Piawai Berbahasa Asing

1852
Bripda Oktarinata Indra Rukmana. (IST)
Bripda Oktarinata Indra Rukmana. (IST)

DI usianya yang masih belia, Bripda Oktarinata Indra Rukmana, 20, anggota Polwan (Polisi Wanita) Polda Jateng sudah dipercaya menjadi master of ceremony (MC) berbahasa asing. Gadis kelahiran Pati, 2 Oktober 1996 silam ini pun merasa bersyukur sekaligus bangga.

“Selama pendidikan, telah dipercaya dan dilatih para pembina menjadi MC Bahasa Inggris. Misalnya di setiap acara kunjungan pejabat Polri dan pemerintah ke Pusdik,” ungkap gadis yang akrab disapa Okta kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin.
Gadis yang bertugas di Bidang Humas Polda Jateng ini, terbilang memiliki banyak kelebihan. Terutama, semenjak menempuh pendidikan Polwan Angkatan 43 di Pusdik Binmas Banyubiru. Kemampuan bahasa Jepang-nya yang ia akui pasif membawanya menjadi seorang MC Bahasa Jepang saat upacara penutupan pendidikan.

“Selain itu, saya juga pernah membawakan program acara Sidik di stasiun televisi di Surakarta. Saya membantu menyiarkan dan menyampaikan berita serta info-info kepolisian kepada masyarakat setiap harinya,” terangnya.

Di tahun 2017 ini, Okta terpilih menjadi duta Humas Polda Jateng. Menurut gadis lulusan SMAN 1 Pati ini, menjadi wanita adalah takdir dan menjadi Polwan itu adalah pilihan hidup. Pihaknya menyadari, bekerja di bidang humas sangat besar tantangan yang harus dihadapi.

“Memang saya sendiri menyadari ada daya tarik-menarik dalam diri saya, di satu sisi sebagai remaja yang masih ingin bebas berekspresi. Tetapi di sisi lain tuntutan status sebagai Polwan remaja, mengharuskan saya mengikuti semua aturan yang membatasi. Namun dalam dua tahun berdinas, saya menemukan diri saya bangga menjadi anggota Polri. Polisi merupakan tugas yang sangat mulia yang harus saya jaga dan laksanakan dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Tak hanya  itu kebanggaannya. Okta pernah menjadi salah satu Liaison Officer Sidang Interpol ke-85 di Bali. Itu merupakan kehormatan dan kebanggaan yang besar, menjadi bagian dari acara tahunan Interpol tersebut.

Menurutnya, perjuangan dan seleksi yang ketat dari kepolisian dapat ditempuhnya untuk menjadi bagian dari event bersejarah dunia tersebut. “Dulu, passion saya memang menjadi seseorang yang bekerja di bidang komunikasi. Bahkan saya bermimpi menjadi staf di Kedutaan Besar Indonesia. Namun saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang,” terangnya.

Okta menambahkan, menjadi polisi bukanlah pekerjaan yang mudah diraih dan dilakukan. Beberapa hal yang telah dilakukanya tersebut akan menjadi pengingat dan pendukungnya untuk lebih meningkatkan kemampuan serta melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. “Perjalanan saya masih panjang dan berat. Saya akan berusaha meningkatkan kemampuan saya, baik kemampuan berbahasa, agar dapat saya manfaatkan dalam mendukung tugas-tugas kepolisian,” katanya.
Okta juga tak menyia-nyiakan kepintarannya untuk menempuh kuliah semester 4 di Fakultas Hukum Untag Semarang. Tak tanggung-tanggung, rata-rata IP yang ia dapatkan selama 3 semester adalah 3.86. Namun demikian, Okta tak pernah merasa besar kepala dan selalu bersyukur.
“Saya harus menyadari betapa kerasnya dan ketatnya persaingan hidup. Belajar untuk rendah hati dan terus belajar dan belajar. Saya dan teman-teman saya, hanya ingin menjadikan Indonesia lebih baik lagi dan hidup dengan damai,” pungkas gadis yang tinggal di Mess Polwan. (mha/ida)