Lebaran, Tol Dibuka Satu Arah

Jalan Tol Batang-Semarang

611
Sumber: BPJT
Sumber: BPJT

SEMARANG – Jalan Tol Batang-Semarang sepanjang 74,2 Km dipastikan bisa dioperasikan saat mudik Lebaran tahun ini. Hanya saja, tol yang tengah dikebut pengerjaannya ini kemungkinan hanya difugsikan satu arah.

Kepala Bidang Pendanaan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Arif Haryono, mengatakan, tol Batang-Semarang sengaja dibuka untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di jalur Pantura saat arus mudik. Hanya saja, kondisi fisik jalan tol masih belum sempurna, dan hanya bisa digunakan satu jalur saja.

Dijelaskan, saat arus mudik nanti dari arah Batang menuju Semarang yang hanya bisa dilalui kendaraan. Sebaliknya, saat arus balik, jalan tol baru dibuka dari Semarang menuju Batang.

”Tidak mungkin dua arah diterapkan sekaligus, karena proses pengerjaan masih belum selesai. Tol ini juga sebatas fungsional saja. Jadi, pengendara bisa lewat tanpa pengenaan tarif alias gratis,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/2).

Arif menuturkan, pengerjaan tol yang menjadi bagian Trans Jawa ini terkendala cuaca. Hujan yang turun nyaris setiap hari ini sangat mengganggu konstruksi. Sebab, tanah yang basah, dinilai rawan jika dikerjakan. Meski begitu, pihaknya optimistis bisa selesai tepat waktu sesuai target yang dipatok Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang bisa digunakan saat mudik Lebaran 2017.

Selain terkendala cuaca, pembebasan lahan juga menjadi batu sandungan percepatan pengerjaan jalan tol. Sebab, dari hitungannya, butuh dana sekitar Rp 5,8 triliun untuk untuk membayar lahan milik warga yang terkena dampak tol sepanjang 75 kilometer ini.

Padahal, pengadaan lahan jalan tol hanya disiapkan Rp 4,7 triliun yang bersumber dari Anggaran Pembangunan Belanja Negara (APBN). Tapi, seiring perjalanannya biaya itu kian bertambah seiring kebutuhan luasan lahan yang diperlukan. Untuk penambahan total biaya itu, pihaknya masih mempersiapkan penandatanganan amandemen biaya dari Rp 4,7 triliun menjadi Rp 5,8 triliun.

”Ketika pembebasan lahan sudah 70 persen, ternyata kebutuhan anggaran pembebasan lahan membengkak. Sekarang pengadaan lahan sudah hampir 100 persen,” cetusnya.

Dari lima seksi di ruas Semarang-Batang, total pengadaannya cukup bervariatif. Pada seksi I sudah 100 persen, seksi II mencapai 94 persen, seksi II sudah 46,09 persen, seksi IV sudah 33,27 persen, dan seksi V di kawasan Semarang mencapai 94 persen. ”Khusus seksi V di Semarang, anggaran pembebasan tanahnya mencapai Rp 2,7 triliun,” bebernya.

Dia mengakui, proses pengadaan lahan di ruas Semarang-Batang memang tidak terlalu berat. Kebanyakan warga terdampak tidak ada yang protes, karena sudah ada sosialisasi pembangunan tol jauh-jauh hari. Yang rumit hanya pembebasan tanah kas desa, tanah wakaf, tanah instansi, dan fasilitas umum (fasum). ”Tapi itu semua sudah klir. Warga juga mau merelakan tanah mereka karena sistemnya adalah ganti untung,” ucapnya.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang, Jonahar, mengapresiasi langkah BPJT yang sangat cepat melakukan pembebasan lahan untuk ruas Semarang-Batang. ”Hari ini (kemarin, Red) kami berikan ganti untung kepada 17 warga Ngaliyan, Semarang dengan total ganti untung senilai Rp 18 miliar,” katanya.

Khusus jalan tol Trans Jawa dari Brebes hingga Sragen, ditargetkan selesai akhir 2017 mendatang. Dengan begitu, pengadaan lahan Batang-Semarang yang akan tersambung ruas Semarang-Solo harus dipercepat dengan maksimal.

”Kami optimistis Lebaran nanti  jalan tol Jakarta-Semarang sudah bisa dilalui. Total 94 persen lahan di Kota Semarang kini sudah terbebaskan. Maka Februari-Maret bisa selesai seluruhnya,” ujarnya.

Dia juga menyatakan dengan kerelaan warga melepas status kepemilikan tanah untuk tol, akan mempercepat pembangunan yang tujuannya melancarkan arus barang dan jasa.

Warga RT 1 RW 9 Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Jajuri, yang warungnya terkena dampak tol mengatakan, penggantian yang diterimanya Rp 4 juta per meter. ”Luas tanah saya 150 meter persegi, saat ini bersiap mencari kontrakan untuk usaha lagi,” terangnya.

Dia mengaku untuk warga secara individu tidak ada masalah, tapi dia berharap agar status Masjid Baitul Mustafiri segera mendapat kejelasan.

Ditambahkan, berkas masjid yang berada di tanah wakaf tersebut sudah berada di KUA Ngaliyan. ”Kami minta Badan Wakaf Indonesia segera memproses berkas tersebut agar lokasi masjid baru segera ditentukan dan pembangunan masjid segera dilaksanakan,” harap Jajuri. (amh/aro/ce1)