Societeen Student Company (SC) Bentukan Siswa SMKN 8 Semarang

Angkat Desa Wisata Nongkosawit Lewat Aplikasi Tourism

841
JUAL LEWAT APLIKASI : Perwakilan siswa SMK N 8 Semarang mencoba menjual Desa Wisata Nongkosawit melalui aplikasi Tosevill yang bisa diunduh melalui playstore. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JUAL LEWAT APLIKASI : Perwakilan siswa SMK N 8 Semarang mencoba menjual Desa Wisata Nongkosawit melalui aplikasi Tosevill yang bisa diunduh melalui playstore. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – KURANG berkembangnya Desa Wisata, Nongkosawit, Kandri, dan Wonolopo memantik keprihatinan siswa SMK N 8 Semarang. Karena itulah, mereka mencoba memanfaatkan teknologi, untuk menjual potensi desa wisata tersebut.

“Kami coba memanfaatkan teknologi untuk menjual desa wisata tersebut dengan aplikasi dan berjualan melalui sosial media,” kata Public Relations Societeen Student Company (SC), Yasinta Metta.

Diakuinya, kepedulian siswa SMKN 8 tersebut tercetus setelah dinaungi Prestasi Junior Indonesia. Kemudian diberikan pelatihan, membuat sebuah produk socialprenuer hingga akhirnya memilih untuk menjual desa wisata.

Dalam pandangannya, Yasinta membenarkan langkah Pemkot Semarang membentuk desa wisata untuk mendongkrak sektor wisata dan memberdayakan masyarakat sekitar agar bisa membuka lapangan kerja sendiri. Sayangnya, promosi desa wisata tersebut masih kurang. Akibatnya, desa wisata yang ada kurang dikenal masyarakat luas.

“Kalau dibilang kalah bersaing sih tidak, setiap desa wisata punya potensi masing-masing. Desa Kandri lebih bisa berkembang, karena mereka gencar menjual di sosial media dan masyarakatnya cenderung aktif,” tuturnya.

Aplikasi yang dibuat, lanjut dia, mirip dengan aplikasi pemesanan pesawat ataupun hotel. Dirinya mengaku saat ini sedang fokus mengembangkan dan menjual Desa Nongkosawit. Setelah berhasil, tentu ke depan akan ada pengembangan ke objek wisata lainnya. “Kami menggandeng pihak penggiat wisata Desa Nongkosawit. Mereka sangat antusias, terlebih setelah dijadikan desa wisata, belum ada wisatawan yang datang ke daerah itu,” tambahnya.

Sebelum menjual Desa Wisata Nongkosawit, sebanyak 20 siswa SMKN 8 tersebut dibuatkan perusahaan SC dan melakukan pengamatan. Hasilnya, selain kurang berkembang karena kurang sosialiasi, di warga Nongkosawit kurang pas dalam memahami maksud pemerintah membuat desa wisata. “Jadi perlu ada sosialiasi bagi warga juga, warga kemudian digerakkan untuk turut serta menjual desa wisata dan menggali potensi lain,” jelasnya.

Dalam aplikasi yang dibuat pasca melakukan pengamatan, ditemukan beberapa potensi yang sebenarnya tidak dimiliki desa wisata lainnya. Untuk menyosialisasikan potensi tersebut, kemudian dibuat paket-paket wisata melalui aplikasi Tosevill yang bisa diunduh melalui playstore.

Ada tiga paket yang dijual, berupa paket petenakan, paket edukasi, dan observasi. Paket itu dijual dengan harga mulai Rp 50 ribu. Paket pertama yakni paket belajar pertanian, peternakan dan memanennya. Paket kedua penangkaran burung, rumah dolanan, pertanian tradisional, nubruk iwak dan souvenir. Dan paket ketiga, berupa observasi sapi perah, pertanian tradisonal, penambahan barat badan ayam pedaging,dan pelatihan batik.

Vice Presiden Of Marketing SC, Ferdi Ferdinan mengakui jika aplikasi tersebut belum sempurna, lantaran para siswa yang tergabung di kelompok perusahaan tersebut masih duduk di kelas 2 dan belum mendapatkan mata pelanjaran tentang pembuatan aplikasi. “Waktunya hanya singkat, jadi perlu ada pengembangan lebih lanjut,” tuturnya.

Rencananya pada 7 Mei mendatang, SC akan mengikuti lomba Ide Kreatif tingkat Kota Semarang. Untuk itu, sebagai perusahaan, mereka membuat kegiatan sosial atau corporate social responsibility (CSR) berupa mengumpulkan sampah botol plastik untuk dijual dan hasilnya diberikan kepada tukang sapu jalanan dan kaum dhuafa dalam bentuk nasi kotak.

“Sampai hari ini, sudah ada 30-an orang yang mengunduh aplikasi yang kami buat. Sudah ada rombongan yang dating. Harapan kami, Nongkosawit bisa lebih maju dan ke depannya kami akan mengakomodasi desa wisata lainnya,” tutupnya. (*/ida)