33 C
Semarang
Minggu, 7 Juni 2020

Gelar Wayang Binatang, Lestarikan Kearifan Lokal

Another

Didi Kempot: Bisa Tampil di Acaranya Mahasiswa Saja Saya Sudah Senang (16)

Di Jogjakarta, Didi Kempot berkonser, berkolaborasi, dan bertemu anak muda Papua yang fasih menyanyikan lagu-lagunya. Artis besar yang sama...

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga...

Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan (14)

Karya-karyanya yang sukses melewati semua demarkasi pendengar musik mengantarkan Didi Kempot pada persahabatan yang tak pandang bulu. Dari pengamen...

UNGARAN–Melestarikan kearifan lokal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kali ini, mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Desa Doplang Kecamatan Bawen menggelar pagelaran wayang binatang di desa tersebut.

Panitia pagelaran yang juga mahasiswa KKN, Desi Alimah mengatakan wayang binatang ini baru kali pertama dilaksanakan di Desa Doplang. “Ini pertama kali, namun dilaksanakan semua desa di Kecamatan Bawen. Sistemnya bergiliran, kali ini kita,” kata Desi, Jumat (24/2) kemarin.

Hampir sama dengan wayang pada umumnya. Wayang binatang hanya terbuat dari kertas yang menggambarkan figur binatang. Kemudian babi kecil digunakan sebagai cempurit atau pengapit wayang.

Figur binatang juga beraneka ragam. Mulai dari raja hutan yaitu singa, harimau, kancil, jerapah, kerbau, monyet, dan kura-kura. Juga digelar di tempat yang sederhana, dimana kain putih seukuran 1×2 meter untuk kelir atau background.

Selain itu, pelepah pisang yang digunakan untuk arena dan tempat menancapkan wayang juga tidak lebih dari 2 meter. Pagelaran kali ini dilakukan di rumah salah seorang warga di Desa Doplang.

Cerita yang dibawakan oleh dalang yang juga mahasiswa KKN berbeda dengan wayang pada umumnya. Karena lebih banyak menggambarkan cerita inspiratif dari legenda lokal Bawen. Seperti halnya cerita Babat Rawapening yang menampilkan tokoh utama yaitu diambil dari figur monyet.

“Jadi tokoh kepahlawanan, namun yang jadi figurnya binatang. Seperti halnya Hanoman kan monyet. Jadi wayang ini sangat pas dengan cerita lokal di sini,” katanya.

Sasaran dari pagelaran wayang binatang tersebut yaitu siswa SD. Pengenalan jenis kesenian wayang perlu dilakukan sejak usia dini. Setidaknya puluhan siswa SD dari wilayah setempat hadir dalam pagelaran wayang binatang tersebut. “Kami juga melibatkan pihak kecamatan dan desa dalam pagelaran ini,” tuturnya.

Sementara itu, Kades Doplang Supriyanto mengatakan selama ini cerita dan budaya kearifan lokal sudah mulai hilang dengan adanya tokoh-tokoh dari negara luar. Apalagi peran media televisi dalam hal penayangan tokoh luar intensitasnya sangat tinggi. “Disini ada tokoh Hanoman, yang sosoknya monyet. Ini sangat pas jika diajarkan ke siswa SD,” tuturnya.

Semakin banyak cerita dan tokoh luar yang diajarkan dan dipahami masyarakat lokal, lama kelamaan akan menggerus kearifan lokal itu sendiri. “Cerita asli di Indonesia yang dikemas dengan wayang binatang ke depan kami harapkan perkembangannya lebih baik,” ujarnya. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Didi Kempot: Bisa Tampil di Acaranya Mahasiswa Saja Saya Sudah Senang (16)

Di Jogjakarta, Didi Kempot berkonser, berkolaborasi, dan bertemu anak muda Papua yang fasih menyanyikan lagu-lagunya. Artis besar yang sama...

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga terus ingat satu nasihat dari...

Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan (14)

Karya-karyanya yang sukses melewati semua demarkasi pendengar musik mengantarkan Didi Kempot pada persahabatan yang tak pandang bulu. Dari pengamen sampai presiden. T.M. BAYUAJI-K. ULUM, BAYU...

Setan Sembunyi

Surabaya tidak lagi hanya merah. Tapi merah kehitaman. Pertanda wabah Covid-19 kian mengkhawatirkan. Apalagi ada berita medsos yang agak ngawur sebelumnya: Surabaya bisa seperti Wuhan....

Religiusitas dan Kedekatan Didi Kempot dengan Kaum Santri (13)

Ada sejumlah lagu Didi Kempot yang memperlihatkan sisi religiusitas maestro campursari itu, termasuk satu di antaranya yang belum sempat dirilis. Menurut para sahabat, yang...

More Articles Like This

Must Read

Blog Ustad Somad Palsu Sebar Isu PKI

JawaPos.com - ULAH penyebar hoax yang membawa-bawa nama Islam makin meresahkan. Terutama para pelaku bisnis yang menjadi publisher dari iklan berbasis CPM (cost per...

Lions Club Dieng Bantu Kacamata

WONOSOBO—Bakti sosial Mataku Jendelaku yang diinisiasi organisasi nirlaba Lions Club Wonosobo-Dieng kembali digelar. Sejumlah 138 pelajar SD dan SMP yang mengalami gangguan penglihatan berupa...

Libur Natal, Wisatawan Lawang Sewu Tembus 19 Ribu

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG –  Liburan Natal dan Tahun Baru 2018 membuat sejumlah tempat wisata di Kota Semarang membludak. Salah satunya adalah Lawang Sewu. Bangunan bersejarah...

Mahasiswa Jangan Lupakan 4 Pilar

SALATIGA -  Empat pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan  Bhinneka Tunggal Ika disebutnya sudah final dan menjadi pertahanan  bangsa. ...

Harga Per Kantong Darah Rp 370 Ribu

WONOSOBO—Harga per satu kantong darah sebagai ganti jasa pemeriksaan pengambilan dan cross matching (pencocokan dengan penerima darah) dari Palang Merah Indonesia Wonosobo sebesar Rp...

Pasutri Tewas Tertimbun Longsor Bencana di Mana-Mana

MUNGKID - Hujan deras yang terjadi Rabu (1/3) siang hingga petang menimbulkan banyak bencana di Kabupaten dan Kota Magelang. Tercatat ada tanah longsor, banjir...