SUDAH PULIH : Kegiatan belajar mengajar SMA Taruna Nusatara sudah mulai pulih pascapembunuhan terhadap salah satu siswanya Kresna Wahyu oleh rekan satu baraknya, akhir pekan lalu. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)
SUDAH PULIH : Kegiatan belajar mengajar SMA Taruna Nusatara sudah mulai pulih pascapembunuhan terhadap salah satu siswanya Kresna Wahyu oleh rekan satu baraknya, akhir pekan lalu. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)

MUNGKID—Kasus tewasnya Kresna Wahyu Nuracmad, 15, oleh rekannya sendiri membuat SMA Taruna Nusantara melakukan sejumlah langkah antisipasi. Pihak sekolah akan men-screaning kembali para siswa untuk mengantisipasi adanya perilaku pelajar lain yang mirip tersangka AMR, 16.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan, Cecep Iskandar, mengatakan, proses identifikasi dilakukan bersamaan dengan rehabilitasi psikis para siswa. Dari kegiatan ini, selain memulihkan trauma, juga mengidentifikasi kemungkinan adanya siswa yang berperilaku mirip tersangka. “Kita akan melakukan rehabilitasi psikis dengan mengadakan perbincangan, berdoa, dan beribadah,” katanya, kemarin.

Kegiatan tersebut, kata dia, sudah dilakukan sejak dua hari terakhir. SMA TN mendatangkan tim psikiater untuk memberikan pendampingan kepada siswa. Menurut Cecep, pendampingan dilakukan beberapa tahap. Mulai konsultasi, katarsis, kurasi, dan pengobatan. Selain untuk pemulihan psikologis siswa, Cecep berharap kegiatan tersebut mampu mengidentifikasi siswa-siswa yang dianggap berperilaku seperti AMR.

Cecep juga menyampaikan, pihaknya akan menambah pengetatan pengawasan terhadap para pelajar. Di antaranya, dengan memeriksa barang bawaan pelajar usai dari luar asrama. Sekolah, kata Cecep, melalui pamong rutin melakukan razia tiga hari sekali. Razia dilakukan dengan membuka lemari siswa dan tempat-tempat yang dirasa perlu diperiksa. “Selain merazia, kami juga menanyakan kondisi siswa seperti apa? Dari situ, kami tahu siapa yang sedih dan bergembira.”

Cecep menambahkan, pihak sekolah juga sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan orang tua siswa dan yayasan serta alumni. Wali murid, katanya, meminta menajemen sekolah melakukan rehabilitasi psikologis kepada siswa yang trauma akibat kasus pembunuhan tersebut. Orang tua juga mendesak kepada pihak sekolah untuk menangani siswa yang mengungsi dari lokasi pembunuhan agar dipindahkan ke kamar kamar lain. Tujuannya, agar mereka tidak mengganggu proses belajar. Sebagian siswa ketakutan setelah mendengar ada pembunuhan.

Rapat dipimpin oleh Kepala Komite SMA Taruna Nusantara, Letjen (Purn) Bambang Darmono. Dihadiri pula oleh Ketua Alumni Sekolah Taruna Nusantara (Ikasetara), Rahmat Kaimudin. Dalam pertemuan tersebut, pimpinan sekolah menyampaikan komitmennya untuk membantu kepolisian dalam proses penyelidikan.

Cecep tidak menyangkal ada siswa yang trauma, meski belum dilakukan pengecekan secara ilmiah. Sejak peristiwa tersebut, Cecep pernah mendapati seorang siswa yang tidak bisa tidur. “Takut saja Pak, ada pembunuh di sekitar sini,” kata Cecep, menirukan salah satu siswa.

SMA Taruna Nusantara, katanya, berdiri di atas lahan seluas 27 hektare. Di dalamnya, ada 30 asrama. Sebanyak 21 di antaranya diperuntukkan bagi siswa. Sedangkan 9 asrama lain diperuntukkan untuk siswi. Asrama siswa dijaga enam orang; dan asrama siswi tiga orang dengan berkeliling. “Mereka yang berjaga adalah pensiunan dan ada bintara aktif dari Polri dan TNI. Setelah semalaman berjaga, besoknya mereka libur.”

Di pos pengamanan depan, dijaga enam orang. Sedangkan di pos pengamanan belakang, dijaga dua orang. Di wisma tamu terdapat tiga orang yang berjaga. Sedangkan satu orang bertugas sebagai operator. “Kalau sama dapur semalam, bisa sebanyak 30 orang yang berjaga,” katanya.

Sementara itu, kegiatan di SMA Taruna Nusantara tetap berjalan seperti biasa. Proses pendampingan psikologis masih terus dilakukan. Sedikitnya, ada 27 psikolog yang mendampingi para siswa. (vie/isk)