan perempuan anti korupsi atau Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK), pada kain putih sepanjang 580 meter, yang akan dibentangkan di sepanjang lapangan Alun-alun Kajen.

Menurutnya acara itu akan digelar rutin setiap tahunnya, dan Peringatan Hari Kartini dengan perempuan berkebaya akan diperingati oleh semua perempuan yang ada di Kabupaten Pekalongan, layaknya peringatan seperti lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Untuk tahap awal ini, peserta perempuan berkebaya masih dari PNS perempuan di Kabupaten Pekalongan, anggota PKK se-Kabupaten Pekalongan, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Fatayat, Aisyiah, Muslimat NU, SMU se-Kabupaten Pekalongan, Perbankan, IGTKI, HIMPAUDI, PGRI, Dekranasda, Puskesmas se-Kabupaten Pekalongan, dan masyarakat umum.

Dia menegaskan bahwa perempuan berkebaya akan dicanangkan sebagai budaya berbusana, yang harus dikenakan oleh semua perempuan di Kabupaten Pekalongan. Hal itu dilakukan karena berkebaya adalah budaya leluhur yang harus dipertahankan.

Sementara itu, Pengurus Komunitas Perempuan Berkebaya, Rahmi, menandaskan maksud dan tujuan kegiatan perempuan berkebaya itu, untuk mengingatkan kembali suri tauladan dan semangat juang RA Kartini di kalangan masyarakat, meningkatan keadilan dan kesetaraan gender, serta meningkatkan pengetahuan dan peran perempuan dari bidang budaya, pendidikan, dan pemerintahan.

“Dengan berkebaya sikap duduk kita juga lebih santun dan sopan, jadi berkebaya ini mempunyai banyak nilai luhur yang terkandung, bukan hanya sekedar berkebaya,” tandasnya. (thd/ric)