Lebih Dekat dengan Sekolah Peraih Adiwiyata Lingkungan di Batang

Siswa-Siswi Peduli Lingkungan, Piawai Membuat Pupuk Kompos

1993
CIPTAKAN PUPUK ORGANIK : Berbekal bahan sederhana, air kelapa, gula Jawa dan Yakult, siswa binaan PT BPI dari SDN Simbangjati Tulis Kabupaten Batang, mampu menciptakan pupuk cair organik ampuh untuk tanaman di sekitar sekolahnya. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
CIPTAKAN PUPUK ORGANIK : Berbekal bahan sederhana, air kelapa, gula Jawa dan Yakult, siswa binaan PT BPI dari SDN Simbangjati Tulis Kabupaten Batang, mampu menciptakan pupuk cair organik ampuh untuk tanaman di sekitar sekolahnya. (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

Komitmen tinggi PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pengembang PLTU Batang 2×1000 MW terhadap pelestarian lingkungan, diwujudkan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) sekolah berbasis pelestarian lingkungan. Ada 7 sekolah yang dibina sejak tahun 2016, mendapat penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Batang. Salah satunya, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karangjati di Desa Karangjati Kecamatan Tulis.

Lutfi Hanafi, Batang

MEMASUKI area SDN Karangjati di Desa Karangjati Kecamatan Tulis, semua terasa asri dan sejuk. Gemiricik air kolam dari pancuran buatan, menambah suasana ala pedesaan yang sangat kental. “Kalau ada yang buang sampah sembarangan langsung kami tegur,” ucap Farid Akbar, siswa kelas 6 yang juga salah satu petugas lingkungan di SDN tersebut.

Sambil merapikan rompi kuningnya, Farid bercerita, sejak adanya Program Adiwiyata dari PT BPI, sekolahnya memiliki program pelestarian lingkungan. Juga membetuk tim khusus, dengan seragam rompi kuning terang.

“Selain menjaga kebersihan sekolah, kami juga bertugas membuat penghijauan lingkungan. Dari taman bunga, hingga menanam tanamam sayuran dan buah,” ujarnya.

Ketika berkeliling ke sekitar sekolah tersebut, hampir di setiap sudut selalu ada tanaman. Bahkan setiap lokasi ada temanya, diberi jenis tanaman tertentu. Mulai jenis bunga yang identik, sayuran organik dengan teknik tanam deplot hingga pohon buah dengan teknik stek dan sambung. Sayuran dan buah yang mereka tanam cukup subur, bahkan sebagian sudah siap panen.

Ternyata rahasia tanaman subur tersebut, bukan karena pola tanam yang tepat, tapi didukung pupuk yang tepat dan berkualitas. Untuk mendapatkan pupuk, sengaja memilah tong sampah menjadi dua jenis. Yakni untuk sampah organik dan non organik. Sampah organik seperti daun dan rumput yang bisa dijadikan pupuk kompos. Sedangkan sampah non organik, didaur ulang dan dikumpulkan di Bank Sampah Sekolah. “Pupuknya kami buat sendiri, dengan bahan sederhana,” tuturnya, sambil mengajak masuk ke ruangan kecil di belakang sekolah.

Di tempat tersebut, Farid menunjukkan beberapa botol bekas minuman kemasan, kaleng biskuit dan dua jerigen kecil. Untuk membuat pupuk organik cair, mereka menggunakan air kelapa, air gula Jawa atau aren serta Yakult sebagai bakteri fermentasi. Ketiga bahan tersebut, dicapur dengan takaran tertentu dan dibiarkan selama waktu yang ditentukan sesuai jumlah liter yang dibutuhkan. Harus ditaruh di jerigen rapat kedap udara, agar gas yang ditimbulkan tidak menyembabkan ledakan. Kemudian airnya dialirkan melalui botol mineral. Gas bisa beluar, namun udara luar tidak bisa masuk ke jerigen fermentasi. “Ini yang mengajari guru kami. Karena kami sudah terbiasa, kami rutin memproduksi sendiri untuk kebutuhan semua tanaman di sekolah,” jelasnya.

Kepala SDN Karangjati Nining Suwarti menyatakan bersyukur bisa dapat program tersebut. Kini sekolahnya bisa lebih maju di berbagai bidang. “Selain pembangunan fisik, pembangunan mental siswa dan dana pendidikan juga dibangun. Sarana pendukung seperti perpustakaan, hingga taman dan kolam ikan semua dibantu,” tuturnya.

SDN Karangjati adalah salah satu sekolah yang terdampak PLTU Batang, dan mendapat CSR di bidang pendidikan dan sekolah berbasis pelestarian lingkungan. Selain SDN Karangjati, sekolah lainnya yaitu SD N 01 Kenconorejo SDN Cluwuk yang juga berada di Kecamatan Tulis. Kemudian MI Ujungnegoro 02, SD N Karanggenang 02 di Kecamatan Karanggenang. Serta SMP N 02 Kandeman dan SMP N 03 Tersono juga dapat perlakuan sama.

“Pelestarian lingkungan sudah menjadi isu Internasional, karena itu dengan program Sekolah Adiwiyata diharapkan bisa mendidik anak sejak usia dini untuk mencintai lingkungan. Sehingga ke depan, kelestarian alam lingkungan akan selalu terjaga,” ujar Asisten I Sekda Retno Dwi Irianto, mewakili PLt Bupati saat memberikan penghargaan kepada 7 sekolah tersebut, beberapa waktu lalu.

Dirinya mewakili Pemkab Batang mengapresiasi PT BPI, karena sudah mendukunng program Sekolah Adiwiyata di beberapa sekolah dan selalu berhasil. “Masyarakat dan pihak sekolah, kami harapkan turut intensif menyebarkan virus kebaikan terkait upaya pelestarian lingkungan,” harapnya.

Direktur Operasional PT BPI Shiroki Yamasita mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian CSR BPI bidang pendidikan dan lingkungan. “Guna mendukung program pemerintah, BPI mendukung tujuh sekolah di sekitar lokasi PLTU dan dua lainnya, melalui program yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Kehutanan dan Lingkungan,” terangnya.

Ditambahkan Manager CSR PT BPI, Bhayu Pamungkas, pihaknya berkomitmen dalam pengembangan sekolah berbasis tata kelola lingkungan untuk pelestarian alam. Bertujuan untuk agar siswa dan sekolah bisa bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. “Dengan tata kelola lingkungan yang baik, maka kelestarian alam selalu terjaga,” jelasnya.

Program kemitraan Sekolah Adiwiyata tersebut, sudah dimulai sejak Oktober 2016 dengan rancangan kegiatan antara lain kajian lingkungan, penyusunan rencana kerja dan workshop Adiwiyata dilanjutkan studi banding ke sekolah peraih Adiwiyata. Selain itu, dilakukan pula pelatihan dan pembuatan kompos serta daur ulang sampah, pembuatan blog sekolah, pendampingan komite sekolah, dan pelaksanaan kegiatan kurikulum berbasis lingkungan dan lingkungan berbasis partisipatif serta kegiatan lainnya. (*/ida)