KOMUNITAS SASTRA: Lukni Maulana bersama anggota GeRMO, mengajak masyarakat menumbuhkan kembali tradisi budaya berkumpul dalam suasana santai, segar, tapi berisi.
KOMUNITAS SASTRA: Lukni Maulana bersama anggota GeRMO, mengajak masyarakat menumbuhkan kembali tradisi budaya berkumpul dalam suasana santai, segar, tapi berisi.

Para pelaku seni sastra ini melabeli komunitasnya sebagai Gerakan Rakyat Miskin Kota (GeRMO) Semarang. Mereka mengenalkan sastra di kawasan kumuh, padat penduduk, sarang preman, hingga lokasi pelacuran. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS
PARA seniman sastra ini berupaya mengubah pola pengenalan sastra di masyarakat. Mereka melakukan pendekatan humanis dengan cara menghidupkan tradisi budaya berkumpul sembari menikmati padang mbulan di malam hari. Sekaligus mengajak masyarakat belajar mengenal sastra, terutama puisi.

Mereka mengubah pola bahwa pertunjukan seni tidak harus indoor di gedung pertunjukan yang megah. Tetapi pertunjukan bisa dilakukan di halaman-halaman kosong, gang-gang permukiman, pos kamling, halaman masjid, kawasan kumuh, padat penduduk, sarang preman, hingga lokasi pelacuran.

Mereka tergabung dalam komunitas Gerakan Rakyat Miskin Kota (GeRMO) Semarang. Sesuai dengan namanya, komunitas sastra ini memiliki segmen kerakyatan, memiliki kegiatan sastra dari kampung ke kampung dengan melibatkan penduduk kampung setempat.

”Kami tidak memandang apa agamanya, kiai, ustad, ulama, budayawan, sastrawan, preman, intelektual, hingga seniman, semua bisa bergabung dalam kebersamaan,” kata salah satu perintis Komunitas GeRMO Semarang, Lukni Maulana, kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Dikatakannya, GeRMO berupaya menjadi sentra komunitas sastra melalui panggung pertunjukan puisi-teaterikal. Bisa saja kegiatan dilakukan di pos kampling, halaman masjid, gereja, ataupun kelenteng. ”Melalui sastra, kami mengajak masyarakat mengupas segala hal tentang kemanusiaan, kerakyatan, politik kekuasan, kerakusan, keadilan, kebijaksanaan, hingga ketuhanan,” katanya.

Di setiap aktivitas GeRMO, kata dia, terjadi interaksi publik untuk berpikir logis. Salah satu tujuannya, me-refresh alam berpikir setelah setiap hari masyarakat dijejali berbagai persoalan melelahkan. ”Dari atas panggung, mereka menertawakan diri sendiri atas kekonyolan fenomena-fenomena yang terjadi. Itu gambaran masyarakat kita sendiri. Ada aktivitas berpikir sambil tertawa, bukan menghujat,” katanya.

Keberadaan GerMO, lanjutnya, setidaknya menjadi penyegar dan penyeimbang dari berisiknya era teknologi. Cepatnya arus informasi yang membuat rakyat kecil seringkali linglung karena banyaknya informasi yang tidak jelas asal-usulnya.

”Melalui sastra, bisa saja berlatih berbicara, melalui sastra, bisa saja kami berlatih diam dengan perenungan. Era media internet seringkali pesta kata-kata bertabur kata-kata kasar. Nah, melalui sastra lah salah satunya belajar kelembutan,” katanya.

Keberadaan GeRMO tak lepas dari peran pemikiran sastrawan muda di Semarang, bernama Lukni Maulana. Pria kelahiran Semarang, 24 Juli 1984 itu mengaku hanya ingin mengajak masyarakat menumbuhkan kembali tradisi budaya berkumpul dalam suasana santai, segar, tapi berisi. Ia bersama teman-teman seperjuangannya, Basa Basuki, Tri Budiyanto, dan Goenoeng Percussion, menjadi motor penggerak komunitas ini.

”GeRMO dibentuk atas buah kegelisahan dan kesamaan visi-misi. Sastra menyatukan elemen-elemen berbeda. Banyak hal sederhana yang selama ini tak tersentuh. Melalui hal paling sederhana sehari-hari, kami mengajak berinteraksi, komunikasi, berpikir dalam suasana segar dan menyenangkan,” kata Lukni.

Kenapa memilih istilah GeRMO? Lukni mengaku hanya berupaya lebih mendekatkan diri dengan unsur kerakyatan. Selama ini, kata dia, istilah germo cenderung mengarah kepada hal negatif. ”Nah, kami ingin mengubah citra kata germo yang selama ini negatif dengan arti induk semang bagi pelacur. Sangat negatif dan jelek. Kami berempat memiliki pendapat sama. Ingin mengubah citra itu. Sebagai bentuk perlawanan, GeRMO di sini mengubah cara berpikir, baik menggunakan logika maupun hati,” katanya.

Sastra, kata dia, merupakan ruang kecil yang bisa digunakan sebagai sudut pandang secara luas tentang seluk-beluk kehidupan. Selain berdiskusi berbagai tema, mereka selalu mementaskan kemasan puisi dengan teatrikal yang kemudian dikenal sebagai sastra pertunjukan. ”Selain sebagai sentra sastra, kami berusaha mengajak masyarakat membudayakan tradisi berkumpul,” kata pria jebolan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur dan lulusan Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang ini.

Aktivitas berkesenian itu tak lepas dari latar belakang Lukni yang selama kuliah aktif di Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta UIN Walisongo Semarang. Kesehariannya, Lukni dikenal orang sekitarnya sebagai sosok yang selalu gelisah dan enggan berdiam diri. Mulai aktif dan pernah menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Ar-Rosyid Banjardowo Genuk Semarang dan Pengurus GP Ansor.

Di kediamannya, ia juga mendirikan taman baca Pondokbanjar Semarang dan Rumah Pendidikan Sciena Madani sebuah komunitas yang bergerak dalam dunia pendidikan dan maiyah kehidupan. Keuletannya memang tak terlepas dari sederet pengalamannya berorganisasi. Pernah menjabat Pimpinan Redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang dan pernah menjadi dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Akademi Keuangan Perbankan (AKP) Widya Buana Semarang.

Memiliki kegemaran menulis sejak mahasiswa, hingga kini, nama Lukni Maulana tak asing di berbagai kolom esai dan opini di sejumlah media cetak. Begitu pun kegiatan literasinya terus terasah. ”Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan sebuah hiburan untuk keabadian. Maka kami selalu mengajak masyarakat untuk menulis,” imbuh suami Ninik Ambarwati ini.

Di antara karya-karyanya dalam bidang tulis menulis dituangkan ke dalam terbitan buku. Sedikitnya ia telah menerbitkan tiga buku yakni Antologi Puisi Ajari Aku Jadi Orang Indonesia (Oase Qolbu/2012) dan Cinta; Penderitaan dan Ketaatan (Yabawande/2015), dan kumpulan cerpen Sang Morvious (Lembah Manah/2013). Karya-karyanya juga dimuat di puluhan Antologi Puisi Bersama seperti Kumpulan Puisi untuk Gus Dur; Dari Dam Sengon ke Jembatan, Jalan Remang Kesaksian, Kata Cookies Pada Musim untuk Endang Kalimasada, Puisi Menolak Korupsi, Memo untuk Presiden, dan Memo untuk Wakil Rakyat. (*/ida/ce1)