Melongok Tubing Joglo Saran di Kali Blongkeng

Degdegan ketika Melewati Jeram Letter L

4435
PACU ADRENALIN : Aktivitas wisata tubing di Kali Blongkeng yang digelar Karang Taruna, Dusun Saran, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. (HANIF ADI PRASETYO/JAWA POS RADAR KEDU)
PACU ADRENALIN : Aktivitas wisata tubing di Kali Blongkeng yang digelar Karang Taruna, Dusun Saran, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. (HANIF ADI PRASETYO/JAWA POS RADAR KEDU)

SEPERTI dilakukan para pemuda Karang Taruna, Dusun Saran, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Sekumpulan pemuda menyulap Kali Blongkeng menjadi wisata alternatif tube rafting (tubing).

Berbeda dengan wisata arung jeram yang menggunakan perahu karet, tubing menawarkan sensasi mengarungi derasnya arus kali menggunakan ban dalam bus atau truk bekas. Satu ban hanya bisa dipakai satu orang saja.

Koordinator Tubing Joglo Saran, Andrianto, mengatakan, bantaran dan kali yang berhulu di gunung Merapi ternyata punya potensi luar biasa. Andri mengaku, idenya bermula ketika pada awal 2015, sebuah event organizer (EO) menemukan potensi yang harus segera digali.

Maka, pemuda setempat bersama EO bekerja sama dengan menawarkan wisata outbond di kawasan persawahan sekitar bantaran kali. ”Awal pertama, arahnya baru outbond trip education. Namun hanya berjalan lima bulan dan akhirnya vakum,” kata Andri.

Tepatnya pada November 2016, Andri memunculkan gagasan untuk menghidupkan kembali sebuah Kampung Wisata Mandiri. Bukan lagi membangkitkan wisata edukasi. Melainkan membanting stir dengan menghadirkan wisata tubing. Gagasan tersebut, ternyata disambut baik salah satu pelaku usaha rafting di Mendut. ”Mendut Rafting menghibahkan sejumlah ban dalam bekas yang kami gunakan sebagai modal dalam menjalankan usaha mandiri ini.”

Andri menuturkan, sekali perjalanan, wisatawan diwajibkan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih dua kilometer dengan durasi waktu dua jam. Selama perjalanan, wisatawan akan melintasi sedikitnya delapan sampai sepuluh jeram dari berbagai jenis. Salah satu yang paling menantang adalah jeram 90 derajat atau jeram letter L. ”Selain jeram yang menantang, keunikannya adalah alamnya. Utamanya, saat melewati tebing dan wadas-wadas berwarna kuning kecoklatan.”

Baru berjalan kurang lebih empat bulan, pemuda Karang Taruna sudah mampu mengumpulkan pundi-pundi pendapatan dari pengelolaan wisata tubing. Belum lagi, warga setempat turut kecipratan rezeki. Tidak sedikit wisatawan dari Magelang, Jogjakarta, Semarang, Bandung, hingga Jakarta menginap di rumah-rumah penduduk. Bahkan, saat menginap, masyarakat kompak memasak aneka kudapan sesuai pesanan wisatawan.

”Seperti ikan bakar, warga memancing di kolamnya sendiri. Kalau untuk pendapatan, sementara kita putar untuk menambah peralatan dan perlengkapan tubing, seperti ban, rompi dan helm. Sisanya untuk membayar guide.”

Ia tidak menampik, keberadaan Kampung Wisata Mandiri mampu mengentaskan pengangguran dan menambah pendapatan para pemuda.

Andri mengatakan, meski Dusun Saran merupakan bagian dari Dusun Ngawen, para pengelola Tubing Joglo Saren lebih memilih untuk menggarap sendiri. Meski, Tim Desa Wisata dari Pemerintah Dusun Ngawen juga memiliki usaha serupa dengan rute yang berbeda. ”Kami rasa tidak masalah. Sejauh ini juga tidak ada persaingan. Bahkan sering meminjam peralatan kalau ada yang kekurangan,” jawab Andri soal dualisme tubing di desanya.

Kepala Desa Ngawen, Daru Apsari, mengaku tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut. Daru mempersilakan jika Tubing Joglo Saren dikelola secara mandiri. Meski begitu, ia mengaku sudah berkali-kali mengajak Dusun Saran untuk bergabung.

”Saat kita ajak, selalu mendapat penolakan. Ya sudah tidak masalah. Tetapi perlu diingat, mereka tidak mengantongi izin dari pemerintah desa,” tegas Daru yang menjabat Kepala Desa Ngawen sejak 2013. (*/isk)