Sempat Berkelit, Akhirnya Mengaku

Pelaku Pembunuhan Rekan Satu Barak di SMA TN

599
PENGUMUMAN : Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono didampingi Kepala SMA TN dalam jumpa pers terkait pengungkapan kasus pembunuhan di SMA TN. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)
PENGUMUMAN : Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono didampingi Kepala SMA TN dalam jumpa pers terkait pengungkapan kasus pembunuhan di SMA TN. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)

MUNGKID-Pelaku pembunuhan terhadap Kresna Wahyu, 15, pelajar SMA Taruna Nusantara (TN) akhirnya terkuak. Polisi menetapkan AMR, 16, rekan satu barak korban sebagai pelaku pembunuhan sadis tersebut.

Penetapan tersangka ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Jumat malam (31/4) kematin. AMR mengakui semua perbuatannya setelah sempat berkali-kali berkelit. “Tersangka mengakui perbuatannya pada pukul 21.30, setelah tidak lagi bisa mengelak dengan alat bukti yang ditemukan,” kata Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono dalam siaran persnya, kemarin di Mapolres Magelang.

Usai ditetapkan sebagai tersangka, pelaku langsung ditahan di sel Mapolres Magelang guna penyelidikan lebih lanjut. Pelaku ditempatkan di sel khusus anak, karena masih di bawah umur.¬†“Atas perbuatannya, pelaku kami tahan di Polres Magelang. Karena usianya di bawah umur, ruang tahanan dipisah dengan yang dewasa,” kata Condro.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono mengatakan bahwa penetapan tersangka tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan 16 saksi, yang terdiri atas rekan korban dan sejumlah pamong sekolah.

Menurutnya, pelaku sudah merencanakan aksi pembunuhan ini jauh-jauh hari. Mulai dari membeli pisau di salah satu mal terbesar di Magelang hingga melakukan eksekusi pembunuhan.

Pelaku melakukan eksekusi sendirian. Sekitar pukul 03.30 pagi, pelaku langsung menghampiri dan membunuh korban dengan menusuk lehernya.

Usai beraksi, pelaku dengan tenang mencoba menghilangkan jejak. Mulai melumuri baju rekannya dengan darah hingga membuang pisau di dalam bak penampungan kloset.

Lebih lanjut, kata dia, aksi pembunuhan itu didasari motif sakit hati. Pelaku kesal karena ponsel miliknya disita pamong sekolah saat dipinjam korban.

Kejadian bermula ketika telepon seluler milik AMR yang dipinjam korban, ketahuan oleh pamong/pengasuh sekolah. Handphone itu lantas disita karena siswa kelas 10 tidak boleh membawa alat komunikasi.

Selain itu, AMR juga pernah tepergok korban saat mengutil uang teman satu barak. “AMR telah kami tetapkan sebagai pelaku, yang mana motif dari tindakannya adalah sakit hati atas perilaku korban,” ujar Condro.

Kapolres Magelang AKBP Hindarsono menambahkan pihaknya akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan dalam kasus ini. Pihaknya juga akan segera menyelesaikan BAP. (vie/ida)

Silakan beri komentar.