PINJAM KOMPUTER: Siswa SMPN 2 Borobudur fokus mengerjakan ujian matematika di ruang laboratorium milik SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, kemarin. (HANIF ADI PRASETYO/RADAR KEDU)
PINJAM KOMPUTER: Siswa SMPN 2 Borobudur fokus mengerjakan ujian matematika di ruang laboratorium milik SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, kemarin. (HANIF ADI PRASETYO/RADAR KEDU)

MUNGKID – Seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta di Kabupaten Magelang serentak mengikuti simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 27-28 Februari 2016. Dari 210 sekolah, 159 sekolah diantaranya terpaksa meminjam ruang laboratorium komputer milik SMA atau SMK setempat.

Seperti yang dialami SMPN 2 Borobudur dan SMPN 4 Satu Atap (Satap) Salaman. Sebanyak 145 siswa dari dua sekolah tersebut mengikuti simulasi UNBK dengan ”menumpang” di gedung SMK Muhammadiyah 2 Borobudur.

”Dua sekolah menginduk karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Seperti jumlah perangkat komputer belum mencukupi sepertiga dari jumlah siswa kelas terakhir,” jelas Proktor SMK Muhammadiyah Borobudur, Sumardiyono.

Sumardiyono mengatakan, untuk mengakomodasi 145 peserta simulasi, pihaknya menyediakan dua ruang kelas dengan 49 unit komputer ditambah 5 komputer cadangan. Simulasi mengerjakan mata ujian matematika dan bahasa Inggris ini didesain mirip dengan UNBK sesungguhnya. ”Simulasi digelar sebagai upaya menyiapkan para siswa agar tidak canggung. Termasuk memastikan sinkronasi server dengan pusat,” bebernya.

Selama menumpang simulasi hingga pelaksanaan UNBK pada 2-4 Mei dan 8 Mei mendatang, pihaknya sudah menjalin kerjasama. Khususnya bagi 30 peserta Unas dari SMPN 4 Satap Salaman. “Untuk kenyamanan para peserta ujian, kami menyediakan minibus milik sekolah untuk fasilitas antar jemput siswa Satap. Dan hari ini sudah mulai berjalan” jelas Sumardiyono.

Berbeda dengan dua sekolah tersebut, SMPN 1 Borobudur mantap menggelar simulasi UNBK secara mandiri. Kepala SMPN 1 Borobudur Nur Cholik menuturkan, pihaknya menyediakan dua ruang ujian dengan 85 unit komputer, termasuk cadangan. Jumlah komputer yang dimiliki mampu memenuhi jumlah peserta ujian sebanyak 230 siswa. ”Sesi pertama dan kedua masing-masing 77 siswa dan sesi terakhir berjumlah 76 siswa,” tutur Clohik.

Terang Cholik, sekolah mendukung penuh ujian berbasis semionline yang mengedepankan kemandirian dan kejujuran. Ia mengaku tidak kaget. Anak-anak sudah lama diajarkan mengerjakan ulangan harian dan ujicoba dengan mengedepankan kejujuran. Ia berharap, UNBK yang baru digelar pertama ini mampu mendongkrak peringkat sekolah se-Kabupaten Magelang. “Tahun lalu kami peringkat 10 besar. Dengan UNBK, kami optimistis tahun ini naik di posisi 6 besar,” tegas Cholik.

Salah satu siswi peserta simulasi, Diah Riswari, mengaku tidak menemui kendala berarti. Hanya saja, siswi kelas XI-A ini mengaku sedikit terganggu dengan layar komputer yang berkedip-kedip saat mengerjakan mata ujian matematika. ”Jaringan internet lancar. Tetapi layar komputernya kok kedip-kedip. Kadang muncul warna hitam seperti mau mati,” kata Diah. (cr1/ton)