MENGANCAM RUMAH: Talud setinggi lebih dari 10 meter di halaman rumah Suparti, warga Desa Trayu RT 01 RW 01 Sumowono ambrol hingga menutupi akses jalan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGANCAM RUMAH: Talud setinggi lebih dari 10 meter di halaman rumah Suparti, warga Desa Trayu RT 01 RW 01 Sumowono ambrol hingga menutupi akses jalan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Bencana tanah longsor masih menghantui wilayah Kabupaten Semarang. Kali ini, terjadi di Desa Trayu, Kecamatan Sumowono. Bahkan dalam sehari, desa ini diterjang lima titik longsor. Longsor terparah terjadi di RT 01 RW 01 Dusun Trayu, Desa Trayu. Talud rumah warga setinggi lebih dari 10 meter ambrol lantaran tidak mampu menahan tingginya debit air hujan. Meski tidak langsung mengenai rumah warga, longsor tersebut melumpuhkan aktivitas warga setempat.

Suparti, 45, warga Dusun Trayu, mengungkapkan, longsor terjadi pada Sabtu (25/2) malam. Hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut. Akibatnya, talud yang berada di depan rumahnya ambrol hingga menutupi badan jalan. “Kita khawatir longsor menjalar sampai ke rumah saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/2).

Sebelum terjadi longsor, sebenarnya Suparti sudah memiliki firasat. Cor-coran halaman rumahnya retak sepanjang hampir 9 meter. Setiap hujan turun, retakan semakin melebar. Posisi rumah Suparti yang berada di atas tebing membuat dirinya waswas.

“Ternyata benar, Sabtu malamnya longsor,” ujarnya.

Saat longsor, ia dan keluarganya langsung bergegas menyelamatkan diri. Ia mengungsi ke rumah saudara. Selain menutup akses jalan utama, material longsor juga menutup sebagian teras Kantor Kepala Desa Trayu. Kebetulan letak kantor kepala desa berada di bawah tebing, dan berhadapan persis dengan rumah Suparti. Untung, dalam peristiwa tersebut tidak sampai menelan korban jiwa. Namun bagian atas tebing yang longsor kini hanya berjarak 1,5 meter dari rumah Suparti. Hal itu  membuat ia dan keluarganya semakin waswas apabila terjadi longsor susulan.

“Ya, kalau nanti hujan lebat lagi ,ngungsi ke rumah saudara,” tuturnya.

Kepala Desa Trayu, Suyitno, 47, mengatakan, selain di RT 01 RW 01, longsor juga terjadi di RT yang lain. “80 persen yang longsor tebing hingga menutupi akses jalan,” katanya.

Sehingga kondisi tersebut sempat melumpuhkan aktivitas warga. Akses utama keluar desa tertutup material longsor.

“Minggu pagi kami kerja bakti bersama warga membersihkan material longsoran, karena menutupi jalan,”ujarnya.

Akibat bencana longsor di lima titik, total kerugian mencapai Rp 100 juta.

Ia mengakui, letak geografis Desa Trayu yang berbukit dan banyak tebing terjal membuat wilayah tersebut rawan akan bencana longsor. Apalagi saat hujan deras mengguyur.

“Untuk itu, kita akan anggarkan perbaikan melalui anggaran dana desa, dan ini masih kita konsultasikan dengan BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” katanya.

Ia juga berharap peran dari Pemkab Semarang dalam melakukan perbaikan untuk wilayah yang ada titik longsornya. “Seminggu ini curah hujan tinggi, akibatnya terjadi longsor,” ujarnya. (ewb/aro)