KREATIF : Pagelaran wayang binatang yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UPGRI di Desa Doplang Kecamatan Bawen, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF : Pagelaran wayang binatang yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UPGRI di Desa Doplang Kecamatan Bawen, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Melestarikan kearifan lokal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kali ini, mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Desa Doplang Kecamatan Bawen menggelar pagelaran wayang binatang di desa tersebut.

Panitia pagelaran yang juga mahasiswa KKN, Desi Alimah mengatakan wayang binatang ini baru kali pertama dilaksanakan di Desa Doplang. “Ini pertama kali, namun dilaksanakan semua desa di Kecamatan Bawen. Sistemnya bergiliran, kali ini kita,” kata Desi, Jumat (24/2) kemarin.

Hampir sama dengan wayang pada umumnya. Wayang binatang hanya terbuat dari kertas yang menggambarkan figur binatang. Kemudian babi kecil digunakan sebagai cempurit atau pengapit wayang.

Figur binatang juga beraneka ragam. Mulai dari raja hutan yaitu singa, harimau, kancil, jerapah, kerbau, monyet, dan kura-kura. Juga digelar di tempat yang sederhana, dimana kain putih seukuran 1×2 meter untuk kelir atau background.

Selain itu, pelepah pisang yang digunakan untuk arena dan tempat menancapkan wayang juga tidak lebih dari 2 meter. Pagelaran kali ini dilakukan di rumah salah seorang warga di Desa Doplang.

Cerita yang dibawakan oleh dalang yang juga mahasiswa KKN berbeda dengan wayang pada umumnya. Karena lebih banyak menggambarkan cerita inspiratif dari legenda lokal Bawen. Seperti halnya cerita Babat Rawapening yang menampilkan tokoh utama yaitu diambil dari figur monyet.

“Jadi tokoh kepahlawanan, namun yang jadi figurnya binatang. Seperti halnya Hanoman kan monyet. Jadi wayang ini sangat pas dengan cerita lokal di sini,” katanya.

Sasaran dari pagelaran wayang binatang tersebut yaitu siswa SD. Pengenalan jenis kesenian wayang perlu dilakukan sejak usia dini. Setidaknya puluhan siswa SD dari wilayah setempat hadir dalam pagelaran wayang binatang tersebut. “Kami juga melibatkan pihak kecamatan dan desa dalam pagelaran ini,” tuturnya.

Sementara itu, Kades Doplang Supriyanto mengatakan selama ini cerita dan budaya kearifan lokal sudah mulai hilang dengan adanya tokoh-tokoh dari negara luar. Apalagi peran media televisi dalam hal penayangan tokoh luar intensitasnya sangat tinggi. “Disini ada tokoh Hanoman, yang sosoknya monyet. Ini sangat pas jika diajarkan ke siswa SD,” tuturnya.

Semakin banyak cerita dan tokoh luar yang diajarkan dan dipahami masyarakat lokal, lama kelamaan akan menggerus kearifan lokal itu sendiri. “Cerita asli di Indonesia yang dikemas dengan wayang binatang ke depan kami harapkan perkembangannya lebih baik,” ujarnya. (ewb/ida)