PERESMIAN: Anggota DPD RI Denty Eka Widi Pratiwi saat meluncurkan Wisata Alam Watu Layah. (AHZAN FAUZI/RADAR KEDU)
PERESMIAN: Anggota DPD RI Denty Eka Widi Pratiwi saat meluncurkan Wisata Alam Watu Layah. (AHZAN FAUZI/RADAR KEDU)

Kemunculan objek wisata alam Watu Layah di Desa Tlogopucang Kecamatan Kandangan Temanggung bukanlah tiba-tiba. Wisata alam di ujung utara Kota Temangggung itu tak lepas tangan dingin Roin, 41, warga desa setempat. Berkat tekad dan kegigihan Roin bersama 2 teman lainnya, yakni Atin, 25, dan Dhoni, 20, kini wisata yang menjual panorama alam terwujud.

Roin menceritakan, pada Desember 2016, tiap hari selalu ada wisatawan datang ke salah satu area hutan pinus di desanya. Dari situlah ia mulai berpikir, lokasi tersebut bisa dikembangkan jadi tempat wisata menarik. Namun kendalanya, lokasi tersebut berada di area milik Perhutani.

“Waktu itu saya memberanikan diri ke Perhutani, ketemu salah satu Mantri Perhutani di Magelang. Saya minta izin, hutan yang berisi pohon pinus milik Perhutani yang berada di Desa kami mau kami kembangkan sebagai objek wisata. Permohonan kami, Alhamdulillah dikabulkan,” ucap Roin di sela peresmian Alpodek Pesona Alam Watu Layah Tlogopucang, Minggu (26/2).

Setelah mendapat izin dari Perhutani, ia semakin mantap. Saat tahun baru 2017, tanpa disangka ribuan pengujung dari berbagai daerah berdatangan. “Waktu itu saya sempat kaget dan bingung. Setelah kita berembuk akhirnya bertepatan tahun baru itu kita launching,” kenangnya.

Bapak dua anak itu membeber, tamu-tamu yang datang berasal dari berbagai daerah. Seperti Kota Semarang, dari kota/kabupaten di wilayah Jawa Tengah, Jogja, Lampung, Bali dan Makassar. “Sebagain besar mereka, mengetahui pesona wisata alam Watu Layah Tlogopucang berasal dari medsos (media sosial), seperti facebook, twitter dan lainnya,” ungkapnya.

Di awal pendirian tempat wisata tersebut, ia rela berutang ke bank untuk modal membangun akses jalan, gapura dan fasilitas pendukung lainnya. “Di awal buka alas pendirian tempat wisata itu, saya rela utang ke beberapa bank sebesar Rp 12 juta. Uang itulah yang untuk modal pengembangan wisata,” akunya.

Seiring berjalanya waktu, tempat wisata sudah mulai ramai. Pemasukan dari penjualan tiket dan parkir sudah bisa untuk melunasi utang. “Rata-rata setiap harinya ada 300 pengunjung, kalau akhir pekan rata-rata 1.000 pengujung. Tiket masuk kita tarik per orang Rp 2.000. Pemasukan tiap hari rata-rata 600-700 ribu, untuk weekend bisa tembus 3 juta,” terangnya.

Rofi’i, 24, aktivis Karang Taruna Dusun setempat menuturkan, wisata ini dikelola oleh para pemuda Dusun Tlogopucang Tengah Desa Tlogopucang. “Saat ini ada 42 pemuda yang terlibat,” ucapnya.

Mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung itu berujar, banyak yang bisa dinikmati wisatawan dari objek wisata yang baru dirintis tersebut. Di antaranya panorama alam, gardu pandang, area outbond, camping, flying fox dan aneka mainan lainnya.

Para wisatawan juga bisa menikamati gurihnya alpodek atau alpukat badek. Cukup merogoh kocek Rp 5.000, para pengunjung bisa menikmati makanan khas Tlogopucang. Alpodek berasal dari buah alpokat masak yang dibelah dan diberi badek. Badek adalah air nira aren yang dimasak sebelum jadi gula aren.

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan Jateng Denty Eka Widi Pratiwi yang berkesempatan meluncurkan alpodek mengapresiasi para pemuda Karang Taruna desa setempat yang mempelopori tumbuhnya Pesona Wisata Watu Layah Tlogopucang. “Kami siap mendukung hadirnya wisata alam Watu Layah dengan menampilkan keunggulan lokal, seperti kreativitas dengan memunculkan alpodek. Kita harus terus menggalakkan local wisdom (kearifan lokal, red),” ucapnya.

Perempuan berjilbab itu menambahkan, pengelola wisata tak perlu malu menampilkan keunggulan lokal. Jangan terjebak gara-gara mengikuti permintaan pasar, lalu mengikuti tren asing dan meninggalkan unggulan lokal yang dimiliki. “Justru keunikan lokal ini yang bisa kita jual, justru seperti inilah bagian dari nguri-nguri potensi lokal yang kita punya,” jelas perempuan asal Temanggung itu. (san/ton)