33 C
Semarang
Kamis, 9 Juli 2020

Satria Teguh Santosa, Alumnus Undip yang Tekuni Bisnis Laundry Sepatu

Pernah Mengganti Sepatu Baru Seharga Rp 600 Ribu

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Jasa laundry pakaian sudah marak. Tapi, laundry sepatu boleh dibilang masih relatif jarang. Peluang bisnis itu ditangkap Satria Teguh Santosa dengan membuka jasa laundry sepatu dengan brand Clean Your Shoes. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

IDE Satria Teguh Santosa membuka laundry sepatu berawal dari hobinya mengoleksi sepatu Sneaker sejak masih kuliah di jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro (Undip). Saat itu, setiap mencuci sepatu, ia menggunakan sabun colek ataupun detergen. Sepatunya memang menjadi bersih. Namun lama-lama warna sepatunya memudar dan makin rusak. Ia pun mencari tahu tentang masalahnya itu.

”Selain itu, saat di kampus, saya lihat sepatu teman-teman kok pada kotor dan kayak nggak peduli gitu. Saya pikir ini bisa jadi peluang usaha,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia lantas mencoba melihat ke tempat laundry konvensional pakaian. Beberapa temannya yang sempat mencucikan sepatu di sana mengeluhkan sepatunya jadi rusak. Sebab, metode pencuciannya dengan cara yang biasa, yakni asal sikat tanpa lihat bahan. Akhirnya, dia memantapkan diri membuka usaha khusus laundry sepatu. ”Saya mulai membuka usaha awal 2014. Nama brand-nya Clean Your Shoes. Nama itu saya temukan tanpa sengaja,” ceritanya.

Saat awal membuka usaha, yang pertama dilakukan adalah membuat akun Twitter tentang usaha jasanya itu. Setelah itu, ia diajak membentuk Indonesia Sneaker Team Regional Semarang. Di situ ia menjabat sebagai koordinator. ”Nah dari situ saya dapet banyak kenalan baru sesama pencinta sepatu Sneaker, terus mulai ada orderan hingga punya tim bisnis ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, dalam seminggu, ia menerima order hingga 20-30 pasang sepatu. Konsumennya akan meningkat ketika musim hujan. ”Untuk omzet, waktu awal dulu Rp 1 juta-Rp 2 jutaan, sekarang bisa sampai Rp 4 jutaan. Tapi masih habis buat beli bahan-bahan dan kebutuhan bisnis lagi,” katanya sambil tersenyum.

Pelanggannya tak hanya orang Semarang, tapi juga dari Solo, Jogja bahkan Kalimantan. Tarif yang ditawarkan disesuaikan dengan jenis treatment yang dilakukan. Beberapa treatment seperti deep cleaning  dihargai kisaran Rp 40 ribu-Rp 45 ribu per sepasang sepatu tergantung kotor tidaknya. Konsumen yang ingin sepatunya langsung dikerjakan atau fast cleaning bisa ditunggu 10-15 menit dihargai sebesar Rp 15 ribu-Rp 20 ribu.

”Tapi cara ngebersihinnya beda sih, kalau pengin yang ekspres tambah goceng. Terus ada unyellowing buat menghilangkan sol karet yang menguning, itu Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Repaint juga bisa, buat ganti warna gitu. Biayanya Rp 90 ribu sampai Rp 120 ribu,” bebernya.

Ia mengaku pernah gagal membersihkan sepatu pelanggannya dengan baik. Risikonya ia harus mengganti sepatu tersebut. ”Pernah gagal, terus ngganti seharga asli sepatunya. Harganya lumayan Rp 600 ribu, saya ganti full sebagai bentuk tanggung jawab,” kenangnya.

Kedua orang tuanya mendukung bisnisnya ini. Sebab, sang ortu sejak awal telah menyarankan dirinya untuk berwirausaha ketimbang menjadi karyawan perusahaan. ”Orang tua saya bilang, kalau punya usaha sendiri kan bebas. Kita ngatur dan punya andil di situ. Lebih baik jadi bos ayam ketimbang jadi bos kepala kerbau,” ucap cowok kelahiran Demak ini sambil terbahak. (*/aro/ce1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Gedung Baru Setda Dibobol

SALATIGA – Kemewahan dan keamanan gedung kantor Setda Kota Salatiga harus ternoda dengan aksi pencurian. Uang tunai lebih dari Rp 10 juta, 3 unit...

Kumpulkan Segudang Prestasi

Prestasi akademik maupun nonakademik sangat penting diraih oleh seluruh mahasiswa. Karena pada dasarnya prestasi itu merupakan salah satu bukti dan hasil dari apa yang telah dilakukan...

Libatkan Komunitas dalam Perencanaan

WONOSOBO - Puluhan komunitas di Wonosobo, Kamis (2/11) menggelar pertemuan di Ruang Mangunkusuma Setda Wonosobo. Mereka memberikan berbagai masukan terkait perencanaan pembangunan daerah. Kepala Bidang...

Bagi Takjil Sekaligus Kampanye Lalu Lintas

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Satlantas Polres Batang bagi-bagi takjil di halaman mako Satlantas setempat. Selain kegiatan rutin, bagi takjil juga difungsikan sebagai ajang silaturahmi antaranggota dan...

Tingkatkan PAD, Bupati Maksimalkan Aset

KAJEN–Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemkab Pekalongan sepakat melakukan kesepahaman bersama atau MoU (Memorandum Of Understanding) tentang konsultasi bisnis dalam pengelolaan barang milik...

Petani, Nelayan dan Manajemen Kampoeng Rawa Geruduk DPRD

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Ratusan orang yang mengatasnamakan nelayan dan petani serta manajemen objek wisata Kampoeng Rawa Ambarawa menggeruduk gedung DPRD Kabupaten Semarang, Senin (23/4). Kedatangan...