33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Terima Kasih Pangeran

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

MAGELANG—Bertempat di pelataran eks karesidenan Kedu Bakorwil II Magelang, Minggu (28/3) pukul 08.00-12.00, berlangsung kegiatan Java Talk Through Art bertema “Terima Kasih Pangeran Diponegoro.”

Ya, 187 tahun silam—tepatnya pada 28 Maret 1930—Pangeran Diponegoro diperdaya oleh Belanda, ketika menghadiri undangan pihak Belanda untuk membicarakan gencatan senjata di Magelang. Ujung-ujungnya, Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Manado, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar.

Kegiatan yang dibalut dengan suasana santai itu, untuk mengingatkan kembali perjuangan dan sosok Sang Pangeran. Untuk itu, panitia menghadirkan salah seorang keturunan Diponegoro. Yakni, Ki Roni Sodewo, keturunan ketujuh Pangeran Diponegoro yang saat ini tinggal di Wates, Kulonprogo.

Dalam sesi diskusi, Roni mengatakan, ada perbedaan lukisan penggambaran Pangeran Diponegoro ketika ditangkap oleh Belanda. Lukisan yang dibuat oleh pelukis Belanda bernama Pienemann, menggambarkan Diponegoro berdiri di tangga bawah. Sementara Jenderal Hendrik Merkus de Kock, posisinya di atas tangga memberi isyarat pengusiran dengan angkuh.

“Di latar belakang, bendera merah-putih-biru berkibar megah dan di halaman para pengikut pangeran tampak menangis karena sesembahannya ditaklukkan sang musuh. Pangeran beserta pengikut, digambarkan memakai jubah putih khas timur tengah. Sebuah lukisan tentang penaklukan, pengusiran, penghinaan, dan bahkan terkait dengan agama.”

Nah, lukisan yang dibuat tanpa berada di lokasi aslinya itu, suatu hari dilihat oleh seorang anak muda berdarah Arab di Paris, Prancis. Pemuda itu geram, karena Pangeran dalam lukisan itu adalah saudaranya. Ia juga seorang pangeran dari Tanah Air yang sama. “Tekadnya bulat, ia harus membalas dendam dengan caranya, goresan tangan!”

Maka, beberapa tahun kemudian, pemuda itu berhasil menginjakkan kaki di halaman bangunan asli lokasi Pangeran Diponegoro ditangkap. “Ternyata, sudut pandang gedung lukisan Pieneman salah. Pemuda ini lantas membuat sketsa di sehelai kertas dan ia buat lukisan ketika sampai di Belanda. Lukisan itu, ia hadiahkan kepada Ratu Belanda.” Dunia seni pun gempar. “Pemuda tadi, kemudian dikenal sebagai Raden Saleh, pelukis legendaris Indonesia.”

Raden Saleh membuat lukisan dengan adegan yang berbeda dari lukisan Pieneman. “Lukisan Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro keluar ruangan dengan mendongakkan kepala, karena marah dijebak. Sedangkan kepala Sang Jenderal Belanda, tampak tak proporsional, terlihat besar dari ukuran kepala manusia normal. Posisi Sang Jenderal dengan Pangeran, berada pada tangga yang sama. Suasana hari terlihat suram.”

Dalam lukisan yang dibuat Raden Saleh, penempatan sudut pandang lokasi, lebih tepat dengan posisi aslinya. Gunung yang sebenarnya berada di depan ruangan dan tidak terlihat dari sudut pandang pelukis, digambarkan sebagai penegasan lokasi. “Sebagian orang Belanda memang takjub melihat keindahan gunung, karena tidak ada gunung di sana,” kata Roni.

Roni juga menceritakan, selama Perang Jawa 1825-1830, Pangeran Diponegoro lima tahun lamanya keluar masuk hutan dan pegunungan memimpin perang. Sebuah perang yang menjadi buah bibir masyarakat Eropa saat itu, karena mampu membuat bangkrut kerajaan musuh.

Kegiatan semakin menarik, dengan tampilnya seniman asal Magelang, Bambang Eka Prasetya. Bambang menembang geguritan yang dibuatnya sendiri, berjudul Keris, Gabah, lan Gerabah: Pangeran Sekaring Buwana. Membawa gerabah, berisikan gabah dengan keris yang tertancap di tengah gabah, performing art yang dipertontonkan seniman gaek itu sejatinya menyampaikan sebuah pesan; bahwa di tengah kesulitan yang mendera, Sang Pangeran tetap berjuang, melawan Belanda. Keris simbolisasi senjata yang dipakai Diponegoro, gabah (beras) adalah komoditas pertanian yang selalu dirampas Belanda ketika rakyat panen, sehingga penduduk ketika itu, di Kasongan, beralih membuat gerabah.

Penampil lain dalam kegiatan Java Talk Through Art adalah Lyra de Blauw, Saka Tama, Indra Octora, dan Studio Mumpet. Yang menarik, tamu undangan bisa menikmati kegiatan itu dengan sajian jagung bakar dan lotis. (isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Pantau Langsung Pendidikan Anak

MESKI Menjalani aktivitas yang begitu menyita waktunya, Ayik mengaku dimasa anak pertama dan keduanya memasuki pendidikan Sekolah Dasar (SD), ia bertekad untuk terus membangun...

Jangan Remehkan Tim Ndeso

GELARAN Liga 2 musim 2017 telah resmi digeber 19 April. PSIS bersama 60 tim dari berbagai penjuru negeri ini bersaing ketat memburu tiket promosi...

Usulkan Stasiun Batang Difungsikan

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Pemkab Batang berharap Stasiun Kereta Api (KA) Batang kembali difungsikan, menyusul berdirinya PLTU di Batang dan banyaknya investor yang mendirikan perusahaan....

BNI Salurkan KUR untuk Pelaku Usaha Pengasapan Ikan

DEMAK- Wilayah Kabupaten Demak selain dikenal memiliki potensi perekonomian pada sektor pertanian juga mempunyai potensi untuk dikembangkan pada sektor perikanan, industri pengolahan dan perdagangan....

15 Kabupaten Jadi Sorotan

SEMARANG - Limabelas kabupaten di Jawa Tengah mendapat sorotan dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda). Sebab tingkat kemiskinan di 15 daerah tersebut...

Menang, Tapi Belum Bikin Tenang

KENDAL – Meski berhasil menang 1-0, namun penampilan tim PSIS Semarang dalam laga uji coba versus Persik Kendal di Stadion Utama Kebondalem Kendal Sore...