Gugah Warga Peduli Kebersihan

426
PEDULI LINGKUNGAN: Gerakan pungut sampah yang dilakukan komunitas pecinta lingkungan di Kendal dan Imaken di Alun-alun Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI LINGKUNGAN: Gerakan pungut sampah yang dilakukan komunitas pecinta lingkungan di Kendal dan Imaken di Alun-alun Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDALPeringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Kendal cukup unik. Sejumlah komunitas pecinta lingkungan di Kendal dan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Kendal (Imaken) melakukann aksi pungut sampah.  Aksi bersih-bersih kota Kendal  tersebut dilakukan di Alun-Alun Kendal, Taman Garuda, Taman Kalireyeng dan Hutan Klorofil.

“Aksi ini sekaligus kampanye agar masyarakat yang melihat aksi kita tergugah hatinya untuk peduli akan kebersihan lingkungan sekitarnya,” kata Ketua Imaken, Maskin, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/2).

Dijelaskan, mengedukasi masyarakat untuk menjaga kebersihan dan mau mengelola sampah dengan benar, tidak hanya lewat kata-kata. Tapi, perlu tindakan dan aksi nyata, jika bersih-bersih itu keren dan menghasilkan sesuatu yang keren.

Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup hanya ditangani petugas kebersihan. Tapi harus melibatkan masyarakat aktif menjaga lingkungan agar bersih dan sehat.

“Yang terpenting justru masyarakat mau mengelola sampah dengan baik. Sehingga sampah-sampah rumah tangga tidak dibuang begitu saja. Tapi, bisa dipilah-pilah antara sampah organik dan unorganik, serta dikelola menjadi barang yang bermanfaat,” ujarnya.

Ahmad Noer dari Komunitas Peduli Lingkungan Kendal berharap, kegiatan ini tidak sekadar seremonial saja. Yakni, yang hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah yang hanya setahun sekali. “Tapi kalau bisa dilaksanakan terus-menerus setiap hari,” harapnya.

Selain pungut sampah, dalam aksi tersebut juga disosialisasikan ATM Sampah di beberapa tempat keramaian. ATM Sampah ini menerima masyarakat yang akan membuang sampah untuk ditukar dengan uang.  Per kilo sampah sesuai kategori tertinggi dihargai Rp 2.500. Tapi bagi anak-anak yang membuang sampah di kotak ATM Sampah, langsung diberi penghargaan berupa uang koin seribu rupiah.

Ketua Komunitas Bank Sampah Kendal, Nunuk Sarah Zaenubia, berharap, di setiap desa bisa mendirikan bank sampah. Melalui bank sampah yang dikelola desa itulah masyarakat bisa digerakkan untuk ikut mengelola sampah dengan baik.  “Masyarakat akan memilah-milih sampah sesuai jenisnya, kemudian bisa menjual sampah ke bank sampah atau memanfaatkan sampah untuk didaur ulang sendiri,” katanya. (bud/aro)