Dataran Tinggi Dieng Banjir

1268
BANJIR LAGI : Banjir merendam jalan raya di kawasan Dieng, Desa Patak Banteng Kecamatan Kejajar (kiri). Sampah-sampah berserakan setelah banjir di kawasan Dieng surut.
BANJIR LAGI : Banjir merendam jalan raya di kawasan Dieng, Desa Patak Banteng Kecamatan Kejajar (kiri). Sampah-sampah berserakan setelah banjir di kawasan Dieng surut.

WONOSOBO – Banjir bandang berlangsung merendam kawasan Dataran Tinggi Dieng, Minggu (26/2). Selama sekitar 2 jam, jalan raya di sepanjang pintu masuk kawasan (gapura) hingga Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar terendam air. Akibat banjir tersebut, sedikitnya 4 unit ruko milik warga mengalami kerusakan cukup parah. Selain merusak bangunan, akses jalan ke Dieng lumpuh total.

Salah satu warga yang tergabung dalam Relawan Wonosobo, Fahruddin menjelaskan, banjir bandang berlangsung sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Dugaan sementara, banjir akibat Sungai Serayu tidak mampu lagi menampung air hujan. Ditambah ada kiriman air plus material longsoran dari Gunung Prahu.

“Sebelumnya kan sudah hujan lama tapi belum banjir. Baru setelah dapat kiriman dari Gunung Prahu, sungai (Serayu) tak lagi mampu menampung air, terus meluap ke jalan,” katanya.

Dijelaskan, ketinggian banjir mencapai lutut kaki orang dewasa. Akibatnya, pengendara baik mobil maupun motor yang ingin ke Dieng tak bisa melintas hingga menimbulkan kemacetan panjang. Jalan yang menjadi akses utama ke Dieng lewat Wonosobo itu baru bisa dilalui pukul 16.00 WIB.

“Sekitar jam empat sampai setengah limaan baru bisa dilalui, walaupun harus jalan pelan karena masih banyak sisa material banjir di sepanjang jalan,” katanya.

Muhammad Alwi, 29, warga Parikesit yang hingga  pukul 18.30 WIB masih di lokasi menyampaikan, selain merusak 4 ruko, banjir tersebut juga menghanyutkan 1 mesin diesel milik petani, dan 5 kuintal bibit kentang dan pralon untuk mengairi lahan milik warga.

Dipaparkan pula, hujan lebat di area Dieng pukul 13.00 WIB juga mengakibatkan longsor di banyak titik. Di Gunung Prau, kata dia, terdapat 3 titik longsor yang bukan area permukiman warga. Selain itu terdapat longsor kecil yang menimpa jalan sepanjang jalan Dieng.

“Kalau yang longsor kecil sekitar jalan, sudah biasa. Setiap musim hujan pasti ada. Cuma yang ada di gunung Prau itu ada satu lokasi yang lumayan besar. Untung lokasi longsor (besar) jauh dari permukiman warga,” katanya.

Selain longsor dan banjir, tingginya intensitas hujan membuat senderan sungai Kalijaran sepanjang 30 meter dengan tinggi 3 meter ikut terbawa arus.  “Kerugian lumayan banyak sih. Cuma untungnya tidak sampai menelan korban jiwa seperti dulu (banjir 2011),” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Permana menjelaskan, banjir di Dieng akibat sungai Serayu meluap. Saat ini, intensitas hujan di wilayah hulu Sungai Serayu masih tinggi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan camat Kejajar dan kpala desa untuk mengantisipasi bencana yang lebih parah. “Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan hati-hati jika terjadi tanda bencana longsor dan banjir,” jelasnya. (cr2/ton)