Bripda Viandika Intari Setya Eka Putrianti. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Bripda Viandika Intari Setya Eka Putrianti. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ADALAH Bripda Viandika Intari Setya Eka Putrianti, Polisi Wanita (Polwan) ini patut diapresiasi. Perempuan kelahiran Jayapura 13 Januari 1993 yang bertugas di Satuan Lalulintas (Satlantas) Polrestabes Semarang ini, sudah memiliki banyak pengalaman. Yang tak terlupakan adalah pernah menjadi ajudan seorang Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani.

“Dulu pernah mendapatkan tugas menjadi ajudan beliau (Puan Maharani, red). Hampir satu tahun. Didampingi juga satu orang perwira dari Jakarta,” ungkap Polwan yang akrab disapa Viandika kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin.

Menurut Viandika, pengalaman yang dibanggakan bermula ketika ia masih awal menjadi seorang anggota polisi di Polrestabes Semarang pada akhir 2014. Setelah menjalani pendidikan Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) selama tujuh bulan di Jakarta Selatan. Yakni, mulai 3 Juni hingga lulus 30 Desember 2013 silam.

“Jadi lulus SMA terus daftar kuliah 3 tahun di IKIP PGRI Jurusan Pendidikan Biologi. Kemudian ada pendaftaran polisi sekitar April 2013 dan diterima. Akhirnya menjalani pendidikan sampai akhir Desember 2013,” terangnya.

Usai menjalani pendidikan tersebut, Viandika langsung dikembalikan ke Polda Jateng untuk magang di bagian SDM atau bidang administrasi hingga Mei 2014. Kemudian ia mendapat tugas menjadi pengasuh di SPN Purwokerto selama 7 bulan untuk mendidik dan membina Polwan baru.

“Setelah dari Purwokerto, langsung ditempatkan di Polrestabes Semarang di Lantas Polsek Semarang Barat. Pengalamannya kali pertama, menilang orang yang melakukan pelanggaran tidak memakai helm dan surat kendalaraan, ngotot ya awalnya grogi,” terangnya.

Menurut Viandika, bertugas di Lantas Polsek Semarang Barat tidak berlangsung lama. Kecekatan dan prestasi karir yang terus naik, akhirnya Viandika mendapat tugas baru yakni diminta mengikuti seleksi menjadi ajudan seorang menteri. Itu tantangan baru baginya sebagai anggota Polri yang masih tergolong baru.

“Saya mendaftar Maret 2015. Ada tahapan tes pendaftaran. Pertama tes penampilan, habis itu ujian psikologi, ujian kesehatan di Polda Jateng. Setelah itu, ujian tingkat Mabes. Alhamdulillah pas pengumuman April itu diterima,” ungkapnya.

Menurut Viandika, mengikuti tes pendaftaran menjadi ajudan menteri bukan secara langsung dari dirinya. Namun, ia mendapatkan instruksi dari atasan karena dipercaya memiliki bakat tersebut. “Setelah dua bulan, ada seleksi.
Secara pribadi gak daftar, cuma diusulkan dari Polrestabes mengikuti seleksi ajudan. Mungkin karena cara berpenampilan saya gak neko-neko sesuai aturan. Namun punya basic Duta Pariwisata di SMA tahun 2009. Yakni, ketika masih SMA kelas 2 sampai kelas 3,” terangnya.

Menurut Viandika, tes pendaftaran mengikuti ajudan menteri dilakukan pada Maret 2015. Tahapan tes tersebut dilalui mulai dari awal yakni tes penampilan, psikologi, ujian kesehatan yang dilakukan di Polda Jateng. Setelah semua tes lolos, kemudian menjalani ujian lagi di tingkat Mabes.

“Optimistis tidak diterima, kala itu. Sebab saingan senior yang sudah berpengalaman menjadi asisten pribadi (spri) di 18 perwakilan wilayah masing-masing Polres. Seleksinya meliputi penampilan, kecakapan, kerapian, psikologi termasuk kesehatan. Alhamdulillah pas April diterima,” katanya.

Dia merasakan kebanggaan selama satu tahun, yakni pada pertengahan April 2015 hingga Pebuari 2016. Bahkan, kali pertama menjalani tugas ajudan Puan Maharani, sempat memiliki rasa grogi. Namun dengan kesabaran dan kecekatannya, tugas tersebut berjalan lancar.

“Kalau awalnya, semua orang pasti memiliki rasa grogi. Saya belum tahu karakternya, belum pernah kenal. Targetnya satu minggu harus sudah lancar. Jadi kata setiap yang disampaikan saya cerna dulu, baru diambil keputusan untuk dilaksanakan,” katanya.

Diakuinya, tugas tersebut merupakan tantangan baru baginya. Aktivitas yang dilakukan setiap harinya saja, membutuhkan satmina fresh. Karena itu, untuk menjaga tubuh agar selalu tampil prima, Viandika selalu menyempatkan olah raga setiap harinya sebelum beraktifitas mulai pukul 07.00 hingga dini hari.

“Sebulan sekali juga minum vitamin. Terus diimbangi jogging. Sebab, selama menjadi ajudan, aktivitas rutin pada pagi hari adalah menyiapkan keperluan misalkan ada rapat, pertama yang dicek materi apa, berkas yang harus dibawa apa, berkas deadline menteri terkait yang harus ditandatangani apa. Aktivitas pagi, start mulai jam 7 sampai tidak menentu, kadang jam 3 pagi,” katanya.

Viandika mengakui menjadi ajudan merupakan pengalaman baru yang telah mengantarkannya berkeliling Indonesia. Selain membuatnya bangga, tugas tersebut menambah pengetahuan dan pengalaman baru. Bahkan, Viandika juga memiliki kenangan saat bertugas melakukan pengawalan hingga ke daerah pedalaman di Kalimantan.

“Paling terkesan ya di Kalimantan. Gak menyangka saja, bisa sampai ke pelosok daerah suku anak pedalaman di Kalimantan. Jadi setiap hari saya harus melekat ke ibu (Menteri) ya , pokoknya memproteksi ibu supaya merasa aman. Sebab kita juga sebagai pelindung adanya gangguan dari luar,” ujarnya.

Tugas besar tersebut telah diselesaikan selama satu tahun. Kini, Viandika kembali mengemban tugas barunya di Polrestabes Semarang mulai Maret 2016 sampai sekarang. Ditempat barunya tersebut, Viandika sebagai anggota Satlantas Polrestabes Semarang.

“Jadi menurut saya, menjadi polisi itu pilihan. Karena kita bisa jadi apa saja. Kalau cita-cita saya dulu, ingin menjadi guru. Bagi saya seorang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bisa selalu dikenang,” ucapnya.

Meski telah menjadi anggota Satlantas, anak dari dua bersaudara, pasangan Suwarno, 54, dan Sumiah, 48, asli Jawa ini mengakui sangat berkeinginan menjadi anggota Satreskrim Polrestabes Semarang. Bahkan, Viandika kini juga sedang menuntut ilmu hukum di Unitag Semarang.

“Saya ingin belajar ilmu reskrim dan ilmu penyidikan. Biar bisa tahu cara menarik kesimpulan suatu kejadian. Makanya saya kuliah di Fakultas Hukum, ingin mendalami tentang ilmu hukum sesuai profesi,” pungkasnya. (mha/ida)