Mengunjungi Kampoeng Djadhoel Rejomulyo Semarang

Sejarah Semarang Dilukis Mural Sepanjang 46 M

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

Kampung Batik Tengah, Rejomulyo, Semarang Timur melakukan rebranding. Warga setempat menjadikan wilayahnya sebagai Kampoeng Djadhoel. Di sini, warga memvisualisasikan sejarah Semarang dalam lukisan mural wayang beber sepanjang 46 meter. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

GAPURA bambu beratap daun lontar berciri khas sederhana menyambut pengunjung yang datang di Kampoeng Djadhoel Jalan Batik Tengah RT 4 RW 2, Rejomulyo, Semarang Timur. Kampoeng Djadhoel ini berbeda dengan Kampung Tematik Batik yang sudah dikenal dan mendapat perhatian Pemkot Semarang. Di kampung ini tidak ada toko batik, karena konsepnya lebih ke pengungkapan dan pengenalan kembali sejarah yang diawali dengan lukisan mural batik, mural wayang beber, dan rumah produksi batik.

Masuk ke dalam kampung setiap tembok rumah warga dilukis motif batik warna-warni dengan tinggi lukisan sekitar 2 meteran. Yang paling menarik adalah sejarah Kota Semarang sejak abad ke-8 yang divisualisasikan melalui mural wayang beber sepanjang 46 meter. Motif lukisan kayu ukir dibuat mengelilingi mural tersebut.

Sekretaris RT 4 RW 2 Kampoeng Djadhoel, Luwiyanto, menceritakan visualisasi sejarah Kota Semarang dalam lukisan mural wayang beber itu dimulai dari Kerajaan Mataram Kuno, hingga berdirinya Kota Semarang oleh Ki Ageng Pandanaran yang membuka wilayah lengkap dengan penggambaran pohon asam yang tumbuh jarang-jarang sebagai asal-usul nama Semarang. Penyebaran agama Islam turut diceritakan, yakni kedatangan pelaut Tiongkok, Laksamana Cheng Ho dengan kapal besarnya di wilayah Simongan.

Tokoh lain lain adalah Sunan Kalijaga yang dikisahkan mendekati Sunan Pandanaran II, karena sifatnya yang materialistis. Sunan Pandanaran II kemudian menjadi murid Sunan Kalijaga. ”Cerita sejarah Kampung Batik Semarang juga kami visualisasi dalam lukisan mural,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan Luwiyanto, dalam sejarahnya, produksi batik tidak hanya di Kampung Batik saja. Namun juga di rumah-rumah para pembatik, di antaranya di Kampung Rejosari, Kampung Kintelan, Kampung Karang Doro, Mlaten Trenggulun, Kampung Darat, dan Kampung Layur.

Ketua RT 4 RW 2 Kampoeng Djadhoel, Dwi Christianto, menjelaskan Kampoeng Djadhoel baru dimulai sejak 17 Desember 2016 lalu. Dengan waktu singkat, upaya mengenalkan sejarah dimulai dengan membenahi wajah kampung terlebih dahulu. Yakni, dengan memberi lampu penerangan, penghijauan, lukisan mural batik, dan sejarah Kota Semarang pemasangan pigura batik.

”Awalnya kampung ini rawan pencurian, penjambretan dan pembunuhan karena kampung gelap. Dari situ, kami sepakat membuat kampung yang hidup dengan mengenalkan sejarah kembali melalui visualisasi,” ujarnya.

Warga sepakat dengan ide itu. Karena kampung batik dengan sejarahnya milik semua orang. Sejak saat itu, setiap malam hingga sekarang seluruh warga kerja bakti mengecat dan menata kampung. Semua dikerjakan dengan bergotong royong, tanpa ada beban. ”Bahkan warga sampai tidur di jalan-jalan kampung sambil kerja bakti melukis. Pertemuan membahas konsep kampung pun bisa dilakukan di mana saja, baik di rumah-rumah warga secara bergantian atau di jalan kampung. Alhamdulillah saat ini kampung aman. Dulu kampung gelap dan rawan, sekarang jadi gemebyar. Seluruh warga guyub,” katanya.

Diakui, Kampoeng Djadhoel, bukan kampung tematik yang mendapat kucuran dana dari Pemkot Semarang senilai Rp 200 juta. Namun semua biaya memoles kampung berasal dari swadaya warga yang berjumlah 24 KK. ”Belum ada bantuan apa pun. Namun pemkot sudah memberi apresiasi atas apa yang kami lakukan,” ujarnya.

”Pak Camat Semarang Timur bilang pemkot sudah respons. Katanya Pak Wali (Hendrar Prihadi, Red) oke. Kami juga akhirnya dipercaya jadi wakil lomba rumah sehat se-Kota Semarang. Tapi sebenarnya tujuan kami bukan rumah sehat, namun apresiasi ini kami terima secara positif. Karena kampung batik bukan hanya ada di wilayah kampung tematik yang ditunjuk saja, tapi semuanya,” katanya.

Ia mengungkapkan, masyarakat sudah tertarik dengan Kampoeng Djadhoel. Pelajar sampai wisatawan mancanegara seperti Australia dan Kanada sudah tertarik datang. Padahal pembuatan Kampoeng Djadhoel belum sampai 50 persen. Masih banyak yang perlu ditata. ”Kampung masih akan ditambah 500-an pigura lukisan batik atau gambar sejarah lain yang dipasang di luar rumah warga,” ujar Luwiyanto, yang juga penggagas klub Sepeda Onthel Semarang ini.

Konsep lain yang sedang akan dibuat adalah lukisan 3 dimensi di jalan kampung. Tentunya untuk melengkapi suasana kampung dengan visualisasi sejarah. ”Fokus Kampoeng Djadhoel ini bukan kain batik. Tapi pigura lukisan batik. Saya kira ini potensi. Tapi, kain batik juga tetap diproduksi. Secepatnya juga buku tentang sejarah Kota Semarang jadi, kami sedang membuatnya agar pengenalan sejarah dapat penuh,” tuturnya. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -