SEMARANG-Kurang lebih sekitar 70 persen wilayah Jawa Tengah rawan bencana banjir dan tanah longsor. Bahkan, dalam kurun waktu hampir dua bulan terakhir di tahun 2017 telah merenggut korban 24 jiwa meninggal kecelakaan di air atau sungai yang disebabkan banjir.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang dari Basarnas Kantor SAR Semarang tercatat sudah 36 kasus kejadian bencana mulai awal Januari hingga Februari 2017 ini. Tercatat pada Januari ada 22 kejadian bencana dengan korban jiwa meninggal dunia 19 orang dan dinyatakan hilang 2 orang. Terbanyak didominasi meninggal kecelakaan di air yang mencapai 15 orang meninggal dunia. Sedangkan di perjalanan bulan Februari sampai sejauh ini tercatat 14 kejadian bencana. Jumlah korban 9 orang meninggal dunia, dan 2 orang dinyatakan hilang.

“Jadi macam-macam, korban ada yang memang terpeleset, ada juga aktivitas di air. Memacing dan nelayan. Ada juga yang terkena banjir bandang,” ungkap Kepala Basarnas Kantor SAR Semarang, Agus Haryono kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.
Agus mengakui, jumlah tersebut sangat tinggi dan diperkirakan akan terus meningkat. Menurutnya, dihitung secara rata-rata, di Jateng terjadi bencana setiap dua hari sekali selama Januari hingga Februari 2017. “Jadi, hampir 2 hari sekali ada kejadian. Apabila ditotal pengoperasian sudah 36 operasi. Apalagi ini belum genap tiga bulan, berarti kan tinggi,” tandasnya.

Agus menjelaskan, hampir 70 persen lebih wilayah Jateng rawan bencana. Di wilayah Pantura mulai Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Pemalang, Kendal Kota termasuk Kota Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan Jepara.

‚ÄúSetiap tahun pasti ada kejadian banjir, di situ, ada Sungai Lusi, jadi Pati, Jepara, Kudus rawan. Wilayah selatan, Cilacap, di situ ada Sungai Pemali dan di Banyumas ada Sungai Serayu. Kemudian Kebumen, Purworejo, Klaten, Sukoharjo, dan Solo juga rawan,” terangnya.

Selain bencana banjir, bencana tanah longsor juga mengancam daerah yang kontur geografisnya berada di dataran tinggi ketika intensitas curah hujan tinggi. Meliputi daerah Boyolali, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo dan Banjarnegara. “Kalau di wilayah utara Kudus di lokasi Muria. Termasuk Kota Semarang, wilayah atas ya Kecamatan Banyumanik, Gunungpati, dan Ngaliyan,” katanya.

Agus mengimbau kepada masyarakat untuk terus berhati-hati terhadap ancaman bencana baik tanah longsor maupun banjir. Selain itu, warga juga diminta aktif mewaspadai terhadap lingkungan, termasuk juga saling cek dan ricek kondisi lingkungan sekitar. “Aktif melapor ke instansi baik BPBD, Basarnas, maupun koramil kalau ada tanda tanda yang membahayakan. Pola hidup yang dekat dengan alam, tidak buang sampah sembarangan,” pesannya. (mha/aro)