33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Menilik Upaya Band Lokal Screaming School Tembus Kancah Nasional

Sindir Kekerasan di Dunia Pendidikan Lewat Lagu

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Kemajuan dunia musik di beberapa daerah seperti Solo, Jogjakarta, Surabaya, Bandung serta beberapa kota lainnya, ternyata tak diikuti Semarang. Ditengarai, ketertinggalan ini lantaran minimnya ruang publik bagi band lokal Semarang dalam mengembangkan diri, menunjukkan eksistensi, pamer skill atau unjuk kemampuan. Karena itulah, band Screaming School lebih memilih memasarkan karyanya secara indie. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

BAND beraliran music rock asal Semarang, Screaming School yang berdiri sejak tahun 2005 ini, digawangi oleh Jonerd Arjuna gitar dan vocal, Ricky Hary drum, dan Yudha Sastro bass. Di dunia music indie, band ini telah malang melintang di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Bahkan band asli Semarang yang mengidolakan Nirvana ini, telah mengeluarkan album. Dimana mulai dari proses produksi, rekaman, shooting video clip, serta pemasaran produk dilakukan secara swadaya yang dihimpun dari anggota band.

“Untuk menembus pasar nasional, kami cukup kesusahan. Saat ini, kami terganjal proses distribusi dan promosi. Padahal selama ini proses tersebut kami lakukan secara swadaya,” kata pentolan Screaming Schol, Jonerd Arjuna.

Ia mengungkapkan bahwa untuk menjalankan band tersebut harus diperjuangkan dengan ekstra keras. Apalagi, anak band di Semarang, belum bisa mengandalkan bidang musik sebagai pekerjaan utama. “Band ini pekerjaan sampingan, pekerjaan asli kami karyawan swasta. Gaji yang kami dapat pun selain untuk hidup, juga harus disisihkan untuk operasional grup band, mulai dari rekaman, biaya produksi sampai promosi. Sementara untuk promo, kami memanfaatkan hubungan pertemanan antarband,” jelasnya.

Disinggung perhatian pemerintah terhadap band asal Semarang, Jonerd hanya tersenyum. Jangankan perhatian kepada band lokal, ruang publik untuk band indie di Semarang pun terbilang sangat kurang. Bahkan, sama sekali tidak diperhatikan. “Itu bisa dilihat, jika ada band besar datang, band lokal tidak diundang untuk mengisi acara pembuka atau apapun. Eksistensi kami hanya sebatas pada manggung dari cafe ke cafe,” ucapnya.

Saat ini Jonerd mengaku setelah beberapa tahun vacum, band miliknya mencoba menjajal dunia musik dengan merilis karya baru dengan judul  Kegiatan Belajar Mengajar sebagai ajang pemanasan dan menunjukkan eksistensi bahwa band asal Semarang bisa bersaing dengan kota lain. Single yang juga disertai dengan video klip ini bercerita seputar masalah yang dijumpai di dalam dunia pendidikan. Untuk lagu kali ini, konsentrasi pada permasalahan penganiayaan yang masih terjadi di lingkungan sekolah maupun perkuliahan. “Tema dari lagu yang kami ciptakan sebagai sindirian banyaknya masalah kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Untuk detail tema lagunya diangkat dari sisi korban yang mengalami penganiayaan itu sendiri,” imbuhnya.

Meski begitu, pembuatan video clipnya, dilakukan secara profesional. Video tersebut disutradarai oleh Aldian Jack Kusni dan Jesta dengan durasi kurang lebih tiga setengah menit. Video tersebut banyak menampilkan adegan band, serta video visual yang menggambarkan sosok teraniaya secara fisik maupun verbal.

Dalam pembuatannya dirinya, sengaja menyelipkan pesan lewat tulisan bahwa kekerasan dan penganiayaan nyata terjadi di sekolah maupun lingkungan perkuliahan, tempat dimana seharusnya membangun karakter seseorang melalui pendidikan. “Lewat lagu dan video ini, selain ingin menghibur sekaligus untuk merangsang dan mengajak semua pihak mencari tahu dan mengenal lebih dalam tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya penganiayaan. Selain itu, mengenal tindakan apa saja yang termasuk dalam kategori penganiayaan, serta betapa pentingnya bagi korban untuk memiliki keberanian,” paparnya.

Dalam pesan tersebut, ia mengungkapkan harus ada keberanian agar tidak menjadi korban kekerasan. Dan otoritas sekolah akan membantu menghentikan praktik penganiayaan di kemudian hari. “Saat ini, banyak penganiayaan terjadi berkelanjutan bahkan turun temurun. Hal ini karena faktor ketidakpedulian dan masih bungkamnya korban dalam menguak atau mengungkap praktik penganiayaan,” katanya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sosialisasi Pajak, Dekati Komunitas Otomotif

SEMARANG - Pajak kendaraan bermotor yang meliputi pajak tahunan dan Bea Balik Nama kendaraan bermotor (BBNKB) selama ini masih menjadi sumber pendapatan andalan Provinsi...

Korban Puting Beliung Dibantu Asbes

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Salatiga memberikan bantuan kepada korban angin puting beliung di Mrican RT 08...

Hobi Bikin Orang Makin Pede

MAKE-UP boleh jadi senjata utama untuk mempercantik diri. Dengan make-up, kaum hawa bisa tampil lebih pede di depan umum. Karena itu, pemilik nama lengakap Shally Thalib ini mencoba...

Kembar Bagas Bagus Akan Bela Tim Sumut

MAGELANG– Pemain Timnas U-16 asal Magelang, si kembar Amiruddin Bagas Kaffa Arrizqi (Bagas) dan Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri (Bagus), resmi pindah dan melanjutkan ke...

Pasien Bisa Cek Ketersediaan Kamar RSUD

BATANG-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Batang atau RSUD Kalisari kini memiliki Sistem Informasi Ketersediaan Tempat Tidur Instalasi Rawat Inap. Calon atau keluarga pasien, bisa...

Pengelolaan Tanah Desa Sipait Disoal

KAJEN - Warga Desa Sipait, Kecamatan Siwalan, Kebupaten Pekalongan, mempersoalkan pengelolaan tanah desa yang disewakan kepada PT Intimix. Kepala desa dianggap tidak transparan. Oleh...