Menekan Pelajar Bolos Sekolah

1916
Oleh : Usman Roin *)
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

PERILAKU pelajar membolos –tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat dan jelas– hari-hari ini patut menjadi perhatian tersendiri. Terlebih, penulis kerap melihat mereka yang memakai seragam abu-abu, bukannya datang ke sekolah malah pagi-pagi sudah nongkrong di warung serta sibuk memainkan game lewat ponselnya.

Sebagai orang yang sudah pernah mengalami masa-masa seperti mereka –dalam batin– penulis merasa kecewa terhadap perilaku yang mereka perbuat. Ada amanah bersekolah, namun tidak ditunaikan dengan baik. Padahal orang tua mereka sibuk membanting tulang, bekerja, mencari nafkah untuk kebutuhan pendidikannya, namun dengan enteng sekali para pelajar absen/membolos.

Sungguh naif mereka yang pamitnya sekolah, namun tidak sampai di sekolah. Padahal di luar sana, banyak anak yang punya semangat tinggi bersekolah, namun karena terbentur dengan biaya harus rela tidak bersekolah. Kini giliran para pelajar sudah dipenuhi segala kebutuhan dan fasilitas sekolah, namun tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya memenuhi tugas belajar di sekolah.

Membolos sekolah merupakan bagian dari penyimpangan sosial yang perlu dicari solusinya. Pasalnya, bila anak terus menerus membolos, dari segi penguasaan pelajaran akan terganggu bahkan terlambat. Tidak hanya itu, jika membolos terus menerus, jangankan prestasi didapat, alih-alih anak tersebut malah bisa tidak naik kelas atau drop out karena nihil penguasaan pelajaran dan tidak memenuhi hasil ketuntasan belajar. Dan yang harus diwaspadai, membolos juga bisa menjadi biang keladi tawuran antarpelajar. Bisa juga diindikasikan sebagai pintu awal pelajar melakukan penyimpangan sosial lainnya, seperti: merokok, mabuk, dan merencakan niat perilaku kriminalitas lainnya.

Tentu sebagai orang tua, tak ada yang menginginkan anaknya bolos sekolah. Pihak sekolah dan masyarakat, tentu prihatin dengan perilaku bolos sekolah. Namun pergaulan antarteman ternyata sedikit banyak menyebabkan perilaku itu menular. Terlebih dalam term psikologi, usia pelajar dikata masa pencarian identitas, yang labil secara psikis. Lalu, bila kemudian kita berpangku tangan –baca: atas nama pacarian jati diri– maka kitapun akan ikut melegalkan hal itu. Padahal, membolos adalah bagian dari penyimpangan sosial yang perlu penanganan. Bila tidak, hal itu akan berimbas pada karakternya kelak ketika ia dewasa.

Untuk itulah, terhadap perilaku membolos mau tidak mau perlu menjadi perhatian bersama, baik orang tua, sekolah, dan masyarakat. Peran komprehensif perlu diupayakan, tidak hanya sepihak namun simultan dalam menanganinya. Dengan kesadaran bersama, tidak terjadi saling lempar kesalahan, melainkan ada upaya ikut memperbaiki kekurangan para pelajar. Dan itulah esensi sebenarnya yang dibutuhkan sebagai ikhtiar cerdas membimbing mereka mempersiapkan masa depan yang gemilang.

Guna menekan anak bolos sekolah, bagi penulis ada beberapa hal bisa dilakukan: Pertama, buat komunikasi dengan sekolah. Disini, peran orang tualah yang utama yakni, tidak sebatas mengetahui anak pamit ke sekolah melainkan ada upaya terusan, yaitu mengecek kepada guru –wali kelas– terkait kehadirannya. Caranya, bisa dengan kirim SMS, atau telepon langsung kepada wali kelasnya. Bila ini terwujud, maka hubungan orang tua dan sekolah akan harmonis karena tidak hanya guru saja yang tahu perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak selama keseharian di sekolah, melainkan orang tua juga bisa memberikan penekanan kepada anaknya untuk lebih serius bila ada tanda-tanda tensi belajarnya menurun.

Kedua, mengantar sendiri ke sekolah. Ini tentu langkah yang baik dan murah meriah bilamana kita sebagai orang tua punya waktu agak longgar mengantarkan anak –baca: pelajar– ke sekolah. Bila memang tidak bisa, cara lain dengan meminta bantuan jasa ojek –baik online atau konvensional– yang bisa dijadikan langganan untuk mengantarkannya ke sekolah. Bisa juga sebagai alternatif terakhir, dengan mobil antar jemput. Tujuannya, dengan di antar, berarti kita –orang tua– memastikan sendiri bahwa anak sudah sampai di sekolah dan siap belajar.

Ketiga, menggunakan finger print. Kalau yang ini tentu alternatif modern inisiatif sekolah dalam rangka menjalin keakuratan data kehadiran siswa berbasis teknologi. Terlebih dengan finger print, hasil rekaman sidik jari absensi kehadiran anak ternyata bisa dihubungkan dengan ponsel orang tua dalam bentuk laporan informasi kehadiran lewat SMS. Selanjutnya bila info sudah sampai kepada mereka, itu artinya orang tua bisa lega bahwa anaknya benar-benar bersekolah. Maka demi memodernkan keberadaan sekolah, solusinya hal itu perlu diadakan. Dan bagi yang sudah memiliki, langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan penggunaannya agar ada sinergitas komunikasi orang tua sekolah tak sebatas ketika ada masalah belaka.

Akhirnya, kata-kata Robi Afrizan Saputra (2017:2) tentang pemuda, menarik sekali untuk direnungkan. ”Jadilah anak muda yang berbeda. Saat yang lain masih hura-hura, kita mesti menempuh jalan yang berbeda. Walaupun jalan itu sepi dan kita sendiri. Biarlah, biarkanlah. Asalkan itu adalah jalan kebaikan.” (*/ida)

 

*) Guru Ekskul Jurnalistik SMP IT PAPB dan Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang dan email roinusman@gmail.com

 

Orang Tua Harus Memastikan Anaknya Bersekolah