BENCANA LONGSOR : Kondisi kantor Balaidesa Curugmuncar yang rusak setelah tertimpa material longsor dari curug yang digunakan PLTA Desa Curugmuncar. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BENCANA LONGSOR : Kondisi kantor Balaidesa Curugmuncar yang rusak setelah tertimpa material longsor dari curug yang digunakan PLTA Desa Curugmuncar. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Lantaran curah hujan tinggi dan debit air terjun yang digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sangat besar, pipa saluran air tidak mampu menahan luapan air terjun, Senin (27/2) kemarin. Akibatnya, tanggul penahan pipa air terjun PLTA jebol.

Akibatnya, talud yang berada di atas Kantor Balaidesa Curugmuncar dan Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kecamatan Petungkriono, tertimpa longsor dari pipa PLTA yang berada di atasnya. Dua jendela dan pintu kantor Balaidesa Curugmuncar rusak, material longsor dan air masuk ke dalam kantor balaidesa. Material tanah longsor yang menimpa PAUD, menyebabkan kerusakan semua peralatan dan tempat bermain anak.

Beruntung bencana longsor tersebut terjadi pada Senin (27/2) dini hari, sebelum aktivitas kantor balaidesa dan sekolah PAUD dimulai. Kini, aktivitas belajar mengajar di sekolah PAUD terpaksa diliburkan.

Camat Petungkriono, Agus Purwanto, mengungkapkan bahwa  bencana longsor yang menimpa sekolah PAUD dan kantor Balaidesa Curugmuncar tersebut, disebabkan curah hujan yang tinggi. Sehingga air hujan yang mengalir pada curug yang digunakan warga untuk pembangkit PLTA meluap.

Menurutnya, tingginya curah hujan juga tidak mampu menampung saluran air yang menampung curahan air dari curug yang digunakan untuk menjalankan turbin PLTA. Sehingga beberapa saluran air sempat rusak dan tanggul yang menahan saluran tersebut tidak kuat menahan beban curahan air curug.

“Tidak ada korban jiwa, hanya kerugian peralatan tempat bermain pada sekolah PAUD yang rusak. Sedangkan kantor Balaidesa Curugmuncar hanya meja dan kursi kantor rusak serta beberapa dokumen basah tertimpa longsor, namun semua bisa diselamatkan,” ungkap Agus Purwanto.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, Bambang Djatmiko mengatakan bahwa bencana tanah longsor yang menimpa kantor balaidesa dan sekolah PAUD langsung diperbaiki dan dibuat tanggul baru agar bisa tetap digunakan untuk pelayanan.

Demikian juga dengan sekolah PAUD, BPBD telah memberikan bantuan perbaikan. Sehingga aktivitas belajar mengajar siswa PAUD dapat berjalan dan tidak terganggu adanya bencana longsor. “BPBD langsung memberikan bantuan pagi harinya. Rencana besok, sekolah PAUD sudah bisa digunakan, demikian juga dengan kantor balaidesa, pintu dan jendela juga sudah diperbaiki,” kata Bambang Djatmiko.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Pekalongan, AKP Aries Tri Hartanto, menjelaskan bahwa ada 20-an anggota Polsek Petungkriono dan puluhan warga desa yang dikerahkan untuk membersihkan kantor balaidesa dan sekolah PAUD. “Atas laporan Camat Petungkriono, bencana longsor yang menimpa kantor balaidesa dan sekolah PAUD tidak ada korban jiwa, hanya kerugian material saja sebesar Rp 20 juta, yakni rusaknya tempat bermain, meja kursi dan beberapa jendela yang rusak,” jelas AKP Aries Tri. (thd/ida)