Menilik Upaya Band Lokal Screaming School Tembus Kancah Nasional

Sindir Kekerasan di Dunia Pendidikan Lewat Lagu

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

Kemajuan dunia musik di beberapa daerah seperti Solo, Jogjakarta, Surabaya, Bandung serta beberapa kota lainnya, ternyata tak diikuti Semarang. Ditengarai, ketertinggalan ini lantaran minimnya ruang publik bagi band lokal Semarang dalam mengembangkan diri, menunjukkan eksistensi, pamer skill atau unjuk kemampuan. Karena itulah, band Screaming School lebih memilih memasarkan karyanya secara indie. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

BAND beraliran music rock asal Semarang, Screaming School yang berdiri sejak tahun 2005 ini, digawangi oleh Jonerd Arjuna gitar dan vocal, Ricky Hary drum, dan Yudha Sastro bass. Di dunia music indie, band ini telah malang melintang di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Bahkan band asli Semarang yang mengidolakan Nirvana ini, telah mengeluarkan album. Dimana mulai dari proses produksi, rekaman, shooting video clip, serta pemasaran produk dilakukan secara swadaya yang dihimpun dari anggota band.

“Untuk menembus pasar nasional, kami cukup kesusahan. Saat ini, kami terganjal proses distribusi dan promosi. Padahal selama ini proses tersebut kami lakukan secara swadaya,” kata pentolan Screaming Schol, Jonerd Arjuna.

Ia mengungkapkan bahwa untuk menjalankan band tersebut harus diperjuangkan dengan ekstra keras. Apalagi, anak band di Semarang, belum bisa mengandalkan bidang musik sebagai pekerjaan utama. “Band ini pekerjaan sampingan, pekerjaan asli kami karyawan swasta. Gaji yang kami dapat pun selain untuk hidup, juga harus disisihkan untuk operasional grup band, mulai dari rekaman, biaya produksi sampai promosi. Sementara untuk promo, kami memanfaatkan hubungan pertemanan antarband,” jelasnya.

Disinggung perhatian pemerintah terhadap band asal Semarang, Jonerd hanya tersenyum. Jangankan perhatian kepada band lokal, ruang publik untuk band indie di Semarang pun terbilang sangat kurang. Bahkan, sama sekali tidak diperhatikan. “Itu bisa dilihat, jika ada band besar datang, band lokal tidak diundang untuk mengisi acara pembuka atau apapun. Eksistensi kami hanya sebatas pada manggung dari cafe ke cafe,” ucapnya.

Saat ini Jonerd mengaku setelah beberapa tahun vacum, band miliknya mencoba menjajal dunia musik dengan merilis karya baru dengan judul  Kegiatan Belajar Mengajar sebagai ajang pemanasan dan menunjukkan eksistensi bahwa band asal Semarang bisa bersaing dengan kota lain. Single yang juga disertai dengan video klip ini bercerita seputar masalah yang dijumpai di dalam dunia pendidikan. Untuk lagu kali ini, konsentrasi pada permasalahan penganiayaan yang masih terjadi di lingkungan sekolah maupun perkuliahan. “Tema dari lagu yang kami ciptakan sebagai sindirian banyaknya masalah kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Untuk detail tema lagunya diangkat dari sisi korban yang mengalami penganiayaan itu sendiri,” imbuhnya.

Meski begitu, pembuatan video clipnya, dilakukan secara profesional. Video tersebut disutradarai oleh Aldian Jack Kusni dan Jesta dengan durasi kurang lebih tiga setengah menit. Video tersebut banyak menampilkan adegan band, serta video visual yang menggambarkan sosok teraniaya secara fisik maupun verbal.

Dalam pembuatannya dirinya, sengaja menyelipkan pesan lewat tulisan bahwa kekerasan dan penganiayaan nyata terjadi di sekolah maupun lingkungan perkuliahan, tempat dimana seharusnya membangun karakter seseorang melalui pendidikan. “Lewat lagu dan video ini, selain ingin menghibur sekaligus untuk merangsang dan mengajak semua pihak mencari tahu dan mengenal lebih dalam tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya penganiayaan. Selain itu, mengenal tindakan apa saja yang termasuk dalam kategori penganiayaan, serta betapa pentingnya bagi korban untuk memiliki keberanian,” paparnya.

Dalam pesan tersebut, ia mengungkapkan harus ada keberanian agar tidak menjadi korban kekerasan. Dan otoritas sekolah akan membantu menghentikan praktik penganiayaan di kemudian hari. “Saat ini, banyak penganiayaan terjadi berkelanjutan bahkan turun temurun. Hal ini karena faktor ketidakpedulian dan masih bungkamnya korban dalam menguak atau mengungkap praktik penganiayaan,” katanya. (*/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -