AKTIF MENULIS: Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag. sangat aktif menulis sejak masih kuliah. Kesenangannya menulis mengantarnya menjadi guru besar sekarang ini. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKTIF MENULIS: Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag. sangat aktif menulis sejak masih kuliah. Kesenangannya menulis mengantarnya menjadi guru besar sekarang ini. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PROFESOR Fatah Syukur, punya kiat meraih  sukses. Yakni selalu khusnudzon atau berfikir positif. Bahkan baginya, apabila sukses belum diraih, sesungguhnya sukses sudah di depan mata.

“Khusnudzon intinya kalau kita berfikir positif maka yang kita jalani akan berhasil baik. Sukses tidak semata-mata apa yang sudah dicapai. Tapi apa yang belum kita capai juga kesuksesan. Dengan bersikap positif, yang diinginkan pasti datang,” katanya.

Ditemui di kediamannya yang asri di Wonolopo, Mijen, Semarang, Ia banyak bercerita tentang karirnya sebagai akademisi. Fatah mengaku, pada awalnya tak ada keinginan kea rah itu. Sebelum ia lulus dari bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 1981, Ia justru ingin bertani dan menggarap kebun di daerah transmigrasi. Terlebih pada masa itu, pemerintah menggalakkan program transmigrasi.  “Kalau cerita tentang cita-cita, saya pernah ingin jadi petani atau pekebun, saya terbuai dengan cerita guru-guru saya di kampung (Kudus). Kalau transmigran itu diberi banyak tanah untuk digarap. Saya senang kalau harus nanam-nanam,” kisah sosok kelahiran Kudus, 12 Desember 1968 ini.

Namun keinginan itu mulai berubah sejak ia kelas 6 MI. Masa pemerintahan orde baru kala itu dipenuhi aksi demonstrasi tersebar di banyak daerah. Pada saat itu, kata dia, ada aksi yang menyebar di Kabupaten Solo, Rembang, hingga Jepara.  Ia melihat banyak mahasiswa berseragam hijau yaitu resimen mahasiswa yang mengawal aksi. Sebelumnya ia mengira bahwa mereka adalah ABRI. Dari pengamatannya itulah ia terinspirasi untuk menjadi mahasiswa.

Namun Fatah menghadapi kendala, yakni permasalahan biaya.  “Akhirnya saya harus kuliah. Meski dari aspek ekonomi saya di kampung termasuk anak orang yang kurang mampu. Di kampung tidak ada yang kuliah saat itu. Saya matur dengan orang tua dan guru saya, mereka mendukung walaupun orang tua tidak bisa membiayai,” tutur Ketua program dtudi S-2 Studi Islam Program Pasca Sarjana UIN Walisongo ini.

Sejak sekolah MI, Fatah Syukur suka menulis kegiatan kesehariannya. Ia memang mempunyai kesenangan untuk menulis. Sehingga kemudian saat kuliah di IAIN aktif di media kampus, mulai dari reporter sampai pemimpin redaksi.

Memanfaatkan kemampuannya menulis, seperti menulis artikel dan dikirimkan ke koran. Kebanyakan yang ditulisnya tentang resensi buku, dari situ ia memperoleh pendapatan untuk menyokong biaya kuliah. “Paling senang menulis resensi. Bayaran cukup untuk membiayai pendidikan, apalagi kliping dari resensi buku yang saya tulis bisa dikirim ke penerbit dan mendapatkan buku. Lulus kuliah, buku saya sekitar 7 kardus. Dalam skala mahasiswa itu banyak,” kata Suami Uswatun Marhamah ini.

Hampir semua kegiatan mahasiswa diikutinya, dan yang paling aktif di pers kampus. Di samping yang lain yaitu senat mahasiswa, lembaga akademik atau lembaga perotakan yang menangani banyak diskusi. Di luar kampus ia mengikuti pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Sebelum menjadi dosen tahun 1994, Fatah Syukur juga sempat menjadi wartawan di majalah Krida milik Korpri di Jawa Tengah selama 1994-1997. Ia pun menjadi dosen di IKIP Veteran Semarang. tahun 1994 dengan merangkap  wartawan. (mg/30)